Marketing Myopia: Outlook 2025 ~ EKMA5317 Perilaku Konsumen
(Video perkuliahan #marketing #management SPs-UT by Dr. Shine Pintor Siolemba Patiro)
Dear Forkompromi leaders, Di era serba digital dan hyper-connected seperti 2025 ini, bisnis berlomba-lomba untuk tumbuh cepat. Kita bicara tentang big data, AI-driven marketing, dan platform yang bisa mendeteksi setiap gerakan konsumen. Tapi tahukah kita? Bahkan dengan teknologi secanggih ini, jebakan klasik yang disebut marketing myopia masih bisa menghantui banyak organisasi.
Marketing myopia, istilah yang pertama kali dicetuskan oleh Theodore Levitt, menggambarkan cara pandang sempit dalam bisnis—ketika perusahaan hanya fokus menjual produk atau jasa, tanpa memahami kebutuhan dan pengalaman jangka panjang pelanggan. "Too product-oriented, less customer-oriented." Inilah jebakan yang diam-diam menggerogoti keberlanjutan bisnis. Btw, Theodore Levitt (March 1, 1925 – June 28, 2006) was a German-born American economist and a professor at the Harvard Business School.

Dalam video ini, Dr. SPS. Patiro mengupas bahwa banyak perusahaan modern terjebak pada angka dan short-term gains. Mereka rajin bikin kampanye, rajin promosikan fitur produk, tapi lupa bertanya: “Apakah ini benar-benar menyelesaikan masalah pelanggan saya?” Myopia membuat pemimpin bisnis gagal beradaptasi dengan perubahan pasar, bahkan ketika teknologi sudah memberi data lengkap di genggaman. "Perusahaan ogah memahami pentingnya 'pengalaman konsumen', hal-hal yang diinginkan oleh konsumen dalam bertransaksi, maka perusahaan tidak bisa menyesuaikan kondisi terbaru sesuai zaman-kemajuan digital marketing saat ini yang berfokus pada pentingnya kualitas layanan pelanggan....", menarik banget penjelasan Dr. Shine.
Contoh nyata? Kita bisa melihat Nokia yang pernah merajai pasar ponsel global namun terlalu lama berfokus pada hardware tanpa melihat tren software dan pengalaman pengguna, hingga tersingkir oleh Apple dan Android. Di Indonesia, kita mengenal kisah tragis Kodak, yang menolak beradaptasi dengan fotografi digital hingga akhirnya bangkrut, dan merek seperti Blackberry yang dulu fenomenal kini tinggal nama. Semua ini adalah korban nyata marketing myopia.
Era 2025 menuntut marketing mindset yang lebih luas: bukan sekadar menjual, tapi membangun relationship. Konsumen sekarang memilih merek yang bisa dipercaya, yang bisa membaca emosi dan ekspektasi mereka. Perusahaan yang tetap myopic—yang melihat bisnis hanya sebagai transaksi—akan kalah oleh mereka yang mampu meramu makna dan solusi dalam setiap produk dan layanan.
Di sini, peran seorang strategic marketer adalah keluar dari kacamata kuda. Instead of asking “How do we sell more?”, kita belajar bertanya, “How do we serve better? How do we create value that lasts?” This mindset shift transforms marketing from a cost center menjadi growth engine yang sustainable.
Dr. Patiro menekankan pentingnya inovasi yang relevan, mendengarkan pelanggan secara mendalam, dan berani melepaskan praktik lama yang usang. Marketing is not about pushing products; it’s about understanding people. Teknologi hanyalah alat; yang membedakan pemenang adalah visi dan empati.

Marketing Myopia
Untuk mahasiswa manajemen, baik S1, S2 MM, maupun DIM, inilah waktunya untuk melatih agility—kemampuan melihat peluang baru di pasar dan berani berinovasi. Entrepreneur sejati tidak hanya lahir dari pemilik usaha; bahkan saat bekerja di sektor manapun, mindset mandiri dan creative problem solving akan membuat Anda menonjol dan menciptakan jejak karya kehidupan yang membanggakan.
Pesan Dr. SPS. Patiro selalu jelas: "You'll never walk alone, you never study alone." Dalam dunia bisnis yang terus berubah, kolaborasi, pembelajaran berkelanjutan, dan keberanian mengubah perspektif adalah kunci untuk menghindari jebakan marketing myopia dan menjadi marketer visioner masa depan. 🌱✨
*Rangkuman oleh @sriysarahjourney ^-^ See you!
