Login
Kota Malang Diterjang Banjir Besar, 25 Kawasan Lumpuh dalam Satu Jam

Foto: Jalan Borobudur, Malang, Kamis (4 Des 2025)

Hujan deras yang mengguyur Kota Malang selama satu jam pada Kamis siang (4/12/2025), dari pukul 13.30 hingga 14.30 WIB, menyebabkan sedikitnya 25 titik di berbagai kecamatan terendam banjir. Air naik dengan cepat, menggenangi jalan raya hingga permukiman warga dengan ketinggian yang bervariasi~ mulai sebatas betis hingga selutut orang dewasa.

Berdasarkan laporan masyarakat dan pemantauan di lapangan, 24–25 wilayah mengalami dampak banjir cukup serius. Beberapa titik bahkan mencatat kondisi ekstrem: kendaraan mogok, pedagang kehilangan lapak, arus deras menyeret motor, hingga akses jalan harus ditutup total.

🟨 Beberapa Lokasi Terparah:

  • Tlogomas: Lubang jalan tertutup air, membahayakan kendaraan.
  • Suhat & Borobudur: Genangan tinggi memutus akses, satu mobil terjebak dan tidak dapat bergerak.
  • Letjen Sutoyo: Air mencapai atas lutut, motor NMax hanyut terbawa arus.
  • Kedawung: Termasuk lokasi terdalam- evakuasi dilakukan dengan ban karet besar oleh tim SAR.
  • Blimbing & Tirtonadi: Genangan mencapai setang motor.
  • Permukiman Taman Siswa: Air masuk sampai ke dalam rumah warga.
  • Depan SPBU Ciliwung: Lalu lintas macet total akibat tingginya genangan.

Kepala BPBD Kota Malang, Prayitno, membenarkan bahwa intensitas hujan tinggi dan buruknya sistem drainase menjadi penyebab utama meluapnya air di sejumlah titik. Di beberapa wilayah, ketinggian air bahkan mencapai 160 cm.

BPBD mengimbau warga agar meningkatkan kewaspadaan mengingat potensi hujan susulan dan bahaya di area rawan seperti sungai, pohon besar, dan kawasan rendah.

Peningkatan Bencana: 187 Banjir dalam Setahun

Data BPBD Kota Malang menunjukkan tren peningkatan bencana banjir yang sangat mengkhawatirkan. Sepanjang Januari hingga pertengahan November 2025, tercatat 187 kejadian banjir, meningkat lebih dari 500 persen dalam tiga tahun terakhir.

Selain banjir, cuaca ekstrem seperti angin kencang dan longsor juga menunjukkan peningkatan. Kerusakan terparah biasanya terjadi pada awal dan akhir tahun, ketika intensitas hujan tinggi.

BPBD mencatat kerugian hingga Rp 432 juta pada triwulan pertama 2025, meliputi kerusakan rumah, fasilitas publik, hingga bangunan pendidikan

Contoh Kerusakan Lain

  • Longsor di Oro-Oro Dowo: Plengsengan tidak mampu menahan beban rumah sehingga sebagian bangunan hanyut.
  • Bareng ~ Klojen: Termasuk daerah multi-bencana: rawan banjir, longsor, gempa, hingga angin kencang.
  • Total: 40 kelurahan dikategorikan sebagai wilayah rawan bencana dengan 13.465 rumah & 53.860 jiwa terancam.

Mitigasi: Edukasi, Kerja Bakti, dan Simulasi

Sekretaris BPBD, Agoes Tri Hartadi, menjelaskan bahwa mitigasi dilakukan melalui:

  • Edukasi kebencanaan di sekolah & kantor,
  • Kerja bakti membersihkan sungai dan drainase,
  • Distribusi bantuan darurat seperti terpal & makanan,
  • Rekomendasi relokasi bila permukiman berada di zona merah.

Namun, pengadaan peralatan masih minim. BPBD belum memiliki crane, sehingga pemangkasan pohon harus bekerja sama dengan DLH menggunakan peralatan seadanya~mulai dari perahu bundar hingga pompa air.

Simulasi kebencanaan lintas sektor juga digelar di Lapangan Amprong (15/11), untuk melatih masyarakat merespons korban bencana dengan cepat dan tepat.

Wali Kota Malang Wahyu Hidayat menegaskan perlunya peningkatan kesiapsiagaan karena Kota Malang berkembang pesat namun juga semakin rentan terhadap bencana.

Catatan Sikap Sosial ~ For Forkompromi

Karena tingginya intensitas bencana, publik menyoroti pula attitude sebagian pelajar dan remaja kota yang dinilai perlu ditingkatkan, terutama dalam menjaga kebersihan lingkungan. Ironisnya, ketika banjir menggenang akibat saluran yang tersumbat sampah, masih ada remaja yang membuang plastik seenaknya, seolah sungai adalah tong sampah berjalan.

Dalam konteks literasi bencana, sikap tersebut bukan hanya keliru~ tetapi ibarat mematikan alarm peringatan dini lalu berharap rumah tidak terbakar.
Kota Malang membutuhkan bukan hanya infrastruktur kuat, tetapi juga generasi muda yang sadar lingkungan dan bertanggung jawab.

“Bencana boleh datang tiba-tiba, tetapi kesiapsiagaan dan kepedulian tidak boleh menunggu. Kota Malang butuh bukan hanya infrastruktur yang kuat, tetapi juga kesadaran kolektif bahwa menjaga lingkungan adalah tugas bersama.” ~

Semoga sehat selalu, Dimana saja pembaca berada, Semangat!

forkompromi.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *