#puisi #sastra #intermezzo #loveindonesia #bahasaindonesia #sajak
(Ode untuk Sebuah
Ruang Publik di Kota yang Terlalu Teratur)
Di kota ini,
estetika disusun rapi seperti lego:
tiap cahaya terkurasi,
tiap kursi terpilih,
tiap daun yang tumbuh di pot
telah lebih dulu lulus seleksi visual
Langit-langit ini — bukan sekadar atap,
tapi semacam pernyataan
Bahwa di sini,
keindahan bukan kebutuhan,
melainkan simbol —
bahwa kamu telah sampai,
pada kelas yang tak perlu bertanya
“Bolehkah aku duduk di sini?”
Lampu-lampu itu,
seperti lentera kemewahan yang pura-pura sederhana,
berayun lembut bagai janji:
“Tenanglah…
Kami akan memelukmu,
asal kamu tahu caranya berpakaian,
berbicara,
dan diam dengan nada yang tidak salah.”
Ada tawa —
tapi tak semua tawa bisa diletakkan di sofa itu.
Ada kehangatan —
tapi tak semua tubuh cukup dikenali oleh AC
untuk tak menggigil di balik blazer bekas dan sepatu retak.
Ada seorang ibu,
berhenti di ambang pintu,
takut soles sepatunya menodai
karpet tempat seminar dan kopi eksklusif disajikan.
Anaknya menatap piano,
berpikir mungkin itu mainan besar —
tapi tangan kecilnya tak jadi menyentuh,
karena matanya sudah membaca batas tak tertulis
di udara yang terlalu sunyi
Temanku,
bukankah ini “ruang publik”?
Kata itu terdengar seperti undangan,
tapi terasa seperti seleksi alam
Dan engkau —
yang duduk dengan tenang sambil membaca jurnal,
pernahkah bertanya:
di mana tempat bagi yang tak punya keanggunan dalam bahasa?
Yang tak tahu memesan kopi dengan aksen yang cukup “internasional”?
Yang lebih sering menatap ketimbang ditatap?
Ruang ini indah, ya —
tapi keindahan seperti ini
terkadang menyimpan cermin:
yang hanya memantulkan wajah mereka
yang sudah lebih dulu dianggap layak tampil di katalog.
Maka aku menulis puisi ini bukan untuk mencela,
tapi untuk mengetuk.
Barangkali lampu-lampu itu bisa lebih rendah,
barangkali kursi-kursi itu bisa menyambut yang lelah,
dan bukan hanya yang terdidik,
terdidik dalam tata krama borjuis modern.
Karena ruang seharusnya adalah pelukan,
bukan penghakiman diam-diam dari langit-langit elegan
Ah, benua kita berbeda,
Kamu amat berjarak,
Lebih dari lintasan samudera luas dua puluh ribuan
kilometer dari katulistiwa.....
Sebait Sunyi dari Seberang Samudera
Karena ruang seharusnya adalah pelukan,
bukan penghakiman diam-diam dari langit-langit elegan.
Tapi lihatlah—
di sini, seindah ini ruangnya,
lampunya lembut, nadanya sopan,
dan... sepi
Sepi dari desakan. Sepi dari rakyat.
Sepi dari mereka yang bahkan tak tahu tempat ini ada.
Ah, benua kita berbeda.
Kamu terasa amat berjarak,
lebih dari sekadar dua puluh ribu kilometer dari khatulistiwa
Kamu jauh karena diam,
sementara negeriku…
ramai oleh teriakan yang tak sempat terjawab.
Di negeriku,
ruang publik bukan pelukan,
tapi seleksi alam yang dibungkus baliho kampanye.
Kursi-kursi di sana bukan untuk duduk,
tapi untuk disaksikan dari luar pagar
Di sini,
fasilitas dibuat untuk warga yang sedikit,
dengan standar yang tinggi,
tapi yang datang pun tahu diri untuk belajar
Di sana,
rakyatnya membludak,
pejabatnya melimpah,
tapi fasilitas?
Entah menguap bersama anggaran siluman dan seminar dadakan
Karena cahaya seharusnya adalah pelita,
bukan spotlight yang hanya menyinari
yang berjas, yang berlabel,
sementara lainnya cukup berdiri,
di luar kaca,
melihat, menelan, menyingkir
Karena indah tak harus eksklusif.
Karena publik seharusnya milik semua,
bukan hanya milik mereka yang fasih dalam etika meja bundar
Karena jika ruang benar-benar inklusif,
maka puisi ini akan gugur dengan sendirinya.
Tapi lihatlah, ia lahir.
Dan terus ditulis
Karena ada yang perlu terus kita ingatkan—
bahwa keadilan ruang,
bukan soal estetika,
tapi siapa yang boleh masuk
dan siapa yang ditinggal diam-diam
di balik pagar yang terlalu tinggi untuk disuarakan.
Karena cahaya seharusnya adalah pelita,
bukan spotlight yang memilih
siapa yang boleh bersinar,
dan siapa yang cukup berdiri saja,
di luar kaca
Karena indah tak harus eksklusif.
Karena publik seharusnya sungguh milik publik.
Karena jika ruang ini benar-benar inklusif,
maka puisi ini tak perlu pernah ditulis
Ah, benua kita berbeda,
Kamu amat berjarak,
Lebih dari lintasan samudera luas dua puluh ribuan
kilometer dari katulistiwa.....
Sebait Sunyi dari Seberang Samudera
(#sy Billund Dk, Scandinavia 01062025. 12.22)
