Login
Lombok Jadi Model Pulau Hijau: Indonesia-Denmark Kembangkan Energi Terbarukan!

Oleh: Sri Yusriani

Sejak tahun 2016, Indonesia dan Denmark menjalin kolaborasi strategis untuk mendorong transisi energi bersih di wilayah kepulauan. Salah satu hasil terbesarnya adalah dua studi penting yang berfokus pada sistem energi berkelanjutan di Pulau Lombok.

Lombok, yang selama ini masih mengandalkan pembangkit listrik berbasis diesel dan batu bara, kini diproyeksikan mampu mengintegrasikan hingga 60% energi terbarukan pada tahun 2030. Potensi ini berasal dari matahari, angin, biomassa, hingga pengolahan limbah — menjadikan pulau ini sebagai lokasi investasi hijau yang sangat menjanjikan.

“Hasil studi ini sangat berharga untuk perencanaan energi di Lombok, dan bisa menjadi sinyal kuat bagi para investor bahwa Lombok adalah tempat dengan peluang investasi yang menarik,” ujar Pak Saleh, Sekjen Dewan Energi Nasional RI.

 
Proyek ini dilakukan bersama oleh Danish Energy Agency, Kedutaan Besar Denmark di Jakarta, serta lembaga-lembaga energi lokal dan nasional Indonesia. Tak hanya Lombok, konsep keberhasilan ini juga siap direplikasi di berbagai pulau dan provinsi lain di Indonesia, mendukung misi transisi rendah karbon dan efisiensi energi nasional.

 
“Kerja sama ini sangat menjanjikan. Kami yakin bahwa keberhasilan di Lombok dapat diperluas ke wilayah lain untuk menurunkan emisi, mengurangi polusi lokal, dan menekan biaya listrik bagi masyarakat Indonesia,” ujar Duta Besar Denmark untuk Indonesia, Rasmus Kristensen.

 
Inisiatif ini membuktikan bahwa kerja sama internasional dapat mendorong energi bersih dan pembangunan berkelanjutan di daerah-daerah yang sebelumnya bergantung pada energi fosil.

Kerja sama ini mendapat respons positif dari para pakar lintas bidang yang melihatnya sebagai langkah nyata menuju masa depan berkelanjutan:

Dr. S.P.S. Patiro, Wakil Direktur Sekolah Pascasarjana UT, pakar energi, digital marketing dan pembangunan riset berkelanjutan, mengatakan:

“Transformasi ini bukan hanya soal teknologi, tapi juga keadilan energi. Lombok bisa menjadi model nasional....”, Beliau yang juga pakar perilaku konsumen  serta teknologi dalam e-learning, menambahkan:

“Transformasi ini akan semakin kuat bila diiringi literasi digital yang inklusif, khususnya di sektor pendidikan dan ekonomi lokal.”

Dr. Endi Rekarti, ahli kewirausahaan dan perilaku organisasi, menambahkan:

“Penerapan internal marketing dan penguatan partisipasi masyarakat lokal sangat penting untuk mendorong keberlanjutan dari dalam.”

Dr. K.W. Utomo, spesialis lingkungan kerja, HRM, dan kepemimpinan, menekankan:

“Leadership kolaboratif dan lingkungan kerja yang adaptif akan mempercepat integrasi sistem energi bersih dalam kehidupan sehari-hari.”

Dr. Faizul Mubarok, pakar manajemen keuangan, keuangan syariah, dan perbankan, menyampaikan:

“Model pembiayaan inovatif dan pendekatan kuantitatif yang inklusif akan memperkuat skema transisi energi hijau secara berkelanjutan.”

🤝 Kolaborasi yang Bisa Direplikasi

Studi-studi ini menjadi dasar dari Lombok Energy Outlook Report, yang juga akan menjadi referensi dalam pengembangan sistem energi rendah karbon di pulau-pulau lainnya di Indonesia. Model kerja sama ini tidak hanya memperkuat konektivitas energi, tetapi juga membuka peluang kerja hijau dan inovasi ekonomi lokal yang berkelanjutan.

Kak Sarah Forkompromi menyampaikan pesan inspiratif untuk semua pihak dalam kolaborasi ini:

“Happy learning, happy working, and happy researching — untuk masa depan yang berkelanjutan dan penuh kolaborasi.... Semangat selalu, dear pembelajar Indonesia!"

Catatan:

Kerja sama ini adalah bagian dari Strategic Sector Cooperation (SSC) antara Kementerian ESDM Indonesia, Dewan Energi Nasional (DEN), dan Danish Energy Agency. Tujuannya adalah untuk memperkuat kebijakan dan strategi dalam meningkatkan rasio elektrifikasi dan efisiensi energi jangka panjang di Indonesia. (info berita dimuat dalam beberapa surat kabar Denmark sejak 2017)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *