Login
Belajar dari Eropa: Kepercayaan sebagai Modal Sosial

"Trust takes years to build, seconds to break, and a lifetime to rebuild."

(*Sri Yusriani)

Suatu sore di Denmark, saya selesai berbelanja beberapa kebutuhan rumah tangga. Seperti biasa, botol-botol minuman bekas tidak langsung dibuang ke tempat sampah. Sebaliknya, saya membawanya kembali ke supermarket untuk dimasukkan ke dalam mesin pant. Mesin tersebut secara otomatis menghitung jumlah botol, lalu mencetak voucher yang dapat digunakan untuk potongan belanja berikutnya. Dulu di Poland sekitar 2009 – 2013, sudah ada mesin recycle seperti ini, namun tidak banyak, dan kebanyakan toko masih menerapkan metode manual. Sementara itu, Ketika trip ke Berlin (Germany) 2010, 2013, 2022, 3-4 botol kosong tersebut bisa ditukar dengan roti gandum yang enak.

Lima tahun berada di Denmark, saya baru mengerti kenapa isi mobil orang-orang sekitar banyak karung ketika masuk ke grosir-an, ternyata karung itu berisi botol-botol minuman daur ulang (ada kode di luar botol). Tentu saja dengan bebeberapa karung botol, misalkan 3 karung botol (yang seperti karung beras 20 kg), tatkala dihitung oleh mesin otomatis, kemungkinan bisa mencetak voucher ‘nominalnya sekitar 250-300 Krone Danish’, kurs IDR sekitar 800 ribu-an Rupiah. Cukup buat berbelanja lauk dapur dengan menu komplet empat sehat lima sempurna selama tiga atau empat hari.

Hal yang menarik bukan sekadar teknologinya. Saya paling tertarik pada kepercayaannya. Sistem itu berjalan karena masyarakat percaya bahwa sebagian besar orang akan mengembalikan botol sebagaimana mestinya. Tidak ada petugas yang berdiri mengawasi setiap orang. Kita hanya berinteraksi dengan mesin ini. Tidak ada pemeriksaan berlapis. Orang-orang bekerja mengumpulkan botol bekas minumannya sendiri adalah kebiasaan, integritas, dan rasa tanggung jawab bersama.

Sejak 2021, Pengembalian botol bekas di Denmark meraih angka tertinggi dari seluruh Eropa (more than 96%) membuktikan kepedulian masyarakat pada reuse dan recycle amat tinggi.

Pengalaman sederhana seperti itu perlahan mengajarkan bahwa pembangunan bukan hanya soal gedung, jalan raya, atau teknologi. Pembangunan juga dibangun oleh kepercayaan. Kepercayaan menerbitkan rasa nyaman, aman dan tenang. Inilah hal mahal yang mungkin rakyat di tanah air belum bisa peroleh, meskipun officially telah merdeka 80 tahun lebih.

Dalam kesempatan lain, saya pernah terlambat beberapa menit menuju halte bus di Billund. Saya melihat seorang ibu mendorong kereta bayi sambil menyeberangi jalur sepeda. Para pesepeda melambat dengan tertib, sementara pejalan kaki pun menunggu sesuai giliran. Tidak ada klakson. Tidak ada teriakan, tenang dan tertib. Semua orang tampak memahami ruang masing-masing.

Bagi pendatang, tentu saja suasana seperti ini terasa menarik. Bukan karena masyarakat Eropa selalu sempurna menjunjung tinggi kemanusiaan, melainkan karena banyak aktivitas sehari-hari berjalan di atas fondasi social trust~ nyata, kepercayaan bahwa setiap orang akan berusaha menjalankan perannya dengan bertanggung jawab.

Tidak perlu membuang dana dalam proses audit yang berbelit, proses evaluasi dan verifikasi berlebihan Ketika setiap orang sudah punya kejujuran dan menjaga amanah sesuai tugas dan wewenang yang telah melekat pada dirinya.

Kepercayaan sebagai Modal Sosial

Berbagai penelitian menunjukkan bahwa kepercayaan merupakan salah satu bentuk modal sosial (social capital) yang sangat penting bagi pembangunan masyarakat.

Francis Fukuyama (1995) menjelaskan bahwa masyarakat dengan tingkat kepercayaan yang tinggi cenderung memiliki biaya transaksi yang lebih rendah, kolaborasi yang lebih mudah, serta pertumbuhan ekonomi yang lebih kuat. Sementara itu, Robert Putnam (2000) menunjukkan bahwa modal sosial memperkuat partisipasi masyarakat, kerja sama, dan efektivitas institusi publik.

Dengan kata lain, ketika masyarakat saling percaya, energi tidak habis untuk saling mencurigai. Di tanah air, kota dan desa, Ketika ingin belajar dan berkembang dengan bersemangat, murid-murid masih merasakan ‘pemadaman Listrik yang tiba-tiba’, orang tua masih merasakan pungli saat berjualan di kedai atau pasar local, dan kepanikan terjadi di sudut-sudut kota~ lintas generasi, tatkala pemangkasan jumlah tenaga kerja makin merajalela. Sedangkan ada segelintir orang (yang tanpa perlu ijazah sarjana atau pengalaman dunia kerja) yang bisa bekerja dengan bersiram rupiah atau dollar dalam hitungan sekejap mata karena keistimewaan akrab dengan para penguasa. Energi rakyat terkuras, untuk mengingatkan para pemimpin bangsa.

Again, ketika masyarakat dan semua pihak bisa saling percaya, energi tidak habis untuk saling mencurigai.  Sebaliknya, energi dapat diarahkan untuk berinovasi, bekerja sama, dan menyelesaikan berbagai persoalan bersama.

Kepercayaan Tidak Datang Begitu Saja

Budaya percaya bukan muncul dalam semalam. Seluruh aspeknya dibangun melalui proses yang panjang. Mulai dari pendidikan karakter di rumah, pembiasaan di sekolah, keteladanan para pemimpin, pelayanan publik yang transparan, hingga konsistensi penegakan hukum.

Laporan OECD juga menunjukkan bahwa tingkat kepercayaan masyarakat berkaitan erat dengan kualitas tata kelola pemerintahan, integritas institusi, dan kesejahteraan sosial (OECD, berbagai laporan Trust in Government). Artinya, semakin konsisten sebuah sistem bekerja secara adil, semakin tinggi pula kepercayaan masyarakat terhadap sistem tersebut.

Indonesia Juga Memiliki Modal yang Besar

Belajar dari Eropa bukan berarti menganggap Indonesia tertinggal. Bukan pula “bunyi study banding Eropa” dijadikan alasan untuk jalan-jalan semata. Mari belajar bagaimana penerapan kejujuran dan terbitnya social trust yang kuat bisa tertular pada pemimpin ‘yang telah study banding’, supaya kemudian menular kepada rakyatnya. Itulah wujud pertanggung-jwaban sejati dalam penggunaan dana APBN.

Sungguh, Indonesia memiliki kekuatan yang tidak kalah berharga. Budaya gotong royong, kepedulian terhadap tetangga, kebiasaan saling membantu saat musibah, hingga tradisi musyawarah merupakan bentuk modal sosial yang telah hidup selama bertahun-tahun. Super keren dan amat membanggakan.

Hal yang terus diperkuat adalah bagaimana modal sosial tersebut berjalan berdampingan dengan profesionalisme, disiplin, transparansi, dan integritas. Dengan demikian, rasa kekeluargaan tidak berhenti sebagai nilai budaya, tetapi juga menjadi kekuatan dalam pelayanan publik, pendidikan, penelitian, dunia usaha, maupun pembangunan nasional.

Secuil goresan pena ini adalah pemantik dari beberapa preliminary study yang menjadi salah satu trajectory research penulis. Sebagai product dari negeri Gemah ripah Loh jinawi, tentu penulis senantiasa menguntai doa untuk rakyat Indonesia, dan dengan sumber daya apapun yang kita miliki, semoga ada kontribusi yang kita berikan, at least  untuk anak-anak dan generasi muda Indonesia supaya tidak pernah ada kata menyerah atau putus asa, apapun cabaran yang dihadapi di tanah air.

Refleksi

Selama tinggal di Eropa, saya belajar bahwa kemajuan sebuah negara ternyata tidak selalu ditunjukkan oleh teknologi yang paling canggih. Kadang, kemajuan justru terlihat dari hal-hal yang sederhana. Orang-orang mengembalikan botol bekas tanpa disuruh.

Pengguna jalan menghormati hak orang lain. Masyarakat menjaga fasilitas umum seolah-olah itu milik mereka sendiri. Hal-hal kecil seperti itulah yang, ketika dilakukan oleh jutaan orang setiap hari, perlahan membentuk sebuah bangsa yang kuat.

Mungkin pelajaran terbesarnya bukanlah bagaimana menjadi seperti Eropa. Melainkan bagaimana setiap masyarakat dapat membangun budaya saling percaya sesuai dengan nilai-nilai luhur yang dimilikinya. Karena pada akhirnya, pembangunan yang berkelanjutan tidak hanya membutuhkan sumber daya alam dan teknologi. Pembangunan membutuhkan manusia-manusia yang dapat dipercaya. Maka, hinga era digital ini, pesan kakek dan nenek kita tetap relevan, “Jujurlah Engkau dimana pun berada. Karena kejujuran merupakan mata uang yang berlaku dimanapun, dear….”

Referensi

Fukuyama, F. (1995). Trust: The Social Virtues and the Creation of Prosperity. Free Press.

OECD. Government at a Glance dan berbagai laporan Trust in Government.

Putnam, R. D. (2000). Bowling Alone: The Collapse and Revival of American Community. Simon & Schuster.

World Bank. Human Capital Project.

forkompromi.com

Forkompromi Youtube Channel

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *