Login
JANGAN LATAH DENGAN EFISIENSI KARENA BISA MEMBAWA KEHANCURAN ORGANISASI (From Prof Hanif)

Oleh Hanif Nurcholis

Tulisan ini mengkaji efisiensi dari disiplin administrasi publik ya, bukan dari akuntansi.

Dalam teori administrasi publik,  efisiensi sering dipuja oleh orang logical fallacy sebagai nilai tertinggi. Oleh karena itu,  ketika Presiden Prabowo bikin kebiajakan efisiensi semua pemimpin organisasi latah bikin kebijakan efisiensi. Pemda, organisasi publik, perusahaan, PTN BH, dan lembaga swadaya masyarakat latah melakukan efisiensi:

Memangkas anggaran, menghilangkan honor, mengurangi pegawai, mengurangi perjadin, melarang ke LN, dan mengurangi kenyamanan ASN dalam Perjadin.

Namun, di balik jargon efisiensi itu, tersembunyi sebuah jebakan berbahaya: efficiency fallacy (sesat pikir efisiensi), yaitu keyakinan keliru bahwa setiap pengurangan input pasti menghasilkan pendapatan dan kinerja yang lebih baik.

Apakah Pengurangan Input itu Efisiensi?

Logika Sederhana: Tidak Semua Pengurangan Input Itu efisien

Mari kita telaah pakai ilmu bernalar benar (logika).

1. Input dikurangi, output tetap sama.

→ Ini efisiensi yang sehat. Organisasi berhasil berhemat tanpa mengorbankan hasil. Biasanya terjadi karena proses kerja disederhanakan, teknologi diperbaiki, birokrasi yang diruwet dipangkas.

2. Input dikurangi, SDM menderita dan tersiksa..

→ Ini tanda bahaya. Bila penghematan dilakukan dengan memotong gaji, mengurangi tunjangan, mengorbankan kenyamanan, atau memperlakukan pegawai sebagai beban, maka itu bukan efisiensi. Itu adalah penyiksaan organisasi yang berdampak pada motivasi, loyalitas, dan produktivitas.

3. Input dikurangi, output juga menurun.

→ Ini jalan menuju kebangkrutan. Jika hasil ikut turun bersama pengurangan input, maka organisasi sedang menggali kuburnya sendiri. Dalam jangka panjang, kualitas merosot, pelanggan lari, dan reputasi hancur. Efisiensi semu seperti ini menggerogoti daya tahan institusi.

Ketika Efisiensi Menyamar sebagai Penyiksaan Organisasi

Salah satu bentuk paling merusak dari efficiency fallacy adalah pengurangan terhadap hak-hak pegawai —bukan hanya dalam jumlah, tetapi juga dalam martabat. Misalnya:

Remunerasi dikurangi,

Peralatan kerja dikurangi,

Jam kerja ditambah,

Gaji ditahan,

Uang makan dipotong,

Bantuan pendidikan dikurangi atau dihapus,

Bantuan kemaslahatan karyawan seperti beasiswa dan pengurangan SPP dihapus,

Fasilitas dikompres, seperti mewajibkan dua orang berbagi kamar hotel saat dinas luar.

Langkah-langkah seperti ini mungkin terlihat efisien secara anggaran, tetapi sesungguhnya menciptakan ketidaknyamanan, ketidakpuasan, dan demotivasi pegawai. Dalam jangka panjang, ini bukan efisiensi, tapi penyiksaan organisasi.

Kesejahteraan kerja adalah komponen penting dari produktivitas. Saat pekerja dipaksa bekerja dalam tekanan, tanpa penghargaan yang layak, maka yang muncul adalah resistensi, burnout, konflik internal, hingga brain drain. Organisasi menjadi tidak sehat, pelayanan menurun, dan kepercayaan publik merosot.

Efisiensi Tanpa Efektivitas Adalah Ilusi

Penghematan yang membabi buta bisa membawa organisasi ke jebakan underinvestment. Alih-alih berinovasi, organisasi justru kehilangan kapasitas. Ini diperparah jika pemangkasan tidak disertai dengan peningkatan teknologi, perbaikan proses kerja, atau peningkatan keterampilan sumber daya manusia.

Dalam kondisi demikian, efisiensi hanyalah ilusi akuntansi, bukan perbaikan manajemen menuju produktivitas. Yang dihemat hanyalah angka, bukan substansi.

Efficiency Fallacy Adalah Jalan Menuju Kebangkrutan

Jika efficiency fallacy dibiarkan terus berjalan, maka yang menanti adalah kebangkrutan organisasi. Hal ini terjadi karena:

Produktivitas menurun akibat lemahnya motivasi dan minimnya dukungan sumber daya.

Kualitas layanan jatuh, sehingga pengguna layanan atau pelanggan tidak lagi percaya.

Talenta terbaik hengkang, karena merasa tidak dihargai.

Organisasi kehilangan kapasitas beradaptasi, karena tidak lagi punya ruang untuk belajar, berinovasi, dan berkembang.

Biaya tersembunyi membengkak dalam bentuk kesalahan kerja, konflik internal, dan kerusakan reputasi.

Penghematan yang keliru bukan hanya merusak struktur kerja—tetapi juga merusak daya hidup organisasi itu sendiri. Ia hidup dalam ilusi efisiensi, padahal sedang menggali kuburnya sendiri.

Efisiensi sejati tidak memiskinkan organisasi dan SDM-nya, tidak mengorbankan martabat kerja, dan tidak memangkas sampai tulang. Ia adalah proses manajerial yang rasional dan manusiawi, berbasis data dan empati, demi menghasilkan output maksimal dengan sumber daya yang optimal. Yang tidak boros.

Organisasi publik yang baik bukan yang paling hemat, tapi yang paling mampu menyejahterakan anggota organisasi dan rakyat dengan memanfaat uang, waktu, SDM, bahan, dan infrastruktur yang tepat.

Jika tidak, efisiensi hari ini akan membawa kehancuran  di masa depan.

*Prof Hanif adalah Guru Besar Universitas Terbuka, Dosen Pascasarjana UT, Mata kuliah: pemerintahan daerah, pemerintahan desa, kebijakan publik. Beliau juga mendapatkan amanah sebagai Ketua Senat Universitas Terbuka saat ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *