Login
11 Kebiasaan Toxic yang Dilakukan Tanpa Disadari: Sebuah Renungan Psikologis dan Sosial

*Sri Yusriani

1. Berusaha Menyenangkan Orang Lain Secara Berlebihan 

Dalam relasi antarindividu, terlampau fokus untuk menyenangkan pihak lain, khususnya dalam dinamika heteronormatif pria dan wanita, seringkali menegasikan jati diri. Tatkala seorang pria atau wanita mengorbankan prinsip dan keotentikannya demi memperoleh validasi, ia sesungguhnya mengikis martabat batinnya. Sebab, rasa percaya diri tumbuh dari keberanian menjadi diri sendiri, bukan dari ilusi kepantasan yang dibentuk oleh hasrat untuk diterima.

Ada banyak kasus seorang Ayah yang terlalu memanjakan putrinya hingga melupakan prinsip diri nan tegas, dan sang putri memiliki kepribadian lembek dan jauh dari kemandirian. Demikian juga banyak contoh di sekitar kita 'kasus family manipulations atau toxic family' ketika ibu menyalahgunakan 'power' kepada anaknya sehingga bertindak melanggar border meskipun anak sudah dewasa. Individu-individu yang sudah berperan menjadi ayah atau ibu tersebut, bahkan tanpa sadar melanggar norma-norma dan keimanan prinsip dasar jiwanya saat berlebihan menyenangkan anak-anak atau orang-orang sekitar yang mereka anggap 'ada dalam tanggung jawab atau kekuasaan mereka'.

Berlaku pula dalam friendship dan personal relationship, Kondisi ini secara psikologis dapat disebut sebagai bentuk "over-functioning" dalam hubungan interpersonal (Bowen, 1978), di mana satu pihak merasa bertanggung jawab atas kebahagiaan pihak lain secara tidak proporsional, sehingga mengabaikan kebutuhan dan batas pribadinya sendiri. Akibatnya, bukan hanya diri sendiri yang kehilangan arah, tetapi juga individu yang dilindungi terlalu lama kehilangan peluang untuk tumbuh dan mandiri.

Ibarat lilin yang terus menyala demi menerangi sekitar, individu ini lambat laun kehabisan dirinya sendiri. Seharusnya, menjadi terang bagi orang lain bukan berarti harus membakar habis diri sendiri. Perlu ada keseimbangan antara memberi dan menjaga keutuhan eksistensi pribadi.

2. Tidak Membela Diri Sendiri di Saat Mesti Tegak Membela Diri 

Setiap kali seseorang membiarkan dirinya diperlakukan secara hina, ia tidak hanya mengizinkan dunia meremehkannya, tetapi juga menyampaikan pesan sunyi kepada batinnya bahwa ia tak layak dihormati. Sebaliknya, saat seseorang berdiri tegar, menolak perlakuan yang tak pantas, ia mengafirmasi keberhargaan dirinya di hadapan cermin batin: “Aku layak dihormati.” Dari sanalah rasa percaya diri bersemi

Dalam beberapa camping dan training edukatif Erasmus Plus Uni Eropa, beberapa 'games' mengenai "belajar membela diri" dengan pendekatan akademik telah dilakukan, misalnya "games serial killers", dan 'new things marathon in circle'. Aktivitas semacam ini mengajarkan bahwa membela diri bukanlah tindakan agresif, tetapi langkah preventif dan asertif untuk menjaga martabat.

Mengembangkan kemampuan asertif berarti menyuarakan kebutuhan dan batas secara jujur, tanpa rasa bersalah. Seperti yang ditegaskan oleh Alberti dan Emmons (2008), asertivitas adalah hak dasar manusia untuk diperlakukan dengan hormat. Ketika individu tidak melatih kemampuan ini, mereka membuka pintu bagi bentuk relasi yang tidak sehat, baik dalam konteks personal maupun profesional.

Analogi yang tepat adalah pagar rumah. Tanpa pagar, siapa pun bisa masuk dan mengganggu ketenangan. Pagar bukan berarti tidak ramah, tetapi batas sehat untuk menjaga privasi dan keamanan. Begitu pula dalam hubungan: kemampuan berkata “cukup” atau “tidak” adalah pertahanan emosional yang sehat.

3. Obsesi Menjadi Sempurna 

Kesempurnaan adalah mitos yang dikejar manusia modern hingga ke titik kehilangan diri. Tidak ada batu bata utuh sempurna warnanya, tidak ada gading yang tak retak. Dalam upaya untuk menjadi makhluk tanpa cela, seseorang justru membunuh sisi autentiknya. Padahal, para figur publik yang diagungkan pun bergumul dengan ketidaksempurnaan mereka. Namun mereka memilih untuk percaya diri, bukan karena tanpa cacat, melainkan karena berdamai dengan cacat itu. Semua insan di dunia memiliki keunikan, temukan keunikanmu, jadilah diri sendiri, nyaman tenang tampil dengan keunikan yang selalu belajar dan berkembang!

Ketika seseorang terjebak dalam perfeksionisme, ia cenderung menghindari tantangan karena takut gagal. Ini menyebabkan stagnasi dan rasa tidak berdaya. Menurut penelitian oleh Frost et al. (1990), perfeksionisme maladaptif berkorelasi dengan kecemasan, depresi, dan rendahnya kepuasan hidup. Sebaliknya, menerima ketidaksempurnaan justru memungkinkan pertumbuhan berkelanjutan dan penguatan identitas otentik.

Seperti bunga liar di padang, keindahan mereka bukan pada simetri atau kerapian, melainkan pada keberaniannya tumbuh meski tak sempurna. Begitu juga manusia: kekuatan kita bukan karena tanpa cela, melainkan karena kita terus tumbuh walau tak sempurna.

4. Tidak Menetapkan Tujuan Hidup 

Kehidupan tanpa tujuan ibarat kapal yang berlayar tanpa kompas. Kepercayaan diri tidak muncul dari kekosongan, melainkan dari keberhasilan demi keberhasilan kecil yang dicapai melalui disiplin dan tekad. Maka tulislah tujuanmu, hadapilah satu per satu, jangan multitugas. Hadiahi dirimu atas setiap capaian. Biarkan pencapaian menjadi akar yang menopang rasa percaya dirimu.

Tanpa arah yang jelas, individu mudah terombang-ambing oleh keadaan eksternal. Studi oleh Locke dan Latham (2002) menunjukkan bahwa tujuan spesifik dan menantang mendorong performa tinggi dan meningkatkan motivasi intrinsik. Cobalah membagi tujuan menjadi harian, mingguan, dan jangka panjang. Analogi yang tepat adalah seperti membangun rumah: Anda tidak bisa memasang atap sebelum fondasinya kuat.

Sama halnya seperti petani yang menanam benih, ia tahu jenis tanahnya, ia ukur cuaca, ia bersabar hingga panen tiba. Tanpa perencanaan dan keyakinan, benih tidak akan pernah tumbuh. Demikian pula tujuan hidup: perlu dirancang, dipupuk dengan usaha, dan ditunggu dengan kesabaran.

5. Terlalu Banyak Berpikir atau Overthinking

Hal ini adalah penjara yang dibangun dari serpihan masa lalu dan kekhawatiran masa depan. Ia mencuri kehadiran kita di saat ini, tempat di mana rasa percaya diri sejati sebenarnya tumbuh. Berhentilah mengulang kenangan yang tak bisa diubah, atau mencemaskan hari yang belum tiba. Hadirlah di sini, kini. Di sanalah kekuatanmu berada.

Siklus berpikir berlebihan menguras energi mental dan menciptakan ilusi kontrol atas hal-hal yang sebenarnya berada di luar kendali. Mindfulness, atau kesadaran penuh terhadap momen kini, terbukti efektif mengatasi overthinking (Kabat-Zinn, 1990). Seperti awan yang lalu-lalang di langit, biarkan pikiran datang dan pergi tanpa harus larut di dalamnya. Melatih diri untuk hadir bisa dimulai dari hal sederhana: menyadari napas, langkah, atau sensasi tubuh saat ini.

Ibarat seseorang yang terus membuka jendela kamar untuk melihat apakah badai sudah reda, namun tak kunjung melangkah ke luar rumah, demikianlah overthinking. Kita merasa seolah sedang bersiap, padahal yang sebenarnya kita lakukan hanyalah menunda kemajuan kehidupan.

6. Mengabaikan Penampilan (Outfit)

Penampilan adalah bentuk ekspresi diri yang tidak semata-mata berurusan dengan estetika, melainkan manifestasi dari penghargaan terhadap tubuh sebagai rumah jiwa. Dalam banyak kajian psikologi sosial, tampilan fisik yang dirawat dengan baik terbukti berkorelasi positif dengan rasa percaya diri dan penerimaan sosial (Dion et al., 1972). Penampilan bukan berarti harus mengikuti tren mahal dan ’apa persepsi orang-orang’, melainkan merawat diri secara sehat dan layak.

Ketika seseorang mengabaikan tubuhnya, ia sesungguhnya mengirim pesan diam pada dirinya bahwa ia tidak cukup layak untuk dihargai. Sebaliknya, merawat diri, dengan olahraga teratur, perawatan rambut, kulit, serta berpakaian rapi, menjadi bentuk konkret mencintai diri. Seperti rumah yang dicat dan dibersihkan, tubuh yang dirawat mencerminkan bahwa penghuninya hadir dan peduli. Dalam analogi lain, penampilan adalah seperti kemasan buku; bukan penentu isi, tapi cukup berpengaruh apakah orang lain ingin membukanya.

Bahkan dalam konteks profesional, outfit yang rapi dan proporsional dapat membentuk first impression yang berkesan. Penelitian dari Forsythe (1990) menunjukkan bahwa pakaian dapat memengaruhi persepsi kompetensi dan kepercayaan terhadap seseorang, bahkan sebelum ia berbicara. Maka tidak heran jika banyak pelatihan kepemimpinan dan pengembangan diri menekankan pentingnya personal grooming sebagai bagian dari bahasa non-verbal yang mencerminkan kesiapan diri.

Tidak perlu menjadi fashionista untuk terlihat percaya diri. Yang dibutuhkan adalah kesadaran bahwa tubuh layak diberi perhatian. Baju yang bersih, sepatu yang layak, dan tubuh yang segar bukan soal kemewahan, melainkan bentuk simbolik dari respek terhadap hidup yang kita jalani. Ibarat taman yang terawat, tubuh pun akan menjadi ruang yang nyaman untuk berdiam dan berinteraksi.

Dalam konteks budaya, penampilan juga mencerminkan penghormatan terhadap momen. Berpakaian sopan saat menghadiri undangan, memilih busana formal untuk presentasi, atau mengenakan batik pada acara kebangsaan, adalah bentuk kesadaran sosial yang memperkuat identitas dan rasa percaya diri dalam komunitas. Penampilan adalah narasi visual dari cara seseorang menempatkan dirinya di dunia.

Merawat diri adalah revolusi sunyi. Dalam dunia yang serba cepat dan penuh tuntutan, menyisihkan waktu untuk tubuh sendiri~meski hanya 15 menit sehari adalah bentuk keberanian untuk berkata: "Aku penting." Tentu memang benar, kita penting. Untuk diri sendiri, untuk orang-orang yang kita sayangi, dan untuk dunia yang menunggu kehadiran terbaik dari kita.

7. Mencari Validasi Eksternal 

Mereka yang terus menggantungkan nilai dirinya pada penilaian orang lain ibarat daun yang tertiup angin, terombang-ambing tanpa akar. Dalam psikologi perkembangan, kebutuhan akan validasi adalah bagian wajar dari masa kanak-kanak, namun menjadi berbahaya jika dibawa terus ke usia dewasa tanpa kontrol (Deci & Ryan, 2000).

Setiap tindakan yang didorong oleh rasa ingin dianggap, dipuji, atau diterima oleh orang lain berisiko mengikis keaslian. Seperti aktor yang terlalu lama memakai topeng, lama-lama ia lupa wajah aslinya. Maka penting untuk membangun nilai diri dari dalam, dengan ukuran internal yang selaras dengan prinsip, bukan sekadar tepuk tangan dari luar.

8. Berbicara Negatif pada Diri Sendiri 

Dialog internal adalah narasi batin yang terus-menerus berlangsung. Bila narasi itu dipenuhi kritik dan hinaan, maka kepercayaan diri akan runtuh dari dalam. Penelitian kognitif menunjukkan bahwa self-talk negatif berdampak langsung pada motivasi, prestasi, dan bahkan kesehatan mental (Beck, 1976).

Perhatikan bagaimana Anda berbicara pada diri sendiri saat gagal: apakah Anda berkata, “Saya bodoh bangeeet,” atau, “Saya belajar sesuatu”? Perbedaan kecil itu sangat menentukan arah hidup. Bayangkan bila Anda memiliki sahabat yang terus mencaci Anda setiap hari. Lama-lama Anda akan menjauhinya. Maka, jangan jadikan dirimu toxic buat jiwa raga sendiri, jangan menjadi musuh diri sendiri.

9. Mengingkari Janji pada Diri Sendiri 

Setiap janji yang dilanggar kepada diri sendiri adalah pengkhianatan sunyi. Janji kecil seperti bangun pagi, menyelesaikan tugas, atau berhenti menunda, bila terus-menerus dilanggar, akan menggerogoti kepercayaan pada kemampuan diri. Seperti dinding yang setiap hari digores sedikit, lama-lama runtuh juga.

Stephen Covey (1989) menyebut hal ini sebagai “keutuhan pribadi”, yakni kemampuan untuk memegang janji pribadi sebagai landasan karakter. Jika Anda tak dapat dipercaya oleh diri sendiri, dunia pun sulit mempercayaimu. Maka jagalah setiap komitmen, betapapun kecilnya. Setiap komitmen yang ditepati akan membangun fondasi batin yang kokoh.

10. Berdiam di Zona Nyaman 

Zona nyaman adalah tempat yang aman namun mematikan. Ia nyaman seperti pelukan hangat selimut di pagi buta, tapi bila dituruti terus, ia akan membuat Anda tertinggal dari dunia. Tanpa tantangan, tidak ada pertumbuhan. Carol Dweck (2006) melalui teorinya tentang "growth mindset" menekankan pentingnya tantangan sebagai sarana belajar dan tumbuh.

Berani mengambil risiko, mencoba hal baru, atau menghadapi ketidakpastian adalah latihan batin yang memperkuat keberanian dan rasa percaya diri. Seperti otot yang tak bisa tumbuh tanpa beban, jiwa pun demikian. Keluar dari zona nyaman bukan berarti nekat, tapi mengizinkan diri untuk naik ke level berikutnya.

11. Membandingkan Diri dengan Orang Lain 

Perbandingan adalah akar dari banyak penderitaan. Festinger (1954) dalam teorinya tentang perbandingan sosial menunjukkan bahwa manusia cenderung mengukur dirinya terhadap orang lain. Namun dalam era media sosial, kebiasaan ini menjadi ekstrem dan merusak.

Apa yang kita lihat dari orang lain seringkali hanya potongan terbaik, bukan keseluruhan cerita. Membandingkan diri dengan orang lain sama seperti membandingkan awal buku kita dengan akhir buku orang lain. Setiap individu lahir dari latar, peluang, dan cerita berbeda. Maka alih-alih membandingkan, bandingkanlah dirimu dengan dirimu kemarin. Di situlah pertumbuhan nyata terjadi.

Sebagaimana mawar dan melati tidak pernah saling bersaing untuk merebut perhatian lebah, demikian juga kita tak perlu berebut posisi untuk validasi. Jadilah bunga yang tumbuh dan mekar pada musimnya sendiri~ dengan warna dan aroma khasmu.

Referensi Tambahan:

  • Beck, A. T. (1976). Cognitive Therapy and the Emotional Disorders. New York: International Universities Press.
  • Covey, S. R. (1989). The 7 Habits of Highly Effective People. Free Press.
  • Deci, E. L., & Ryan, R. M. (2000). The "what" and "why" of goal pursuits: Human needs and the self-determination of behavior. Psychological Inquiry, 11(4), 227–268.
  • Dion, K., Berscheid, E., & Walster, E. (1972). What is beautiful is good. Journal of Personality and Social Psychology, 24(3), 285–290.
  • Dweck, C. S. (2006). Mindset: The New Psychology of Success. Random House.
  • Festinger, L. (1954). A theory of social comparison processes. Human Relations, 7(2), 117–140.
  • Forsythe, S. M. (1990). Effect of clothing on perception of intelligence and expectations of scholastic achievement. Journal of Psychology, 124(3), 299–312.

Pesan mendalam dari Kak Sarah. Happy working, happy learning, and Happy Researching!

#jawaban Kak Sarah, *Part of Analysis Literature Review, Ditulis dalam semangat berbagi oleh Kak Sarah, Presiden Forkompromi. 2 Agustus 2025,

#sriysarah Grindsted Denmark, 02082025

* Graduate School of Business, Riset Kak Sarah tentang Global Strategic Organizational Behaviour dalam Creativity and Entrepreneurship serta Community Empowerment, USM – HRM practitioner, Denmark. Listener therapist sejak 2020, Peraih Training Edu Erasmus Plus Uni Eropa, Sept 2024- March 2025, GSB global FoC 2025 Awardee Shizenkan-IESE Tokyo-Barcelona Jan-April 2025.

Penulis juga merupakan Tutor/ Dosen Pengampu pada Mata Kuliah Manajemen Operasi Jasa, SDM, Operations Research - FEB Universitas Terbuka.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *