Login
Dapatkah Kita Menjadi Profesional di Tengah Birokrasi Tak Terlihat?
Septimaris
Sriy

Refleksi dari Bang Capt *Septimaris
(Indonesia) & **Sri Yusriani (Denmark), Alumni MM UT

Misteri Indah di Balik Rasa dan Struktur Institusi Pendidikan Tinggi

Di suatu sudut yang jauh dari podium dan mikrofon resmi, terdengar bisikan
yang mengandung ketegasan — suara hati para mahasiswa pascasarjana yang tidak
sedang berorasi, tapi merenungi. Mereka tak bersuara lantang, namun menyusun
kalimat dengan seksama. Mereka tak menunjuk siapa-siapa, tapi menyentuh sesuatu
yang kita semua tahu: rasa tidak jelas dalam sistem yang seharusnya mendidik
dengan terang.

 Empat Bayang-Bayang yang Tak Selalu Terlihat

Di balik lembaran transkrip, proses kritis semester akhir hingga Yudisium dan
berita wisuda, ada yang sering tak disebut, tapi terasa:


  1. Kepentingan yang bercampur dengan jabatan


  2. Ego yang menyusup dalam ruang pengambilan keputusan


  3. Sistem yang ada tapi tak selalu hadir ketika dibutuhkan


  4. SOP yang terdengar indah tapi jarang tampak nyata di lapangan

Empat hal ini bukan monster, bukan pula mitos. Mereka bukan masalah besar
secara administratif, tapi cukup untuk menenggelamkan kapal semangat banyak
pelajar alias mahasiswa Sekolah Pascasarjana yang merupakan para pekerja profesional tersebar dari seluruh pelosok Indonesia dan di 17 negara lainnya, bahkan sebelum mereka berlayar.

Pendidikan Tanpa Kompas: Metafora Sebuah Ketidakpastian

Bayangkan sistem pendidikan kita adalah sebuah kapal besar, megah dan penuh
penumpang. Tapi tak ada kompas. Tak ada komunikasi antara ruang kendali dan
kabin bawah. SOP hanya menjadi jargon di selebaran yang tak pernah dibaca ulang.

Apakah kita sedang belajar? Ya. Tapi kita juga bertanya-tanya: ke mana arah kapal ini sebenarnya? Siapa yang mengatur arahnya, dan siapa yang mendengar suara kita di geladak bawah?

Dingin yang Tidak Dingin: Ketika Reputasi Tak Terdengar Hancur

Dear besties, Kakak...
Abang, Ini yang semua mahasiswa rasakan di Indonesia ini. Bukan soal
tesis atau nilai, tapi soal rasa dihargai dan didengar sebagai bagian dari
sistem Pendidikan kita. Ada apa dengan jadwal BTR1 yang lama, ada apa dengan
ketidak-kompakan antara Pimpinan daerah dengan Prodi pusat, ada apa dengan proses
lambatnya tanda tangan basah setelah revisi TAPM, Ada apa pula dengan proses
penomoran ijazah yang bisa memakan waktu dua semester?! Sesak dada, sakit dan
pilu ditanggung sendiri oleh para mahasiswa…. ", kalimat-kalimat kecewa
berulang namun yakin, pembenahan terus berproses. 

Institusi bisa kehilangan namanya bukan karena gagal mencetak ilmuwan, tapi karena gagal
menanamkan kepercayaan. Bukan karena kurikulum yang buruk, tapi karena
ketidakteraturan yang membuat mahasiswa merasa tak dihargai sebagai manusia
dalam sistem yang seharusnya inklusif dan mendidik.

Banyak yang tidak protes. ”Karena kita mahasiswa, kita di bawah para dosen....,”

Banyak yang tidak tahu harus bicara kepada siapa.... ”Karena interaksi adalah PJJ, kita terpisah jarak dan waktu,”

Banyak yang akhirnya diam — dan pasrah. Lelah, miskomunikasi dan misintrepretasi telah dahsyat terjadi, terutama bagia para angkatan pandemic global.

“Bukan karena malas berjuang, tapi karena terlalu lama menunggu arah yang tak kunjung muncul.”

Refleksi untuk Kita Semua: Bukan Salah Siapa, Tapi Panggilan untuk Berubah

Tulisan ini bukan untuk menyalahkan. Ini bukan kisah satu orang, tapi rasa
yang mungkin pernah menyentuh banyak hati.

~ Mungkin kamu salah satunya.

~ Mungkin kamu bagian dari sistem itu.

~ Mungkin kamu justru punya kekuatan untuk mengubahnya.

Karena itu pertanyaan tetap berlaku:

“Dapatkah kita menjadi profesional di tengah birokrasi
yang tak terlihat?”

Atau...

“Beranikah kita menciptakan kompas baru agar kapal ini kembali punya arah?”

"Suatu saat nanti, mungkin kita tak hanya menjadi mahasiswa atau dosen. Tapi menjadi pemimpin negeri yang berani membuat keputusan yang lebih manusiawi.

.... semoga, saat hari itu tiba, kita tak lagi bicara tentang 'siapa yang
salah'—melainkan tentang 'apa yang mesti kita perbaiki bersama'."

Disampaikan dan ditulis sebagai refleksi kolektif oleh Suara hati alumni, FORKOMPROMI

Tidak mewakili pengalaman pahit per- individu, melainkan suara yang lahir dari diskusi ilmiah, pengamatan, kesadaran, dan empati bersama. Mari terus berbenah,
"Kalau masalahnya sederhana, mengapa dampaknya terasa begitu besar?"

*AKP Septimaris, S.E., M.M. adalah alumni berprestasi MM
UT Unggul, saat ini bertugas sebagai Kapolsek Kundur, Polres Karimun Polda
Kepulauan Riau.

**#sriysarah
Graduate School of Business, Riset Kak Sarah tentang Global Strategic
Organizational Behaviour dalam Creativity and Entrepreneurship serta Community
Empowerment, USM – HRM practitioner, Denmark. 

Alumni
SPs-UT, Wisudawan terbaik dan mahasiswa inspiratif 2023/2024.

Penulis
juga merupakan Tutor/ Dosen Pengampu pada Mata Kuliah Manajemen Operasi Jasa,
Operations Research - FEB Universitas Terbuka.