Login
Siapa yang Akan Mengelola Pangan Masa Depan?

Endi Rekarti & Sri Yusriani

happylearning | forkompromi.com

Regenerasi petani, inovasi muda, dan transfer pengetahuan kini menjadi isu strategis, bukan lagi sekadar urusan sektor pertanian.

Di tengah derasnya pembahasan tentang kecerdasan buatan, geopolitik, dan transformasi digital, ada satu pertanyaan mendasar yang sesungguhnya sangat menentukan masa depan peradaban: siapa yang akan memproduksi pangan dunia pada dekade-dekade mendatang? Pertanyaan ini tidak terdengar spektakuler seperti perlombaan AI atau perang dagang global, tetapi dampaknya justru jauh lebih mendalam. Ketahanan pangan terkait langsung dengan stabilitas sosial, daya tahan ekonomi, kesehatan masyarakat, dan kedaulatan sebuah bangsa. Karena itu, ketika isu regenerasi petani mulai mengemuka di banyak negara, sesungguhnya dunia sedang membaca sinyal penting: sektor pangan membutuhkan generasi baru, paradigma baru, dan dukungan kebijakan yang jauh lebih serius.

Data global menunjukkan bahwa tantangan ini nyata. OECD menegaskan bahwa di negara-negara anggotanya, porsi tenaga kerja pertanian yang berusia 55 tahun ke atas berada di atas 25%, meskipun angkanya berbeda-beda antarnegara. Dalam beberapa negara, proporsi ini bahkan jauh lebih tinggi, menandakan bahwa pertanian sedang menghadapi masalah penuaan tenaga kerja yang sangat serius. Di Eropa, Komisi Eropa mencatat bahwa usia rata-rata petani adalah 57 tahun, dan hanya sekitar 12% petani yang berusia di bawah 40 tahun. Fakta ini adalah alarm struktural yang menunjukkan bahwa tanpa generasi penerus, masa depan sistem pangan menjadi makin rapuh.

Masalahnya, krisis regenerasi petani tidak bisa dijelaskan hanya dengan kalimat sederhana seperti “anak muda tidak tertarik bertani.” Realitasnya jauh lebih kompleks. Komisi Eropa menyoroti bahwa petani muda menghadapi banyak hambatan masuk: akses lahan yang mahal dan sulit, akses kredit yang rumit, keterbatasan layanan dan infrastruktur pedesaan, kebutuhan keterampilan bisnis yang makin tinggi, serta sistem suksesi pertanian yang sering lambat. Artinya, isu regenerasi petani berkaitan dengan minat generasi muda serta sistem ekonomi dan kebijakan menyediakan jalan masuk yang layak bagi mereka.

Di titik inilah isu pertanian berubah dari sekadar topik sektoral menjadi topik strategis lintas disiplin. Bagi mahasiswa S2 dan S3, ini adalah ladang kajian yang sangat kaya. Dari perspektif kebijakan publik, regenerasi petani menyentuh pertanyaan tentang reforma akses lahan, pembiayaan, pendidikan vokasional, insentif pajak, dan perlindungan pendapatan. Dari perspektif manajemen, tema ini mengajak kita membahas model bisnis pertanian yang adaptif, kewirausahaan agribisnis, rantai nilai, serta strategi inovasi di wilayah rural. Dari perspektif sosiologi dan komunikasi pembangunan, persoalannya meluas ke citra profesi petani, perubahan aspirasi generasi muda, dan konstruksi makna tentang “pekerjaan yang dianggap bergengsi.” Dengan kata lain, masa depan pertanian bukan hanya soal teknologi produksi, tetapi juga soal desain kelembagaan dan imajinasi sosial.

Menariknya, wacana global tentang petani muda kini mulai bergeser dari narasi krisis menuju narasi peluang. FAO menekankan bahwa generasi muda memiliki peran vital sebagai agen perubahan dalam transformasi wilayah rural dan sistem agrifood. Mereka diposisikan sebagai “penerus” serta sebagai aktor yang dapat mendorong inovasi, memperkuat ekonomi lokal, mengelola sumber daya alam, dan ikut merancang kebijakan pembangunan pedesaan. Dalam rilis regionalnya, FAO bahkan secara khusus menyoroti para petani muda di Eropa dan Asia Tengah yang menggunakan inovasi, visi, dan komitmen terhadap keberlanjutan untuk membentuk lanskap pertanian yang lebih tangguh dan inklusif.

Di sinilah kita melihat harapan besar itu: generasi muda tidak selalu datang dengan niat mengganti semua hal lama, tetapi sering kali datang dengan keberanian menghubungkan pengalaman lama dengan alat-alat baru. Mereka lebih dekat dengan teknologi, lebih terbuka pada eksperimen, dan dalam banyak kasus lebih responsif terhadap model usaha yang terhubung dengan data, pasar digital, dan isu keberlanjutan. OECD juga menekankan bahwa petani baru cenderung lebih terbuka terhadap adopsi teknologi dan menunjukkan kemampuan kewirausahaan yang lebih tinggi. Ini berarti regenerasi bukan hanya soal “ada pengganti,” tetapi juga soal peluang pembaruan kualitas sektor secara keseluruhan.

Namun pembaruan itu tidak akan berhasil bila generasi muda dibiarkan berjalan sendiri. Di banyak wilayah, salah satu kekuatan terpenting pertanian justru terletak pada transfer pengetahuan antargenerasi. Pengalaman petani senior tentang musim, tanah, risiko, jaringan lokal, dan pembacaan situasi lapangan tetap memiliki nilai yang tidak tergantikan. Sementara itu, generasi muda membawa literasi digital, pendekatan manajerial baru, dan keberanian mengakses pasar yang lebih luas. FAO menegaskan bahwa inovasi dalam family farming seharusnya bersifat inklusif, melibatkan petani keluarga dalam proses penciptaan, berbagi, dan penggunaan pengetahuan, sehingga mereka memiliki rasa kepemilikan terhadap perubahan itu sendiri. Dengan demikian, pertanian masa depan yang kuat bukan dibangun di atas pertentangan antara tradisi dan modernitas, melainkan di atas dialog yang produktif antara keduanya.

Bagi profesional dan pengambil kebijakan, ada pelajaran penting yang tidak boleh diabaikan. Membahas regenerasi petani tidak cukup hanya dengan slogan “ajak anak muda kembali ke desa.” Yang lebih penting adalah membangun ekosistem yang memungkinkan mereka bertahan dan berkembang. Ekosistem itu mencakup akses modal yang masuk akal, infrastruktur digital yang memadai, pelatihan bisnis dan teknologi, perlindungan sosial, jejaring koperasi, hingga sistem pemasaran yang lebih adil. FAO dalam laporan The Status of Youth in Agrifood Systems juga menekankan bahwa transformasi sistem agrifood yang inklusif dapat memperbaiki peluang kerja layak, ketahanan pangan, dan resiliensi kaum muda terhadap guncangan ekonomi dan lingkungan.

Ada dimensi inspiratif yang sangat kuat di balik isu ini. Selama ini, banyak masyarakat tanpa sadar meletakkan pertanian dalam posisi yang ambigu: semua orang membutuhkannya, tetapi tidak semua orang menghargainya sebagai profesi masa depan. Padahal, dalam era krisis iklim, tekanan geopolitik, dan gangguan rantai pasok global, profesi yang berkaitan dengan pangan justru semakin strategis. Pertanian hari ini bukan lagi sekadar kerja fisik tradisional. Ia dapat menjadi ruang inovasi, laboratorium keberlanjutan, arena kewirausahaan sosial, dan tempat lahirnya kepemimpinan lokal. Ketika seorang anak muda memilih masuk ke pertanian modern, ia tidak sedang mundur dari zaman; ia bisa jadi sedang berdiri di garis depan peradaban yang mencoba menjaga keberlanjutan hidup manusia. Ini adalah inferensi yang masuk akal dari arah kebijakan OECD, FAO, dan Komisi Eropa yang sama-sama menempatkan generational renewal sebagai agenda penting bagi masa depan pangan.

Bagi kampus, isu ini juga membuka peluang besar untuk membangun riset dan pengabdian yang lebih berdampak. Universitas dapat menjadi penghubung antara pengetahuan ilmiah dan praktik lapangan, antara inovasi teknologi dan kebutuhan komunitas, antara mahasiswa dan realitas produksi pangan yang sering jauh dari pusat kota. Program pascasarjana dapat mendorong riset tentang kewirausahaan pertanian, digitalisasi rural, kepemimpinan komunitas pangan, atau model kolaborasi antara petani muda dan petani senior. Di titik inilah pendidikan tinggi menemukan relevansinya yang paling nyata, seperti ikut merancang masa depan sektor yang menopang kehidupan manusia sehari-hari.

Pada akhirnya, pertanyaan “siapa yang akan mengelola pangan masa depan?” adalah pertanyaan tentang bagaimana sebuah masyarakat memandang masa depan, menghargai profesi penghasil pangan, dan menyiapkan generasi baru dengan dukungan yang memadai. Jika generasi muda diberi akses, ruang, dan martabat, maka pertanian tidak tampak sebagai sektor yang ditinggalkan, namun sebagai medan inovasi yang menantang dan bermakna. Jika transfer pengetahuan dapat dijaga, maka masa depan pangan tidak harus dibangun dengan memutus masa lalu, melainkan dengan merawat akar sambil menumbuhkan cabang baru. Perlu selalu ada tenaga-tenaga peduli yang menyemangati Masyarakat atau komunitas untuk kian meningkatkan keterampilan pada pengelolaan pangan. Yok, ajari anak-anak kita menyukai bertanaman #gardening #berkebun agar menjadi hobby nan manfaat, berkah dan berkelanjutan! Semangat!

Dear,

Masa depan pangan tidak akan ditentukan hanya oleh benih yang unggul atau teknologi yang canggih, tetapi oleh manusia yang mau belajar, mewarisi pengetahuan, dan berani menanam harapan dalam sistem yang lebih adil. Di situlah regenerasi petani menjadi lebih dari sekadar isu tenaga kerja. Ia adalah isu tentang keberlanjutan peradaban, martabat profesi, dan keberanian generasi baru untuk merawat dunia.

Happy learning, happy working, and Happy researching!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *