Dear Forkompromi Readers,
Saya Sri Yusriani, atau biasa dikenal sebagai Kak Sarah Self-Efficacy.
Kali ini, saya mencoba memimpin rangkuman diskusi lintas batas komunitas #forkompromi yang fokus kali ini pada topik bullying, sebuah isu yang mungkin sudah sering kita dengar, tapi belum semua orang sungguh memahami dalamnya luka yang ditinggalkan.
Dalam artikel kali ini, kami memaparkan topik ini secara bertahap dalam beberapa episode (part). Mari kita mulai dari yang paling dasar dan nyata:
➡️ Part 1: Bullying di Sekolah: Luka yang Tak Terlihat, Dampak yang Mendalam
Kenapa Topik Ini Penting?
Banyak orang mengira bullying hanya masalah anak-anak. Padahal, bullying bisa berdampak seumur hidup. Kadang anak yang terlihat diam, tidak percaya diri, atau tiba-tiba tidak mau sekolah... ternyata sedang mengalami perundungan yang tidak terlihat.
Kasus yang kita temui tidak hanya terjadi pada murid, guru pun bisa jadi korban. Bahkan beberapa guru mengaku diintimidasi oleh murid, rekan sejawat, bahkan orang tua siswa, lewat komentar tajam, sindiran, atau bahkan grup WhatsApp!.
Apa yang menjadi #info dari Part 1?
- Penjelasan sederhana tentang bullying dan jenis-jenisnya.
- Contoh nyata dari dunia internasional (BBC, NEU), dan Indonesia.
- Data yang kredibel dari WHO, UNICEF, Kemendikbud.
- Refleksi yang membumi, bukan menyalahkan, tapi memahami.
- Rangkaian solusi dan langkah awal yang bisa kita mulai dari rumah, sekolah, dan komunitas.

🤝 Untuk Kamu yang Alumni, Guru, Orang Tua, atau Aktivis...
- Jika kamu mantan siswa yang dulu pernah diam-diam menyimpan trauma, kamu tidak sendiri.
- Jika kamu seorang guru yang lelah tapi belum bisa bicara, suara kamu penting.
- Jika kamu orang tua yang khawatir tapi bingung harus mulai dari mana, artikel ini bisa jadi pegangan awal.
- Juga jika kamu masih kuliah atau baru lulus, ini bisa jadi bekal untuk jadi pendidik, pemimpin, atau orang tua yang lebih peka.
Yok..... kita mulai Part 1 dengan niat baik:
Agar tak lagi anak atau guru yang merasa sendirian saat dilemahkan oleh kata-kata, perlakuan, atau sistem yang diam.
📚 Baca, simak, dan kalau berkenan- bagikan. Karena edukasi tentang empati adalah bagian dari perjuangan yang tak kalah penting.
Part 1. Dibalik Senyapnya Bullying: Krisis Diam di Dunia Pendidikan
"She just disappeared into herself. The school didn't act. We felt invisible" ~ Testimoni orang tua korban bullying (BBC, Agustus 2025).
Anak gadis ciliknya, baru menginjak remaja, ceria, tiada cerita curhat dan kesedihan sebelumnya, namun tiba-tiba hening...
Dalam laporan investigatif BBC News Scotland (Andrew Picken, 2025), sebuah dewan sekolah dikritik keras karena dianggap menutupi (whitewashing) kasus perundungan serius yang terjadi di sekolah menengah. Insiden tersebut melibatkan siswa yang mengalami gangguan mental berat akibat intimidasi verbal, isolasi sosial, hingga kekerasan simbolik dari rekan sekelasnya. Orang tua siswa menyebut investigasi internal sekolah sebagai "dangkal dan defensif," dan menuduh pihak sekolah gagal melindungi anak-anak.
Kasus ini membuka kembali luka lama di dunia Pendidikan bahwa bullying bukan hanya persoalan siswa yang "bermasalah", tapi cerminan kegagalan sistemik dalam membangun lingkungan yang aman dan sehat di sekolah. Paling fresh adalah kasus putri cantik, Zara di Malaysia, yang kini juga menjadi perbincangan para wali murid dan praktisi Pendidikan sedunia. Sungguh kenyataan menyakitkan itu... tak hanya terjadi di Inggris. Zara, remaja manis yang meninggal dunia diduga karena perundungan menjadi pembicaraan lintas negara, viral di media sosial, dan menampar hati banyak orang tua.
Di Indonesia sendiri, kasus bullying pun terjadi nyaris setiap pekan, meski tak semua terangkat ke media nasional. Tak perlu jauh-jauh, anak dan keponakan kami sendiri, di lingkungan Forkompromi, pernah mengalami perundungan. Tidak dilaporkan. Tidak ditangani. Hanya diam dan menumpuk.
Kalau tidak dimitigasi sejak dini, bullying bisa jadi bencana jiwa.
Apa Itu Bullying dan Mengapa Ia Berbahaya?
Menurut UNICEF dan WHO, bullying adalah tindakan agresif yang dilakukan berulang kali oleh satu atau lebih orang dengan tujuan menyakiti orang lain secara fisik, verbal, sosial, atau psikologis.
Bentuk-Bentuk Bullying:
- 🗣️ Verbal: ejekan, hinaan, julukan kejam.
- 🤜 Fisik: pemukulan, dorongan, perusakan barang.
- 🧩 Sosial: pengucilan, penyebaran gosip atau rumor.
- 📱 Digital (Cyberbullying): penghinaan via media sosial, grup chat, bahkan komentar publik.




WHO mencatat, korban bullying 3x lebih rentan mengalami gangguan kecemasan, depresi, bahkan bunuh diri. Banyak dari mereka yang keluar dari sekolah, kehilangan percaya diri, dan tidak pernah kembali ke jalur impian.

Bukan Hanya Murid, Guru Juga Korban
Laporan National Education Union (NEU) di Inggris menyebutkan bahwa 1 dari 4 guru mengalami bullying, baik dari murid, orang tua, maupun sesama guru.
"It started with sarcasm in staffroom meetings. Then exclusion. Then rumors. I dreaded going to school — and I was the teacher." ~ Guru anonim, The Guardian, 2025.
"Saya pernah disodori oleh ayah dari murid yang seorang tentara... Itu senapan yang biasa dibawanya... Di depan muka saya. Tapi saya senyum saja, tidak gentar, tidak juga saya pasrah menuruti kemauan dia, karena di sekolah ini, anaknya dididik, tanggung jawab kita." ~ Guru generasi X, 2023
Di Indonesia pun, guru tak luput dari tekanan sosial dan kekeraan verbal — sering kali dari grup WhatsApp wali murid, media sosial, bahkan kolega sendiri. Dan semua ini masih dianggap wajar.
Mengapa Bullying Terjadi? Apa yang Salah?
Menurut UNICEF & UNESCO, penyebab utama perundungan di sekolah adalah:
- ❌ Minimnya kebijakan tegas anti-bullying
- 🔇 Kultur sekolah yang permisif terhadap kekerasan verbal
- 🧑🏫 Pelatihan guru soal manajemen konflik yang terbatas
- 📵 Pengawasan digital yang sangat lemah
Di Indonesia, data dari Kemendikbudristek (2023) mencatat, 📊 66% siswa SMP & SMA pernah menyaksikan atau mengalami bullying
Tapi hanya 27% yang melaporkan.
Mengapa Banyak Kasus Tak Dilaporkan?
- Takut dianggap lemah
- Tidak percaya pada guru atau sistem sekolah
- Pelaku sering punya posisi dominan
- Takut dibalas lagi dengan lebih parah
Coba kita berkaca, sampai di sini, sama-kah persepsi kita tentang topik ini?
Refleksi untuk Sekolah-Sekolah Indonesia
Kasus-kasus ini adalah sirine peringatan bagi seluruh pemangku kepentingan pendidikan. Saatnya melangkah #maju:
- Menyusun kode etik anti-bullying berbasis komunitas
- Membentuk tim perlindungan anak di tiap sekolah
- Mengintegrasikan kurikulum empati & antikekerasan
- Melibatkan guru BK, orang tua & siswa dalam forum terbuka
- Membangun trust agar siswa berani bicara dan dilindungi
Baiklah, nantikan di Part 2 yaaah..... Kirimkan tambahan saran dan komentar rekan-rekan dengan topik ini, yoook! Ke forkompromi@gmail.com cc. isriyusrianisyamsuri@gmail.com
Thanks for Reading
Reminder dear,
"Bullying bukan hanya soal anak-anak yang saling menyakiti. Tapi tentang bagaimana orang dewasa diam ketika mereka seharusnya berdiri." ~ #sriysarah Tim Forkompromi.
See you di episode berikutnya, teman-teman lintas generasi. Terus rawat empati, karena suara kecil yang tak terdengar... seringkali sedang menjerit paling keras. ❤️ Happy learning, happy working, and happy researching!
#sriysarah Grindsted Denmark, August 19, 2025
* Graduate School of Business, Riset Kak Sarah tentang Global Strategic Organizational Behaviour dalam Creativity and Entrepreneurship serta Pendalaman Self-efficacy, Community Empowerment, PhD research Universiti Sains Malaysia– HRM practitioner, Denmark.
Peraih Training Edu Erasmus Plus Uni Eropa, Sept 2024- March 2025, GSB global FoC 2025 Awardee Shizenkan-IESE Tokyo-Barcelona Jan-April 2025
Penulis juga merupakan Tutor/ Dosen Pengampu pada Mata Kuliah Manajemen Operasi Jasa, Operations Research - FEB Universitas Terbuka
