Login
Menghidupkan Makna Idul Adha di Era Krisis Iklim

Antara Spiritualitas, Pengorbanan, dan Ilmu Manajemen

#climatechange #HRM #eidadha

Oleh: Sri YusrianiSCM practitioner, Denmark, PhD student at GSB, USM Pulau Pinang Malaysia

Dalam sunyi yang bersahaja di perantauan, gema takbir Idul Adha menyentuh ruang batin yang paling dalam. Tak sekadar menjadi momen ritual tahunan, perayaan Idul Adha 1446 H di KBRI Kopenhagen telah menjelma menjadi ruang kontemplasi kolektif yang hangat, reflektif, dan penuh makna. Di tengah udara musim panas yang perlahan menghangat—seiring meningkatnya suhu global—peristiwa ini menjadi isyarat bahwa krisis iklim bukanlah sesuatu yang asing dari kehidupan beragama kita. Ia menyusup diam-diam ke dalam cara kita makan, berpindah, bahkan dalam cara kita beribadah dan merayakan hari besar.

Di balik pelaksanaan shalat Ied dan halal bihalal, tersirat kesadaran akan urgensi zaman: bahwa spiritualitas tidaklah cukup berhenti pada ritual, melainkan perlu menjejak pada tindakan dan pilihan hidup sehari-hari. Dalam khutbah yang disampaikan oleh Ustadz H. Anggana Mahendra, ST., Al-Hafizh, diangkat kembali ajaran klasik tentang pengorbanan, namun dibaca ulang dalam konteks kekinian. “Iman memerlukan pengorbanan”, ujarnya, bukan hanya sebagai pengulangan kalimat religius, tetapi sebagai seruan moral untuk menghidupkan nilai keikhlasan dan tanggung jawab ekologis dalam kehidupan modern.

Anggana Mahendra

Beliau yang merupakan alumni ITB Teknik Elektro Angkatan 2000 ini menekankan, bahwa “ketaatan dan keikhlasan di tengah ujian zaman bukan semata soal menuruti perintah spiritual, tetapi juga menata hidup agar berdampak positif bagi bumi, sesama manusia, dan generasi masa depan.” Pesan ini terasa sangat relevan, terutama bagi komunitas diaspora yang harus menavigasi identitas, spiritualitas, dan praktik kehidupan beragama di tengah masyarakat yang sangat sadar akan isu iklim dan keberlanjutan.

Perayaan Idul Adha yang identik dengan penyembelihan hewan kurban, dalam konteks ini, membuka diskusi lebih dalam tentang etika konsumsi dan tanggung jawab ekologis. Menurut data dari Food and Agriculture Organization (Mekouar, M2021), sektor peternakan global menyumbang sekitar 14,5% emisi gas rumah kaca, terutama dari produksi daging sapi dan kambing. Maka, momen ini menjadi relevan untuk merenungkan kembali cara dan skala kita berkurban: adakah ruang untuk memperhalus niat dan menata ulang metode, agar tidak hanya menunaikan ibadah, tapi juga merawat ciptaan-Nya?

Beberapa komunitas Muslim di Eropa telah memulai inisiatif kurban berkelanjutan, antara lain dengan menggandeng peternakan lokal beretika, mengurangi jarak distribusi, dan membagikan daging secara terorganisir agar tidak berlebihan atau terbuang. Praktik ini selaras dengan semangat maqāid al-sharī‘ah, terutama dalam menjaga kehidupan (if al-nafs) dan alam (if al-bi’ah). Seperti dikemukakan oleh Sadiq et al (2022), “Etika lingkungan dalam Islam memberikan kerangka hubungan antara ibadah dan tanggung jawab ekologis.”

Di balik kisah agung Nabi Ibrahim dan Ismail, terdapat dimensi manajerial yang sering luput dikaji: bagaimana nilai kepercayaan, visi jangka panjang, dan kesiapan menghadapi risiko menjadi bagian integral dalam pengambilan keputusan yang visioner. Dalam ilmu kepemimpinan kontemporer, ini dikenal sebagai moral foresight — kemampuan untuk memperkirakan dampak moral dari sebuah keputusan sebelum konsekuensinya datang. Ibrahim tidak hanya menjalankan perintah, tetapi menyiapkan hati dan keluarganya untuk menghadapi konsekuensi spiritual, emosional, dan sosial dari tindakannya. Ini adalah fondasi dari kepemimpinan visioner berbasis nilai (Russell & Stone, 2002).

Di tengah dunia modern yang kian kompleks dan didominasi oleh data, algoritma, dan metrik kuantitatif, nilai-nilai spiritual seperti keikhlasan dan pengorbanan terasa semakin asing dalam perumusan strategi organisasi. Namun, banyak penelitian terkini dalam sustainable leadership menunjukkan bahwa organisasi yang dibangun di atas dasar empati, transparansi, dan tanggung jawab sosial cenderung lebih tahan terhadap krisis, baik finansial maupun ekologis (Avery & Bergsteiner, 2011). Maka, makna kurban dalam konteks ini tidak lagi hanya simbolik, melainkan menjadi strategic ethic — bahwa keputusan manajerial yang baik harus bisa ‘berkurban’ dari sisi keuntungan jangka pendek demi keberlanjutan jangka panjang.

Refleksi ini terasa semakin relevan ketika kita melihat tren global tentang konsumsi berlebihan, overproduction, dan eksploitasi sumber daya alam yang tidak terkendali. Di sinilah spiritualitas Islam menawarkan koreksi sistemik. Prinsip wasatiyyah (moderat), zuhd (tidak berlebih-lebihan), dan barakah (nilai tambah yang bermakna) menjadi counter-narrative terhadap budaya hiper-konsumerisme. Sebuah riset dari Centre for Islamic Finance (Kalimullina & Orlov, 2020) menyimpulkan bahwa pendekatan etika Islam dalam ekonomi dan manajemen berpotensi besar mengurangi tekanan lingkungan jika diadopsi secara konsisten oleh komunitas Muslim global, termasuk diaspora.

Dalam praktik komunitas, nilai-nilai ini sudah mulai terlihat dari cara diaspora Indonesia di Denmark mengelola kegiatan keagamaannya. Misalnya, penggunaan media digital untuk menyebarkan khutbah secara daring, pembagian daging kurban melalui sistem kupon terkoordinasi, hingga upaya kolektif untuk meminimalkan sampah plastik dalam acara halal bihalal. Hal-hal kecil ini adalah bagian dari micro-transformation — perubahan kecil yang konsisten — yang jika diterapkan secara luas akan menghasilkan dampak ekologis dan sosial yang besar (Meadows, 2008).

Pada akhirnya, Idul Adha mengajarkan bahwa tidak ada keberlanjutan tanpa pengorbanan. Tidak ada keikhlasan tanpa kerendahan hati. Dan tidak ada iman yang hidup tanpa tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari. Di era krisis iklim dan ketidakpastian global, pesan ini menjadi semakin penting untuk direnungkan dan dihidupkan, tidak hanya di masjid dan mimbar, tetapi juga di ruang kerja, ruang keluarga, dan ruang keputusan publik. Perayaan Idul Adha bukan sekadar pengulangan ibadah tahunan, melainkan panggilan untuk menjadi manusia yang lebih bijak, lebih adil, dan lebih bertanggung jawab atas bumi yang kita warisi.

Di tengah berbagai perubahan global dan tantangan multidimensi, riset-riset mutakhir dalam bidang manajemen sumber daya manusia menunjukkan bahwa spiritualitas, makna pengorbanan, dan kejelasan nilai personal menjadi faktor penting dalam membentuk self-efficacy—yaitu keyakinan individu terhadap kemampuannya untuk menghadapi tantangan dan mencapai tujuan (Bandura, 1997). Dalam konteks perayaan Idul Adha, nilai-nilai tersebut bukan sekadar warisan naratif keagamaan, melainkan sumber energi psikis dan moral yang menopang resiliensi personal serta produktivitas kolektif. Ketika manusia mampu memaknai kerja dan hidupnya sebagai bentuk ibadah dan kontribusi terhadap keberlanjutan, maka tumbuhlah bentuk kepemimpinan baru yang tidak hanya berorientasi pada hasil, tetapi juga pada makna. Inilah panggilan zaman bagi kita semua: membumikan spiritualitas menjadi strategi hidup, menyatukan keberagamaan dengan keberdayaan, dan menjadikan pengorbanan bukan beban, melainkan bekal menuju perubahan yang lebih bernilai.

Happy learning, happy working and Happy researching!

Referensi

  • Avery, G. C., & Bergsteiner, H. (2011). Sustainable leadership practices for enhancing business resilience and performance. Strategy & Leadership39(3), 5-15.

  • Bandura, A. (1997). Self-efficacy: The exercise of control. Macmillan.

  • Drucker, P. F. (1974). Tasks, responsibilities, practices. New Yorks Row, 121-122.

  • Kalimullina, M., & Orlov, M. S. (2020). Islamic finance and food commodity trading: is there a chance to hedge against price volatility and enhance food security?. Heliyon6(11).

  • Kouzes, J. M., & Posner, B. Z. (2006). The leadership challenge (Vol. 3). John Wiley & Sons.

  • Luthans, F., & Youssef, C. M. (2004). Human, social, and now positive psychological capital management: Investing in people for competitive advantage.

  • Meadows, D. H. (2008). Thinking in systems: A primer. chelsea green publishing.

  • Mekouar, M. A. (2021). 15. Food and Agriculture Organization of the United Nations (FAO). Yearbook of International Environmental Law32(1), 298-304.Sadeq, A. H. M. (2020). Islamic Ethics and the Environment. Kuala Lumpur: IIUM Press.

  • Nasr, S. H. (1996). Religion and the Order of Nature (No. 167). Oxford University Press, USA.

  • Russell, R. F., & Stone, A. G. (2002). A review of servant leadership attributes: Developing a practical model. Leadership & organization development journal23(3), 145-157.

  • Sadiq, M., Nonthapot, S., Mohamad, S., Chee Keong, O., Ehsanullah, S., & Iqbal, N. (2022). Does green finance matter for sustainable entrepreneurship and environmental corporate social responsibility during COVID-19?. China Finance Review International12(2), 317-333.