*Endi Rekarti & Sri Yusriani


Di tengah derasnya arus transformasi digital, kita hidup pada masa ketika teknologi tidak lagi sekadar alat bantu kerja, melainkan ruang baru tempat manusia belajar, beradaptasi, dan membangun makna. Generative Artificial Intelligence (Gen-AI), kepemimpinan digital, serta ekosistem pembelajaran berbasis teknologi telah menggeser cara kita memahami kinerja, kompetensi, dan keberhasilan, baik sebagai individu maupun sebagai komunitas profesional.
Sejumlah riset mutakhir menunjukkan bahwa kinerja kerja tidak lagi ditentukan semata oleh kemampuan teknis, tetapi oleh bagaimana individu memaknai pekerjaannya (job crafting), membangun keterlibatan (work engagement), dan mengembangkan kompetensi digital yang adaptif. Di sinilah AI berperan bukan sebagai pengganti manusia, melainkan sebagai co-creator yang memperluas kapasitas berpikir, belajar, dan berinovasi.

Dalam konteks kepemimpinan, penelitian tentang Strategic Digital Leadership menegaskan bahwa keberhasilan organisasi di era keberlanjutan tidak hanya bergantung pada digitalisasi, tetapi pada kelincahan organisasi (organizational agility) dan budaya yang manusiawi. Pemimpin digital masa kini dituntut tidak sekadar melek teknologi, tetapi mampu menumbuhkan kepercayaan, kolaborasi, dan rasa aman psikologis bagi timnya. Transformasi digital yang berkelanjutan lahir dari kepemimpinan yang berani belajar, rendah hati, dan konsisten pada nilai.
Sementara itu, di ranah pendidikan dan kewirausahaan, riset tentang entrepreneurial intention mahasiswa memperlihatkan bahwa penggunaan alat digital, bila dipadukan dengan faktor personal seperti self-efficacy dan kesiapan psikologis, mampu menumbuhkan keberanian untuk berinovasi. Pendidikan tidak lagi hanya mentransfer pengetahuan, tetapi lebih membangun learning autonomy~ kemampuan belajar secara mandiri, reflektif, dan kontekstual.
Menariknya, benang merah dari seluruh temuan ini adalah satu hal: manusia tetap pusat dari teknologi. Kepuasan kerja, komitmen organisasional, dan kinerja unggul tidak dapat dilepaskan dari kepemimpinan yang adil, kompetensi yang terus diasah, serta lingkungan yang mendukung pertumbuhan, bukan menekan. Digital tools mempercepat proses, tetapi nilai, integritas, dan relasi manusialah yang menentukan arah. Sumber Daya Manusia merupakan kunci menggapai keberlanjutan dalam menjaga cita-cita global.
Bagi komunitas akademik dan profesional seperti Forkompromi, refleksi ini menjadi pengingat bahwa keunggulan di era digital bukan hanya soal “siapa paling cepat beradaptasi”, melainkan siapa yang mampu bertumbuh dengan sadar~ menjaga keseimbangan antara kinerja, pembelajaran, dan kebahagiaan. AI, kepemimpinan digital, dan pendidikan kewirausahaan sejatinya adalah jalan untuk memperluas kemanusiaan kita, bukan mengerdilkannya. Jadilah diri yang kian tenang bersahaja dalam pencapaian, tidak gampang berubah haluan prinsip di sepanjang perjalanan adaptasi.
Sebagaimana semangat Forkompromi, riset dan diskusi ilmiah bukanlah tujuan akhir, melainkan sarana untuk saling menguatkan, berbagi makna, dan menumbuhkan dampak. Karena pada akhirnya, ilmu yang hidup adalah ilmu yang menyentuh manusia~ membuat kita lebih bijak bekerja, lebih berani belajar, dan lebih utuh sebagai insan pembelajar.

Semoga sekilas sapaan tulisan ini dapat menjadi booster bagi kita pembelajar sejati, dimanapun berada, Happy working, Happy learning, and Happy researching!
Dr. Endi Rekarti adalah dosen senior di MM SPs-UT, dan Pembina Forkompromi.
Sri Yusriani (Kak Sarah) adalah presiden Forkompromi, sedang menyelesaikan S3 Graduate School of Business, Riset Kak Sarah tentang Global Strategic Organizational Behaviour dalam Creativity and Entrepreneurship serta Community Empowerment, USM – HRM practitioner, Denmark. Peraih Training Edu Erasmus Plus Uni Eropa, Sept 2024- March 2025, GSB global FoC 2025 Awardee Shizenkan-IESE Tokyo-Barcelona Jan-April 2025
Penulis merupakan peneliti global, juga merupakan Tutor/ Dosen Pengampu pada Mata Kuliah Manajemen Strategik, Manajemen Operasi Jasa, Manajemen SDM. Operations Research - FEB Universitas Terbuka.
