Login
World Elder Abuse Awareness Day: Menghormati Mereka yang Lebih Dahulu Berjalan 👵👴

Oleh: Forkompromi Editorial Team
15 Juni

Pohon tua tetap memberi teduh,
Meski rantingnya tak lagi muda.
Hormati mereka dengan sungguh-sungguh,
Karena doa orang tua adalah cahaya kehidupan kita.

Di tengah dunia yang bergerak semakin cepat, perhatian manusia sering tersita oleh teknologi, produktivitas, target pekerjaan, dan berbagai pencapaian modern. Namun di balik kemajuan tersebut, terdapat kelompok yang kerap luput dari perhatian: para lansia.

Setiap tanggal 15 Juni, dunia memperingati World Elder Abuse Awareness Day (WEAAD) sebagai momentum untuk meningkatkan kesadaran tentang pentingnya perlindungan, penghormatan, dan kesejahteraan bagi orang lanjut usia. Peringatan ini diinisiasi oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sebagai bentuk komitmen global untuk melawan berbagai bentuk kekerasan, penelantaran, eksploitasi, dan diskriminasi terhadap lansia.

Di Indonesia maupun di berbagai negara lain, jumlah penduduk lanjut usia terus meningkat. Fenomena ini menunjukkan keberhasilan manusia dalam meningkatkan kualitas kesehatan dan memperpanjang usia harapan hidup. Namun, peningkatan jumlah lansia juga membawa tantangan baru: bagaimana memastikan mereka tetap memperoleh martabat, penghormatan, dan kualitas hidup yang layak.

Menjadi Tua Bukanlah Kelemahan

Masyarakat modern sering kali terlalu mengagungkan usia muda, kecepatan, dan produktivitas. Tanpa disadari, muncul stereotip bahwa menjadi tua identik dengan ketidakmampuan, ketergantungan, atau beban sosial.

Padahal kenyataannya tidak demikian.

Menjadi tua adalah sebuah pencapaian hidup.

Di balik setiap keriput terdapat cerita jejak perjuangan. Di balik setiap langkah yang melambat terdapat pengalaman puluhan tahun yang tidak dapat dibeli dengan uang maupun teknologi.

Mereka pernah menjadi anak-anak yang bermimpi. Mereka pernah mengalami masa muda yang penuh cabaran, menjadi pelajar yang berjuang tangguh. Mereka pernah menjadi orang tua yang bekerja keras demi keluarga. Mereka pernah menjadi guru, petani, nelayan, pegawai, pemimpin, peneliti, pengusaha, atau pekerja yang membangun masyarakat yang kita nikmati hari ini.

Karena itu, mereka adalah bentuk penghargaan terhadap sejarah kehidupan manusia itu sendiri.

Kekerasan terhadap Lansia Tidak Selalu Berupa Kekerasan Fisik

Ketika mendengar istilah elder abuse, banyak orang langsung membayangkan kekerasan fisik. Padahal dalam praktiknya, bentuk kekerasan terhadap lansia jauh lebih luas dan sering terjadi secara tersembunyi.

Bentuk-bentuk tersebut antara lain:

1. Penelantaran Emosional

Seseorang mungkin tinggal serumah dengan orang tuanya, tetapi tidak pernah benar-benar mendengarkan cerita mereka.

Telepon tidak pernah diangkat.

Pesan tidak pernah dibalas.

Kebutuhan emosional mereka diabaikan.

Kesepian yang berkepanjangan dapat berdampak serius terhadap kesehatan mental lansia.

2. Kekerasan Verbal

Ucapan seperti:

"Bapak sudah tua, tidak mengerti apa-apa."

"Ibu diam saja. Masuk sana!"

"Jangan ikut campur urusan anak muda!"

mungkin terdengar sederhana, tetapi dapat melukai harga diri seseorang yang sepanjang hidupnya telah berkontribusi bagi keluarganya. Bahkan lansia di hadapan kita ini adalah manusia yang membuat kita bisa berada di muka bumi saat ini.

Ketika tidak sanggup menjaga Tata Bahasa kita saat merawat lansia, maka carilah solusi terbaik, diam yang bijak atau mencari perantaraan penutur yang bisa menjaga kestabilan emosi dalam keluarga, adalah tanggung jawab untuk tetap peduli dan menghormati eksistensi lansia, dalam keluarga dan lingkungan sekitar.

3. Eksploitasi Finansial

Dalam beberapa kasus, lansia menjadi korban manipulasi ekonomi. Di Thailand, Indonesia, Filipina misalnya, kerap scammers mengincar lansia, terutama yang berada dalam usia pensiunan~ guna mengincar dana tabungan pensiun mereka, ataupun penipuan property dan sejenisnya.

Ada yang dipaksa menandatangani dokumen yang tidak dipahami. Ada pula yang kehilangan tabungan puluhan tahun hasil kerja keras karena dimanfaatkan oleh orang terdekat.

4. Pengucilan Sosial

Sebagian lansia kehilangan ruang untuk berpartisipasi dalam kehidupan sosial.

Pendapat mereka tidak lagi didengarkan.

Keberadaan mereka dianggap tidak relevan.

Padahal setiap manusia tetap membutuhkan rasa dihargai hingga akhir hayatnya.

Apa yang Bisa Kita Lakukan?

Kabar baiknya, kepedulian terhadap lansia tidak selalu memerlukan program besar atau biaya mahal.

Perubahan dapat dimulai dari tindakan sederhana.

Mendengarkan dengan Tulus

Luangkan waktu untuk berbicara dengan orang tua atau kakek-nenek.

Terkadang yang mereka butuhkan adalah seseorang yang bersedia mendengarkan.

Mengunjungi Mereka

Di era komunikasi digital, kunjungan langsung tetap memiliki makna yang tidak tergantikan.

Satu jam kebersamaan sering kali lebih berharga daripada puluhan pesan singkat.

Membantu Adaptasi Teknologi

Banyak lansia merasa terasingkan karena perkembangan teknologi yang sangat cepat.

Mengajari mereka dengan penuh kesabaran untuk menggunakan telepon pintar, video call, atau aplikasi sederhana dapat membantu mereka tetap terhubung dengan keluarga.

Menghargai Pengalaman Mereka

Mintalah mereka bercerita.

Tanyakan pengalaman hidup mereka, meskipun berkali-kali cerita yang sama akan mengalir dari lisan mereka.

Banyak pelajaran kepemimpinan, ketangguhan, dan kebijaksanaan yang tidak pernah diajarkan di ruang kelas, tetapi tersimpan dalam pengalaman generasi yang lebih tua. Bukankah ketika kita balita, kita pun suka bercerita berulang-kali untuk meyakinkan orang tua dan orang-orang sekitar bahwa kita bisa bercerita? Ini adalah salah satu bahan refleksi diri kita.

Implementasi di Sekitar Kita

Di lingkungan keluarga, kita dapat membuat kebiasaan sederhana seperti makan bersama seminggu sekali tanpa gangguan gawai.

Di lingkungan RT atau komunitas, kegiatan kunjungan lansia dapat menjadi sarana memperkuat hubungan sosial. Jangan ditolak mentah-mentah jika ada lansia menyampaikan ide klasik, ingin menjadi anggota pengurus atas suatu events apapun, dan sejenisnya, hanya gara-gara usia pensiunan.

Di sekolah dan kampus, mahasiswa dapat melakukan program pengabdian masyarakat yang melibatkan lansia sebagai narasumber kehidupan, bukan sekadar penerima bantuan.

Di tempat kerja, organisasi dapat menyediakan program transisi pensiun yang membantu pekerja senior tetap merasa dihargai dan produktif.

Di lingkungan digital, kita dapat lebih bijak dalam menyebarkan informasi dan menghindari stereotip negatif terhadap kelompok usia lanjut.

Semua langkah kecil tersebut merupakan bentuk nyata penghormatan terhadap martabat manusia.

Mengukur Peradaban dari Cara Kita Memperlakukan Lansia

Kemajuan sebuah bangsa tidak melulu diukur melalui gedung tinggi, kecanggihan teknologi, atau pertumbuhan ekonomi.

Peradaban yang maju juga tercermin dari bagaimana masyarakat memperlakukan kelompok yang rentan.

Anak-anak, penyandang disabilitas, dan lansia merupakan cermin kualitas kemanusiaan sebuah masyarakat. Mari tetap belajar bersama!

Apabila mereka hidup dengan aman, dihormati, dan dilindungi, maka kita dapat mengatakan bahwa pembangunan benar-benar memanusiakan manusia.

Sebaliknya, jika mereka diabaikan, maka kemajuan yang dicapai hanya akan menjadi angka tanpa makna.

Reminder dear,

Suatu hari nanti, jika Allah SWT mengizinkan, kita semua berharap dapat mencapai usia lanjut.

Kita berharap didengarkan di usia yang (mungkin saja) rekan-rekan sebaya sudah tiada di dunia ini, hanya tersisa segelintir teman lama dengan usia sama-sama sepuh.

Kita berharap masih tetap dihormati meski tak lagi gagah seperti usia muda,

Kita berharap tetap dianggap berharga, meski sumber daya tersisa hanyalah untaian doa dari tangan keriput kita,

Maka perlakukanlah para lansia hari ini sebagaimana kita ingin diperlakukan di masa depan.

Mari menjaga orang tua, kakek-nenek, tetangga lansia, serta para senior di sekitar kita dengan lebih sabar, lebih peduli, dan lebih manusiawi.

Karena pada akhirnya, angka usia boleh menua, tetapi martabat manusia tidak pernah memiliki tanggal kedaluwarsa.

Semoga bermanfaat,

Love them. Listen to them. Respect them. Pesan Kak Sarah, Happy learning, happy working, and Happy researching!”

🤍 ~ forkompromi.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *