
By Kak Sarah’s Academic Notes | #happyresearching #publicationliteracy

Assalamu’alaykum Salam Sejahtera!
Dear happy researchers, pernah nggak kita dengar kalimat seperti ini:
“Jurnal ini SINTA 2, berarti Scopus ya?” Q & A kita kali ini, banyak sekali pertanyaan serupa, So, kita pahami bareng yah!
“Kalau SINTA 1 pasti internasional bereputasi dong?”
“Kalau artikel sudah terbit di jurnal bagus, otomatis masuk Scopus?”
Nah, slow down, dear scholars.
Dalam dunia publikasi ilmiah, nama indeks itu bukan sekadar label keren. Ia adalah sistem verifikasi, reputasi, cakupan database, dan kadang juga menjadi bagian dari penilaian akademik. Karena itu, penting sekali bagi mahasiswa, dosen, peneliti, dan penulis pemula untuk memahami perbedaan antara SINTA, Scopus, Web of Science, ESCI, DOAJ, Garuda, dan Google Scholar.
Jawaban singkatnya:
SINTA 1 atau SINTA 2 tidak otomatis berarti Scopus indexed. Namun, sebagian jurnal SINTA 1 atau SINTA 2 bisa saja juga terindeks Scopus, Web of Science, ESCI, DOAJ, atau database lain. Jadi, kuncinya bukan menebak dari label SINTA, tetapi memverifikasi langsung melalui database resmi.
1. SINTA Itu Apa?
SINTA adalah singkatan dari Science and Technology Index, yaitu sistem indeks dan pemeringkatan ilmiah Indonesia. SINTA digunakan untuk menampilkan dan menilai kinerja jurnal, peneliti, institusi, publikasi, sitasi, dan berbagai aktivitas akademik di Indonesia.
Dalam konteks jurnal, SINTA sering dikenal melalui tingkatan seperti:
- SINTA 1
- SINTA 2
- SINTA 3
- SINTA 4
- SINTA 5
- SINTA 6
Secara sederhana, SINTA 1 adalah kategori tertinggi dalam sistem akreditasi jurnal nasional Indonesia, sedangkan SINTA 2 juga termasuk kategori tinggi dan sangat dihargai dalam banyak konteks akademik nasional.
Namun, perlu diingat, SINTA adalah sistem nasional Indonesia. Scopus adalah database internasional milik Elsevier. Web of Science adalah database internasional milik Clarivate.
Jadi, mereka tidak sama. Di Malaysia, “yang seperti Sinta”, ada juga, Kita melihat di website info Kementerian Pendidikan Malaysia juga, ‘Index-nya MYCite’~ ada MyCite yang juga terindex Scopus, ada yang tidak. Di Thailand, Denmark, Filipina, dll juga ada. Beda negara, beda-beda jenis pelevel-an akreditasi journal-nya.
2. Jadi, Apakah SINTA 1 Itu Pasti Scopus?
Tidak selalu.
Ada jurnal SINTA 1 yang juga terindeks Scopus. Ada juga jurnal nasional bereputasi tinggi yang belum tentu aktif di Scopus. Maka, kita tidak boleh hanya membaca “SINTA 1” lalu langsung menyimpulkan “Scopus indexed”.
Kalimat yang benar adalah:
SINTA 1/SINTA 2 menunjukkan kualitas dan akreditasi dalam sistem nasional Indonesia. Scopus indexed menunjukkan bahwa jurnal atau artikel tersebut tercakup dalam database Scopus.
Keduanya bisa bertemu, tetapi tidak otomatis sama. (Bisa melakukan pengecekan disini pula: https://www.scimagojr.com/)
3. Table 1. Perbedaan SINTA, Scopus, Web of Science/ESCI, DOAJ, Garuda, dan Google Scholar
| Platform/Index | Fokus Utama | Apakah Nasional/Internasional? | Apa yang Dicek? | Catatan Penting |
| SINTA | Akreditasi, sitasi, dan performa ilmiah Indonesia | Nasional Indonesia | Jurnal, penulis, institusi, publikasi | SINTA 1 dan SINTA 2 sangat bernilai secara nasional, tetapi tidak otomatis Scopus. |
| Scopus | Abstract and citation database | Internasional | Jurnal, artikel, conference proceedings, book series | Harus diverifikasi melalui Scopus Source List atau pencarian artikel di Scopus. |
| Web of Science Core Collection | Citation index internasional | Internasional | Jurnal dan artikel ilmiah | Mencakup indeks seperti SCIE, SSCI, AHCI, dan ESCI. |
| ESCI | Emerging Sources Citation Index | Internasional | Jurnal yang masuk Web of Science Core Collection kategori ESCI | ESCI adalah bagian dari Web of Science Core Collection, tetapi perlu dibedakan dari SCIE/SSCI/AHCI. |
| DOAJ | Directory of Open Access Journals | Internasional | Jurnal open access | DOAJ penting untuk melihat kualitas dan transparansi jurnal OA, tetapi DOAJ bukan Scopus. |
| Garuda | Garba Rujukan Digital Indonesia | Nasional Indonesia | Artikel dan jurnal Indonesia | Bagus untuk akses dan dokumentasi publikasi nasional. |
| Google Scholar | Mesin pencari akademik | Global, tetapi tidak selektif seperti Scopus/WoS | Artikel, buku, repositori, kutipan | Sangat luas, tetapi tidak sama dengan indeks bereputasi terkurasi. |
4. Table 2. SINTA 1/SINTA 2 vs Scopus Indexed
| Pertanyaan | Jawaban Singkat |
| Apakah SINTA 1 sama dengan Scopus? | Tidak. SINTA 1 adalah kategori akreditasi nasional; Scopus adalah database internasional. |
| Apakah jurnal SINTA 1 bisa Scopus indexed? | Bisa, tetapi mesti dicek langsung. Terkadang dalam satu journal nasional suatu negara, hanya beberapa artikel yang terindex Scopus. |
| Apakah jurnal SINTA 2 bisa Scopus indexed? | Bisa juga, tetapi tidak otomatis. |
| Apakah artikel di jurnal Scopus pasti muncul di Scopus? | Belum tentu langsung. Perlu dicek berdasarkan title, DOI, year, issue, dan coverage period. |
| Apakah ESCI sama dengan Scopus? | Tidak. ESCI berada di Web of Science Core Collection, sedangkan Scopus milik Elsevier. |
| Apakah DOAJ sama dengan jurnal bereputasi internasional? | DOAJ adalah direktori OA yang dikurasi, tetapi bukan pengganti Scopus atau Web of Science. |
| Apa cara paling aman? | Cek di database resmi, bukan hanya dari klaim website jurnal. |
5. Cara Verifikasi Jurnal Terindeks Scopus
Untuk mengecek apakah sebuah jurnal benar-benar terindeks Scopus, lakukan langkah berikut:
Step 1: Cari nama jurnal di Scopus Source List
Gunakan nama jurnal atau ISSN. Jangan hanya mengandalkan poster, flyer, atau tulisan “Scopus indexed” di website jurnal.
Step 2: Cek status coverage
Perhatikan apakah status jurnal masih aktif atau sudah discontinued. Ini penting sekali. Ada jurnal yang dulu pernah terindeks Scopus, tetapi kemudian dihentikan coverage-nya.
Step 3: Cek tahun publikasi
Pastikan tahun artikel kita termasuk dalam periode coverage Scopus. Misalnya, jurnal terindeks Scopus sampai 2023, tetapi artikel kita terbit 2025. Maka artikel tersebut belum tentu masuk Scopus.
Step 4: Cek artikel by title atau DOI
Jangan hanya cek jurnalnya. Cek juga artikelnya. Search judul artikel atau DOI di Scopus. Artikel dianggap benar-benar terindeks Scopus jika record artikelnya muncul di Scopus.
Step 5: Cocokkan ISSN, publisher, dan website resmi
Kadang ada jurnal palsu atau cloned journal. Pastikan ISSN, publisher, dan website jurnal sama dengan yang tercatat di database resmi.
6. Cara Verifikasi Jurnal Terindeks ESCI atau Web of Science
Untuk Web of Science, gunakan Clarivate Master Journal List.
Langkah sederhananya:
- Cari nama jurnal atau ISSN.
- Cek apakah jurnal masuk Web of Science Core Collection.
- Lihat indeksnya: apakah SCIE, SSCI, AHCI, atau ESCI.
- Setelah artikel terbit, cari judul artikel atau DOI di Web of Science.
- Jangan hanya menulis “Web of Science indexed” tanpa menyebut indeksnya. Lebih akademik jika ditulis jelas: “indexed in ESCI” atau “indexed in SSCI”, misalnya.
Ini penting karena dalam beberapa kebijakan akademik, nilai SCIE/SSCI/AHCI dan ESCI bisa diperlakukan berbeda. Always check your campus or ministry policy, dear researchers.
7. Cara Verifikasi DOAJ, Garuda, dan SINTA
Untuk DOAJ, cek jurnal melalui website DOAJ dengan nama jurnal atau ISSN. DOAJ membantu menunjukkan bahwa jurnal open access tersebut masuk dalam direktori OA yang dikurasi.
Untuk Garuda, cek artikel atau jurnal melalui portal Garuda.
Untuk SINTA, cek jurnal melalui halaman jurnal SINTA. Di sana biasanya terlihat informasi seperti peringkat SINTA, subject area, publisher, ISSN, citation metrics, dan kadang label indeksasi seperti Garuda Indexed atau Scopus Indexed bila tersedia.
8. Hati-Hati dengan Kalimat Marketing Jurnal
Beberapa jurnal menulis:
“Indexed by Google Scholar, ResearchGate, Academia.edu, Crossref, Garuda, Copernicus, DOAJ, Scopus, Web of Science…”
Kalimat seperti ini harus dibaca dengan critical thinking.
Tidak semua “indexed by” memiliki bobot yang sama. Misalnya:
- Crossref biasanya berkaitan dengan DOI registration, bukan kualitas jurnal.
- Google Scholar sangat luas dan tidak sama dengan database terkurasi seperti Scopus/WoS.
- ResearchGate dan Academia.edu bukan indeks jurnal resmi.
- Scopus dan Web of Science harus dicek di database resmi, bukan hanya dari logo di website jurnal.
Jadi, prinsipnya:
Logo is not enough. Screenshot is not enough. Claim is not enough. Verify the source.
9. Creative Thinking: Jangan Hanya Mengejar Index, Bangun Research Identity
Publikasi itu bukan hanya tentang “masuk mana?” tetapi juga “menjawab masalah apa?”
Jurnal bereputasi biasanya mencari artikel yang punya:
- Clear research gap, Ada celah ilmiah yang nyata, bukan sekadar “belum banyak diteliti”.
- Strong theoretical contribution. Artikel tidak hanya mendeskripsikan data, tetapi memberi pemahaman baru.
- Solid methodology. Metode harus sesuai, transparan, dan dapat dipertanggungjawabkan.
- International conversation. Artikel mesti berdialog dengan literatur global, bukan hanya laporan lokal.
- Originality and relevance. Topik boleh lokal, tetapi insight-nya mesti punya nilai yang bisa dipahami pembaca internasional.
- Academic patience. Publish itu proses. Revisi, reject, submit ulang, rewrite, improve~ semuanya bagian dari jalan ilmiah. Tidak ada jalan instant yang paling mudah dan paling cepat untuk suatu pemahaman mendalam yang dapat membuahkan keilmuan nan mengakar kuat, pintu pengetahuan adalah rajin membaca, mengikat informasi dan ilmu adalah dengan cara menulis.
Ingat, dear scholars:
A good publication is not born from shortcut thinking. It is built through reading, writing, revising, surviving, and growing.
10. Table 3. Quick Checklist Sebelum Submit Artikel
| Checklist | Pertanyaan Reflektif |
| Scope journal | Apakah topik artikel sesuai dengan scope jurnal? |
| Index verification | Apakah jurnal benar-benar terindeks di database resmi? |
| Coverage period | Apakah tahun terbit artikel masuk dalam periode coverage? |
| Article type | Apakah article type kita termasuk yang diindeks? |
| Publication ethics | Apakah jurnal punya peer review, ethics statement, APC transparency, dan editorial board jelas? |
| Similarity check | Apakah similarity aman dan parafrasa sudah akademik? |
| Reference quality | Apakah referensi cukup baru, relevan, dan berasal dari sumber kuat? |
| Contribution | Apa novelty dan contribution artikel kita? |
| Language | Apakah English/Indonesian academic writing sudah rapi? |
| Patience | Siapkah kita menerima revisi panjang tanpa patah hati? |
11. Kesimpulan: SINTA Itu Penting, Scopus Itu Berbeda
SINTA 1 dan SINTA 2 adalah pencapaian penting dalam ekosistem publikasi nasional Indonesia. Namun, keduanya tidak otomatis berarti Scopus indexed. Scopus, Web of Science, ESCI, DOAJ, Garuda, dan SINTA memiliki fungsi, cakupan, dan sistem seleksi yang berbeda.
Maka, sebagai penulis akademik, kita perlu membangun kebiasaan baru:
Read carefully. Verify officially. Write honestly. Publish responsibly.
Jangan hanya mengejar label. Kejar juga kualitas gagasan. Karena pada akhirnya, nama kita di artikel bukan hanya tanda pernah publish, tetapi jejak bahwa kita pernah berpikir, kreatif, berjuang, dan memberi kontribusi pada ilmu pengetahuan.
Thanks for keep growing, Happy writing, happy learning, happy researching yah!
Because every serious scholar starts from confusion, grows through revision, and shines through perseverance. Have a great Day!

At Grindsted Denmark #summervibes, June 25, 2026.
@sriysarahjourney
References:
