
Tahun 1965–1966, sejarah mencatat ada gerombolan perempuan yang mengaku memperjuangkan hak kaum tertindas. Tapi caranya aneh. Melepas pakaian di depan umum, menari di atas mobil sambil menantang tentara, polisi, dan santri.
Konon, itu simbol perlawanan. Padahal, akal sehat manusia beradab melihatnya sebagai tanda kehilangan substansi manusia beradab: perjuangan tanpa moral, keberanian tanpa logika, dan emansipasi tanpa etika.
Anak lurah di Kediri yang waktu itu menari telanjang di atas mobil. Menantang tentara dan santri. Begitu juga anggota Gerwani onderbouw PKI di tempat lain.
Mereka merasa dirinya pahlawan. Padahal, mereka hanya memperlihatkan betapa rendahnya manusia jatuh menghinakan diri sehina-hinanya di muka bumi.
Enam puluh tahun berlalu.
Tahun 2025, muncul lagi gerombolan perempuan baru. Gaya modern, tapi esensinya sama. Mereka siap melepaskan pakaian. Kali ini bukan karena ideologi kiri, tapi membela kepalsuan, kebohongan, kemunafikan kekuasaan, pemujaan kepada tokoh yang jelas-jelas membawa kerusakan. Dan tak punya kejujuran.
Yang dulu menari telanjang demi “revolusi sosial”, kini akan telanjang demi membela kejahatan tokohnya.
Padahal, perjuangan sejati bukan di kulit, tapi di nurani.
Perempuan beradab berjuang dengan akal, moral, dan karya, bukan dengan membuka aurat.
Secara aksiologis, gerombolan semacam ini tak bisa disebut pejuang, melainkan manusia biadab karena hilang tiga nilai dasar kemanusiaan:
1. Nilai etik, sebab tak tahu mana baik dan buruk.
2. Nilai estetik, sebab keindahan dijatuhkan menjadi tontonan murahan.
3. Nilai utilitistik, sebab tak bermanfaat bagi siapa pun kecuali syahwat pasar dengan cara menghinakan diri dan nilai kemanusiaan yang beradab.
Mereka mengira sedang memperjuangkan kebenaran, padahal sedang memamerkan perbudakan baru: perbudakan terhadap membela perbuatan jahat idolanya.
#reminder Aurat....
Kata kunci yang bisa kita pelajari Bersama Dear forkompromi readers:
💬 “Perjuangan sejati bukan di kulit, tapi di nurani.”
💬 “Perempuan beradab berjuang dengan akal, moral, dan karya ~bukan dengan membuka aurat.”
💬 “Ketika nurani padam, aurat pun dijadikan senjata; padahal kehormatan bukan untuk dijual, melainkan dijaga.”
💬 “Emansipasi tanpa etika hanyalah keberanian tanpa arah.”
💬 “Ingatlah bahwa yang mulia bukan tubuh yang dipamerkan, tapi hati yang dijaga dan akal yang digunakan untuk kebaikan.”
Happy learning, happy working, and Happy Researching!
