Login
Seberapa Panas Lagi Bumi Kita di Esok Hari? What should we do, dear?

Oleh: *Sri Yusriani

| How Much Hotter Will This Planet Get?

Catatan akademik,
lingkungan, dan empati antar generasi


Mei 2025: Bulan Mei Terpanas Kedua dalam Sejarah Global

Semester lalu, Saya berada di Pulau Penang Malaysia dan Beberapa Kota
Indonesia, Adaptasi yang luar biasa, sebab sudah terbiasa berjaket tebal dengan
suhu dingin di Denmark. Ragam hal lebih spesifik di area kampus, ternyata amat
jauh berbeda dengan prediksi sebelumnya. Cuaca panas luar biasa, mayoritas
mahasiswa atau pelajar membawa payung dan atau bertopi ketika berada di luar
rumah. Puluhan teman internasional mengalami alergi, entah di air-nya, atau
dengan kondisi udara, ”Pokoknya nyesssss banget, subhanallah ujian adaptasi di
atas bumi kita ini...”
(Acharya et al., 2023; Kasting et al.,1988; Molina
et al.,
2025).

”Apalagi sekarang sist, Maret sampai Mei ini, lebih panas
banget suhu disini....” text WA salah satu rekan penelitianku, di Penang dan
KL. 

Apakah musim panas terasa lebih menyengat dari tahun-tahun sebelumnya? Data
terbaru dari Copernicus Climate Change Service (C3S)—sebuah lembaga ilmiah Uni
Eropa—mengonfirmasi bahwa Mei 2025 adalah bulan Mei terpanas kedua dalam
catatan sejarah iklim dunia, dengan suhu rata-rata global 1,4°C lebih tinggi
dibandingkan era pra-industri (Tollefson, 2020; Wiens & Zelinka, 2024).

May
2025 recorded global surface temperatures 1.4°C above pre-industrial levels,
making it the second-warmest May in recorded history (C3S, 2025). This extreme
warming event severely affected regions in Asia, Africa, and the Arctic.

Mixed
momentum” dalam respons global terhadap perubahan iklim tidak hanya soal
kebijakan yang berbeda arah, tapi juga mencerminkan ketidaksamaan komitmen
antar bangsa dalam menanggapi krisis yang sama.

Meskipun
suhu global Mei 2025 masih ekstrem, ini menjadi bulan pertama dalam hampir dua
tahun yang berada di bawah ambang batas 1,5°C—batas simbolik dalam Paris
Agreement
yang diharapkan menjaga planet tetap layak huni. "Hope
whispers through data, but action must echo in daily life."
(Al
Jazeera, 2025).

Namun
respons global terhadap sinyal positif ini tidak seragam:

  • Uni Eropa dan Tiongkok memperketat regulasi emisi,

  • Vietnam mulai menguji sistem perdagangan karbon industri (Thang et al., 2024),

  • Amerika Serikat justru melonggarkan beberapa kebijakan iklim strategis.

This uneven reaction—what scholars call “asymmetric climate governance”—creates a
gray zone in accountability, as previously described by Clark et al (2022) and
Agus et al (2023).

"Ketimpangan
komitmen lintas wilayah memperburuk kerentanan ekologis, khususnya di negara
berkembang."

It's getting hot lately

Ibarat Satu Rumah yang Terbakar, Tapi Penghuninya
Bereaksi Beda

Bayangkan sebuah rumah besar, dihuni oleh banyak keluarga. ”Kita sama-sama
di tas bumi-Nya, namun para pemimpin negeri yang berbeda ego, maka beda pula
reaksinya...”, Api mulai membakar dari satu sisi. Sebagian langsung mengambil
air, sebagian lain sibuk berdiskusi, sebagian lagi mengira ini hanya mimpi
buruk yang akan reda sendiri, ”menganggap bisa cuek saja”. Itulah dunia saat
ini: satu planet terbakar, tapi tidak semua penghuninya bereaksi dengan urgensi
yang sama.

Namun, harapan tak padam. Dalam kekacauan, kesadaran publik terus tumbuh—meski
perlahan:

  • Di Jakarta, warga mulai menuntut lebih banyak ruang hijau dan perlindungan pohon tua, setidaknya memulai dari diri sendiri dan keluarga dekat.

  • Di Hà Ni dan Jepang, pelajar-pelajar menyusun climate journal sekolah untuk merekam cuaca ekstrem.

  • Di Bandung, komunitas masjid memasang panel surya dan mengadakan eco-khutbah.

  • Di Berlin, supermarket lokal kini mewajibkan label jejak karbon pada setiap produk segar.

  • Di Malaysia, kebiasaan para pelajar membawa lunch box & botol air minum masing-masing ketika bepergian juga kian meningkat.

  • Jangan tanya di wilayah Grindsted Denmark, yang diteladani para negara tetangga, sudah lebih dari lima generasi merasakan ”keindahan recycle”, mengelompokkan sampah dan mempelajari seni daur ulang di lintas usia, lintas sektor, serta meningkatkan kreativitas para pelajar sejak dini untuk mengutamakan penggunaan barang-barang layak pakai dalam pasar lokal~dibandingkan melirik produk import dan tidak merupakan kebutuhan primer. Bisa pula dipastikan, jarang banget lihat Warga Denmark yang tidak bersepeda. 

Tindakan-tindakan kecil ini (Kelana & Utha, 2025; Fajriyah et al., 2023; Molina et al., 2025), seperti tetes air dalam kebakaran, mungkin tampak sepele. Tapi jika dilakukan bersama, ia bisa menjadi ombak penyelamat bagi bumi
yang lelah.


Mari rajin mengevaluasi kebiasaan diri dan keluarga, Apa yang Bisa Kita
Lakukan? Apa tanda kita peduli? Jawabannya bukan hanya di kebijakan besar,
jangan ”menanti petinggi dan pihak penguasa yang sepanjang zaman fokus pada
kursi rebutan”, tapi juga perhatikan di kebiasaan harian:

  • Mengurangi konsumsi energi saat tidak dibutuhkan, Mari teruskan kebiasaan ’Hemat energi, Hemat biaya...’.

  • Memilih makanan lokal & rendah emisi

  • Mendukung transportasi public, stop berpikir klasik, “bahwa kalau punya mobil atau motor baru adalah tanda tajir...”

  • Berbicara soal iklim, bukan hanya membacanya. Tularkan diskusi tentang perubahan iklim ini kepada komunitas dan anak-anak kita, ”It’s science, bro sist! Lebih asyik daripada gosipan hal-hal kepo yang nggak jelas arah….;-)”

  • Mengubah mindset dari "kenyamanan pribadi" ke "keberlanjutan bersama", Jom, Kita mesti beraksi!


Small actions, big impact for a sustainable future

🌱 Kebiasaan

Matikan lampu & AC saat tidak digunakan

Bawa botol minum sendiri

Pilih produk lokal & musiman

Naik sepeda atau jalan kaki
untuk jarak dekat

Sortir & daur ulang sampah rumah tangga

Kurangi pemakaian produk sekali pakai (plastik, tisu,
sachet)

Habiskan makanan & rencanakan belanja dapur

Kurangi screen time saat charging / hemat daya
perangkat

Edukasi diri & orang sekitar soal isu lingkungan

Tanam pohon atau tanaman lokal di sekitar rumah

🌍 Dampaknya Terhadap Bumi

Mengurangi emisi karbon dari pembangkit listrik

Mengurangi sampah plastik yang mencemari laut

Mengurangi jejak karbon dari logistik &
transportasi

Mengurangi polusi udara dan konsumsi bahan bakar fosil

Menekan volume TPA dan pencemaran tanah

Mengurangi limbah padat yang sulit terurai

Mengurangi limbah makanan & emisi metana
dari sampah organik

Menghemat konsumsi listrik dari sumber energi fosil

Membentuk budaya sadar iklim dan menciptakan
efek domino perubahan

Menyerap CO, menambah kelembapan, dan
mendukung keanekaragaman hayati

Tabel 1. Kebiasaan
Kecil yang Bisa Mengubah Arah Bumi



Sumber
analisis: Sri Yusriani, 2025






“Kesadaran tanpa aksi hanyalah pengetahuan. Tapi aksi tanpa kesadaran bisa
jadi ceroboh. Dunia butuh keduanya—dan kita punya tanggung jawab di dalamnya.”

Di dunia yang makin panas, kepekaan adalah kekuatan. Jom! Dalam menghadapi krisis
iklim, pertumbuhan sejati berbisik di dalam ketidaknyamanan—bukan di tengah
tepuk tangan. Mari teruskan perjuangan!

#sriysarah
Grindsted Denmark, 11062025

* Graduate
School of Business, Riset Kak Sarah tentang Global Strategic Organizational
Behaviour
dalam
Creativity and Entrepreneurship serta Community Empowerment, USM
– HRM
practitioner, Denmark. 

Penulis juga merupakan Tutor/ Dosen Pengampu pada Mata Kuliah Manajemen
Operasi Jasa, Operations Research - FEB Universitas Terbuka.

Referensi 

Acharya, V. V., Berner, R., Engle, R., Jung, H., Stroebel, J., Zeng, X., & Zhao, Y.
(2023). Climate stress testing. Annual Review of Financial Economics15(1),
291-326.

Agus, W., Yusriani, S., Pambelum, J., Sholihah, F. M., & Rozet, S. J. (2023).
Mitigating Carbon Emissions in Maritime Operations: A Case Study of Bakungan
Port.

Al Jazeera. (2025, June 11). Month of May was world’s second warmest on record:
EU scientists
.
Al Jazeera. News
https://www.aljazeera.com/news/2025/6/11/month-of-may-was-worlds-second-warmest-on-record-eu-scientists

Clark, C. E., Riera, M., & Iborra, M. (2022). Toward a theoretical framework of
corporate social irresponsibility: Clarifying the gray zones between
responsibility and irresponsibility. Business & Society61(6),
1473-1511.

Copernicus Climate Change Service (C3S). (2025). May 2025 climate bulletin: Global
surface temperature anomaly
.
https://climate.copernicus.eu

Fajriyah, M. S., Heffi, C. R., Sri, Y., Wikarno, A., Stefly, J. A. R., Kelik, H. P.,
& Kusnadi, K. (2023). THE IMPACT OF THE INDONESIAN PRESIDENCY’S G20 AGENDA
ON THE STOCK PRICES AND STOCK VOLUMES IN THE COAL MINING SECTOR. THE
IMPACT OF THE INDONESIAN PRESIDENCY’S G20 AGENDA ON THE STOCK PRICES AND STOCK
VOLUMES IN THE COAL MINING SECTOR
3, 262-272.

Kasting, J. F., Toon, O. B., & Pollack, J. B. (1988). How climate evolved on the
terrestrial planets. Scientific American258(2),
90-97.

Kelana, S., & Utha, M. A. (2025). Penelitian Dampak Kesadaran Perubahan Iklim dan Nilai Pribadi Terhadap Pilihan Berkelanjutan di Tempat Kerja dan Rumah. Paradoks: Jurnal Ilmu Ekonomi8(1), 260-270.

Molina, M. O., Soares, P. M. M., Lima, M. M., Gaspar, T. H., Lima, D. C. A., Ramos, A. M., ... & Trigo, R. M. (2025). Updated insights on climate change-driven temperature variability across historical and future periods. Climatic
Change
178(5), 97.

Thang, N. T., Yen, N. T. H., Dung, N. P., & Cuong, V. H. (2024). Operating Carbon
Markets to Drive Sustainable Development in Developing Countries: Prospects,
Challenge and Recommendations for Vietnam. Carbon & Climate Law Review18(2), 106-121.

Tollefson, J. (2020). How hot will Earth get by 2100. Nature580(7804), 443-445.

Wiens, J. J., & Zelinka, J. (2024). How many species will Earth lose to climate change?. Global Change Biology30(1), e17125.