Login
Networking: Jalinan Makna dalam Dunia yang Kecil

Oleh: *Kak Sarah, Presiden Forkompromi

Question: “Kak Sarah, Networking tuh sebenarnya Apa sih? Jejaring yang kayak gimana sih kak?”

Jawab:

“Networking bukan tentang acara formal atau lencana nama. Networking adalah tentang apa yang kamu tunjukkan, hari demi hari, dalam dunia yang saling terhubung.”

Apa Itu Networking?

Networking—bukan sekadar bertukar kartu nama atau duduk manis di sebuah seminar formal sambil berdoa agar duduk di sebelah orang yang “tepat”. Dalam konteks profesional, networking adalah proses membangun jaringan relasi bermakna yang tumbuh secara organik melalui keseharian: bagaimana kita menyapa rekan kerja, menanggapi email dengan empati, membimbing mahasiswa baru, atau menaruh respek pada rekan sejawat yang mungkin sedang rapuh.

Networking adalah narasi tanpa jeda. Ia bukan satu bab, tapi keseluruhan kisah yang kita tulis bersama manusia lain.

Mengapa Networking Penting?

Karena dunia ini kecil, sungguh kecil. Kata Dr. Haji Endi, "terasa lebih kecil Ketika makin banyak yang kita kenal….. Masih ingat pembahasan itu?”

Hari ini mungkin kamu dosen muda yang sedang merintis. Esok, mahasiswamu menjadi pemimpin redaksi jurnal internasional. Atau, rekan kerjamu hari ini kelak menjadi reviewer utama risetmu. Di sinilah pentingnya membangun jembatan, bukan tembok. Ingat misal contohnya Bro Gus Mustofa dua puluh tahun lalu menjadi Pekerja Migrant di Saudi, lalu berkuliah Ilmu Komunikasi di FHISIP UT. Dengan kemampuannya “selalu mengembangkan network”, menebar zona positif dan merangkul teman-teman dimana pun berada, maka kian aktif segala jejak prestasi dan keterampilan organisasi beliau, saat ini Brother Gus Mustofa merupakan tokoh yang mengepalai project urusan penting dalam ranah ibadah haji dan umrah ummat Islam yang ke tanah suci.

Networking memberi kita lebih dari sekadar akses pekerjaan: ia menghadirkan dukungan emosional, perspektif baru, rujukan tak terduga, bahkan peluang kolaborasi lintas negara dan disiplin. Dalam dunia akademik yang kerap individualistik, apalagi urusan kita dengan pembelajaran jarak jauh, jaringan adalah ruang bersama tempat kita saling menguatkan dan tumbuh.

Jadi, siapa yang bisa menyangka, Ketika Networking global Forkompromi hadir membersamai MM UT Unggul, ternyata sobat dari Eropa Utara bisa terhubung dan berteman dekat dengan sobat dari Kalimantan, Sulawesi bahkan wilayah timur Indonesia. Sejujurnya, ‘dunia barat’ pun mengagumi hal ini, karena dalam langgengnya ‘networking’, ini terjalin persahabatan, dan berjalan eratnya persahabatan adalah dibangun dengan trust. Ini adalah unsur termahal dalam dinamika hubungan antar manusia saat ini.

Siapa yang Terlibat dalam Networking?

Semua orang. Mulai dari penjaga keamanan di kampus yang selalu menyapamu dengan senyum hangat, abang Ryan di lobby Wisma UT, Mas Adam or Om Indra yang menjaga Gedung Fakultas, hingga profesor tamu dari luar negeri yang memberikan komentar ringan saat coffee break. Networking melibatkan mereka yang kamu beri perhatian tulus.

Jangan remehkan siapa pun—hari ini mereka mungkin diam, tapi esok bisa menjadi suara penting dalam langkah kariermu. Kamu dosen senior hari ini, esok mahasiswamu menjadi rektor di sebuah perguruan tinggi yang lebih besar lagi, Kamu kepala sekolah hari ini, esok lusa murid-muridmu menjadi gubernur, dokter dengan kiprah internasional, atau bahkan menjadi menteri-menteri kabinet dan presiden. Itu fakta-fakta yang telah terjadi.

"Intern hari ini bisa jadi klien strategismu besok. Asistennya kini bisa jadi atasannmu kelak.”

Jadi, sekarang kita di usia menjalani profesi dan perkuliahan di pasca, kita bisa refleksikan, kita evaluasi bagaimana pengalaman networking yang telah berlalu. Dengan hal-hal yang kemudian bisa menjadi perbaikan diri dan lebih semangat untuk maju.

Kapan Networking Terjadi?

Setiap saat. Networking bukan peristiwa tunggal. Ia bukan hanya di seminar, konferensi, atau sesi diskusi publik. Ia hidup dalam setiap interaksi harian: saat kamu membalas pesan WhatsApp dengan ramah, saat kamu menyebut nama rekan dengan penuh hormat dalam sebuah diskusi, atau ketika kamu memberi testimoni tulus di LinkedIn.

“Sarah pesan, Networking tidak punya waktu khusus, yaaaa…. Ia tumbuh dalam keseharianmu—dalam kejujuran, etika, dan konsistensi sikap…… Ini belum setiap orang pahami.” #catatan

Di Mana Networking Terjadi?

Di mana saja. Di kampus, perpustakaan, forum digital, workplace zoom kita, MS Team FGDs, grup riset, ruang balas-balasan email, bahkan di antrean makan siang saat seminar.

Di era digital ini, networking juga hidup di platform-platform seperti ResearchGate, LinkedIn, Google Scholar, dan bahkan Instagram. Asal kamu tahu cara menyampaikannya dengan nilai autentik, bukan sekadar pencitraan.

 
Bagaimana Cara Merawat Networking yang Baik?

  1. Tunjukkan integritas dan empati. Orang-orang ingat cara kamu membuat mereka merasa dihargai. Jadi era digital, kita punya PR “kasih perhatian online”, Memang tantangan banget buat kita yang baby boomers, generasi milineal and Y, namun disinilah kita perlu terbuka hati untuk akrab dengan gen Z.
  2. Berikan lebih dulu. Jangan tunggu peluang. Ciptakan peluang dengan berbagi ilmu, pengalaman, atau sekadar mendengarkan, alias PERLU nongkrongin undangan seminar, masuk zoom meet, ikuti menyimak diskusi di MS Team, dll.
  3. Bangun kepercayaan secara konsisten. Jangan hanya hadir saat butuh, hadir juga saat bisa membantu. Apalagi untuk “dekat” atau akrab dengan dosen dan alumni senior, kita tak akan diingat sebelum ‘ada kerjaan bareng’ yang authentic dan berimpact nyata.
  4. Tulis dan dokumentasikan. Terkadang, artikel blog, paper kolaboratif, atau testimoni sederhana bisa menjadi jembatan hubungan yang bertahan puluhan tahun.
  5. Rawat silaturahmi ilmiah. Ucapkan selamat saat ada pencapaian, beri dukungan saat ada kabar kurang baik, dan hadir di ruang-ruang diskusi.

Silakan teman-teman tambahkan point lainnya….

So, sebagai bahan stimulus berpikir kita, bahwa diri ini tidak bisa berada di muka bumi dengan masih tegar hingga kini, tanpa “networking”. Inilah fitrah manusia…

“Jaringan itu bukan sekadar siapa yang kamu kenal, tapi siapa yang mengenalmu karena sikap dan kontribusimu.”

Maka, mari jalin networking bukan sebagai tugas, tapi sebagai laku hidup yang penuh makna.

Di mana pun kita berada, jangan remehkan siapapun, jangan merasa lebih baik dari siapa pun, kita terapkan “Vini Vidi Vici”, Saya datang, saya lihat (atau baca situasi, bernetworking….) lalu Saya taklukkan tantangan. Oleh sebab itu, bagian belahan bumi manapun, Kita pasti ada teman, ada rekan, karena ‘networking jalan teruuuus’, “Saya mengajak untuk Yakini itu! Bangun simpul-simpul pertemanan, kolaborasi, dan kepercayaan, karena dalam dunia yang serba tak pasti ini, jaringan yang sehat adalah rumah yang tak pernah runtuh.” Pesan mendalam dari Kak Sarah. Happy working, happy learning, and Happy Researching!

#jawaban Kak Sarah,  Ditulis dalam semangat berbagi oleh Kak Sarah, Presiden Forkompromi. 20 July 2025,

#sriysarah Grindsted Denmark, 072025

 
* Graduate School of Business, Riset Kak Sarah tentang Global Strategic Organizational Behaviour dalam Creativity and Entrepreneurship serta Community Empowerment, USM – HRM practitioner, Denmark. Peraih Training Edu Erasmus Plus Uni Eropa, Sept 2024- March 2025, GSB global FoC 2025 Awardee Shizenkan-IESE Tokyo-Barcelona Jan-April 2025

Penulis juga merupakan Tutor/ Dosen Pengampu pada Mata Kuliah Manajemen Operasi Jasa, Operations Research - FEB Universitas Terbuka.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *