image : #feelingnostalgic Qadarullah Pertemuan face to face Founder/Perintis Forkompromi, Ketika Ternyata Kak Sarah & Pak Endi berjumpa kala naik hajji, 2023 (In Makkah al-Mukarramah, foto atas), Suasana Awal Diskusi Saat Bermula Urusan Hectic Re-akreditasi Prodi MM UT #unggul , bersama Kaprodi Dr. Shine Pintor Siolemba Patiro saat itu, 2024 (In Wisma 2 UT Pondok Cabe TangSel, foto bawah).
Good Day! Dear besties Forkompromi readers, #fyi Menurut para psikolog dan para pakar prilaku Sumber Daya Manusia, ada sepuluh momen kecil~ short term namun super berkesan yang sering diingat sebagai suasana yang paling bahagia dalam hidup kita, yaitu:
1. Falling in love – Mulai dari usia remaja saat menyadari pertumbuhan diri dan suatu rasa dalam dada, usia 20‑an, 30‑an, bahkan di usia 60‑an atau 70‑an, saat kita merasakan cinta yang menghidupkan kembali jiwa. "It’s always possible through feeling your deeper emotions with someone who makes you feel alive." Dalam urusan spiritual pula, bisa saja contoh lain saat ada individu yang pertama kali berhijrah menutup aurat karena yakin untuk mematuhi perintah Tuhan Yang Maha Kuasa.
Momen rasa cinta mendalam ini bisa menyebabkan meningkatnya produktivitas, hormon rasa bahagia, serta ragam sikap positive lainnya, yang membuat manusia memiliki perasaan teramat berbeda.
2. Completing the final exam – Perasaan setelah ujian berat selesai, melegakan dan memuaskan. Momen-momen ini sering kita lalui sepanjang hidup, dan menjadi ‘ingatan tak terlupakan’. Misalkan saat awal kelulusan SD, SMP, SMA, saat mengikuti suatu perlombaan, ujian skripsi, thesis, ujian kompetensi yang kita ikuti dalam orgnisasi atau komunitas, dan sebagainya. Apalagi ketika ada ragam keunikan dalam proses ujian atau exams tersebut. Misalnya yah, Penulis di era 2000-an waktu mempersiapkan Ujian Nasional SMU, guru matematika mewajibkan murid-muridnya untuk menyelesaikan 100 soal Latihan (yang ada dalam Lemba Kerja Siswa) setiap bulannya. Lalu ketika benar-benar duduk di bangku kelas 3 SMU atau kelas 9, di semester akhir itu murid-murid ’dikenyangkan’ dengan ribuan soal Latihan lagi, bahkan ditamabh dengan kreativitas siswa yang bertukar ‘saling memberi soal latihan’ kepada teman-temannya. Contoh lainnya Saat awal pengerjaan tesis yang lebih intens di semester 4, Saya dan rekan seperjuangan melakukan analysis pada penelitian terdahulu, minimal sehari itu mesti bisa 10 papers. Jadi, silakan hitung jika konsisten selama 2 bulan, tiap hari kita mesti melakukan analysis LR, lalu mengklasifikasikan varaibles-nya, maka kira-kira berapa kali kita mengalami sakit kepala? Wkwkwk… Namun, kira-kira seberapa lega hati kita saat menyelesaikan Ujian sidang TAPM dan lulus S2? What a great moment!

3. Waking up dan sadar bisa tidur beberapa menit lagi – Bonus mikroskopik tapi bikin hati lega banget. Setelah ragam kelelahan di tempat kerja, apalagi jika berperan pula menjadi students/ mahasiswa (misalkan para insan di Forkompromi genk), maka bisa dipastikan tiap menitnya sibuk urus laporan kertas kerja, kembali ke rumah dengan urusan groceries, diskusi keluarga, melayani para bocah, bercengkerama dengan anggota keluarga (bahkan tetangga, dsb), Kemudian mesti menyiapkan waktu untuk belajar mandiri, pengerjaan tugas kuliah, merapikan draft tulisan, dll. Urusan teknis dan non teknis mesti berjalan balance, yang tentu saja mesti mengurangi waktu istirahat. Jadi jika ada satu hari di akhir minggu, ’yang bisa dipakai untuk menikmati masa teler-leyeh leyeh alias selonjoran lebih lama, atau selimutan lebih lama’, maka momen ini termasuk hal termanis dalam hidup. Pasti semua insan bersyukur atas privelege ’masa-masa bisa selonjoran rehat ini’. Bahkan beberapa sobat menyebut momen ini sebagai “recovery time”, yang hari itu tidak perlu ada hal lompat-lompat di pagi hari, bisa merasakan ketenangan untuk menikmati suasana tenang Kasur dengan lebih lama, menyadari raga perlu hak istirahat. Relate-kah denganmu?
4. Menerima telepon dari seseorang yang sangat dirindukan – Suara mereka bisa bikin dunia berhenti sejenak. Ada orang tua terpisah dari anak kala mesti merantau, ada pula pasangan yang PJJ (Percintaan Jarak Jauh); entah karena sang suami atau istri barusan dimutasi kerja, atau ada tugas belajar/training, dan sebagainya, ada pula sobat terakrab alias bestie yang kemudian mesti berpisah dari sahabat baiknya dikarenakan episode hidup nan berbeda. Momen ketika menerima telepon ini menjadi salah satu momen termanis, apalagi saat kondisi pandemi global beberapa waktu lalu, para pekerja internasional di Denmark pun sempat mendiskusikan hal ini, yang mana ternyata ’musik yang paling ditunggu itu’ bisa saja berupa dering telepon dari seseorang yang sangat dirindukan.
5. Melihat orang favoritmu dan menyadari mereka juga sedang menatapmu – Chemistry hadir disini, dan peristiwa ini tidak bisa lepas dari ingatan karena merupakan salah satu momen termanis yang dialami manusia sepanjang hidupnya. Bertemu kembali dengan teman lama dan seolah tidak ada yang berubah – Juga Chemistry + nostalgia = full package. Jadi sosok individu yang memiliki daya ingat nan kuat, biasanya paling hafal ”momen apa dan bagaimana’ saat pertama kali jumpa dengan A, B, C, D, yang merupakan sobat akrabnya ‘jangka panjang’, dan atau saat bercerita tentang pertemuan awal dengan soulmate.

6. Menyentuh jari-jari bayi mungil – Magic kecil yang bikin sensasi keajaiban.
the tiny miracle of life,
Rasa haru menyelimuti saat ujung jari kecil itu menyentuh jari kita. A gentle reminder how fragile and powerful life can be. Sensasi keajaiban nyata hadir—satu detik terhenti, penuh kekaguman akan keajaiban penciptaan dan awal perjalanan manusia. Momen ini menyadarkan: bahkan hal paling sederhana bisa menggetarkan jiwa. Tanyakanlah kepada setiap insan yang pertama kali tersemat ”gelar ibu’ atau ”gelar ayah” dalam dirinya, bayangan saat momen termanis pertama kalinya menyentuh jemari bayi mungil tentu adalah salah satu kenangan terbaik sepanjang hayat.
7. Menerima pesan dari orang yang dicintai dan atau disayangi saat merasa sepi – Reminder bahwa kita tidak sendirian. a heartwarming whisper in the silence….
Saat rasa sepi datang, dan tiba-tiba ada pesan indah di layar: itu bukan hanya notifikasi, tapi “you’re not alone” dalam bentuk piksel dan kata. A digital hug in the middle of midnight, mengingatkan bahwa keberadaan mereka nyata, peduli, dan menemani. Suatu momen savouring yang hangat, mengubah kesepian jadi semesta kenyamanan.
8. Momen tercapainya suatu goals atau cita-cita diri (yang kadangkala full tersimpan dalam relung hati, dirahasiakan oleh diri sendiri…. Terutama dalam usia dewasa), artinya saat menapaki proses raih goals tersebut~ diri kita berjuang gigih Proses panjang—yang penuh perjuangan diam-diam, keyakinan tak terucap, dan impian yang hanya kamu simpan—akhirnya menghasilkan satu titik kebahagiaan yang mendalam saat tercapai. Meski tidak selalu diumumkan (dan biarkanlah hanya diri sendiri dan Sang Maha Pengasih yang paham banget atas gunung es kegigihan & ketahanan diri in the struggle), terasa seperti kemenangan batin, bukti bahwa kamu mampu melampaui batas. Kebahagiaan ini bukan sekadar ego semata, tapi kesadaran: kamu tumbuh, dan kini kamu berdiri tegak dengan damai.
(The achievement is sweeter when celebrated within your soul first.)
9. Bangun malam dengan sadar meeresapi keindahan suasana sunyi itu, dan atau berjalan jelang malam di tempat kunjungan kita dengan pikiran penuh kenangan — a film montage in your heart.
Langkah sunyi menapaki trotoar remang, ditemani bisikan angin, bayang-bayang memori indah yang pernah dilalui, dan kilau lampu jalan. Setiap detik terasa bagai adegan dalam film kehidupan — dialog lama, tawa ringan, sentuhan lembut saat malam, semuanya menari di ingatan. Apalagi kalau Lokasi itu adalah tempat masa kecil diri kita, besties…. , atau area yang mengingatkan diri kita pada peristiwa Istimewa. Hatimu dan hatiku memainkan ulang flashback itu — lebih dalam dari yang kita kira.

(It’s like witnessing your life’s highlight reel when the world is asleep.)
Burung camar beriringan terbang melayang,
Menyusuri pantai indah nan biru,
Tembus cabaran bergunung keterbatasan bukan penghalang,
Harapan baru selalu ada karena DIA membimbingmu! ^-^
10. Momen-Momen Savouring: Kebahagiaan Ada di Sekitar Kita
Menurut psikologi positif, kebahagiaan sering tumbuh bukan pada momen besar—namun dari savouring moments: saat kamu sadar sepenuhnya tentang hal kecil namun begitu bermakna. Seperti hal-hal di atas:
- Menyentuh keajaiban hidup lewat jari-jari bayi yang masih baru,
- Mendengar bisikan cinta ketika kesunyian datang,
- Menyusuri malam dengan memori penuh keindahan,
-Menyadari kehadiran dan kepedulian tulus dari orang yang kamu sayangi.
Momen-momen ini jadi reservoir kekuatan batin, pengingat bahwa hidup ini penuh warna, bahkan ketika harinya tampak biasa saja. Selain itu, adanya momen termanis ini menghadirkan koneksi nan kuat dalam diri sendiri, Relasi kuat yang menyebabkan mood kita baik self-efficacy terjaga, bahkan kian semangat belajar dan bekerja.Momen-momen itu juga merupakan Peak‑End Theory – Kita mengingat puncak + akhir dari pengalaman—make them meaningful!
Beberapa momen di atas pasti relate banget dengan kita. Which one paling dekat sama pengalaman manismu? Share dong di kolom komentar forkompromi—bisa jadi sumber inspirasi buat teman‑teman lain. 😉
Relate-kah denganmu?
Kalau Diriku? Paling menyentuh adalah nomor 2, 7, 8, dan 10—ketika tahu bahwa seseorang benar-benar peduli. Aaaih, nomor 9 juga sih: Kala momen bangun malam, atau berjalan malam dengan memori indah di lokasi trip, menyadarkan bahwa kita hidup dalam cerita yang tak tergantikan.
Jangan lupa, hidup keren itu bukan soal the big picture doang, tapi seringkali tentang the tiny details yang kita simpan dalam hati.

Set some “happiness subscriptions” — jadwalkan momen mini bahagia seperti minum kopi pelan sambil savor, kirim voice note ke orang spesial, atau lari pagi sembari bersyukur.
Ini habits kecil tapi powerful buat daily joy. Happy learning, Stay healthy and stay happy! (SS, Dk June 2025)
