Oleh: Admin Forkompromi, disadur dari CNN Indonesia 1 Mei 2025
Negara Indonesia berada pada zona pertemuan tiga lempeng tektonik utama, yaitu Eurasia, Pasifik, dan Samudra Hindia, sehingga menyebabkan Indonesia memiliki tingkat kerawanan gempa yang tinggi. Kondisi ini memicu terbentuknya sejumlah zona megathrust, yakni bidang kontak antarlempeng tektonik yang memiliki kapasitas untuk mengakumulasi energi regangan dalam siklus ratusan tahun dan melepaskannya sebagai gempa bumi berkekuatan masif yang berpotensi menimbulkan tsunami dahsyat.
Menurut Amien Widodo, seorang peneliti senior dari Pusat Penelitian Mitigasi Kebencanaan dan Perubahan Iklim ITS, gempa megathrust dipicu oleh hambatan pada bidang kontak antarlempeng yang terus bergerak dengan kedalaman berkisar antara 0 hingga 70 kilometer. Pergerakan lempeng yang cukup konstan, dengan laju antara 2 hingga 10 cm per tahun dapat menyebabkan tumbukan antara Lempeng Samudra Indo-Australia dan Lempeng Eurasia. Akumulasi energi yang dihasilkan dari hambatan pada zona tumbukan inilah yang jika terlepas secara tiba-tiba akan menghasilkan gempa megathrust.

Lokasi Megathrust Selat Sunda
Kalau begitu, di manakah letak daerah di Indonesia yang berpotensi terdampak gempa megathrust paling besar?
Analisis risiko menunjukkan bahwa Pulau Sumatra merupakan wilayah dengan potensi energi megathrust paling signifikan di Indonesia. Merujuk pada data Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia Tahun 2017, teridentifikasi 16 segmen megathrust yang mengancam Indonesia, dengan enam di antaranya berlokasi di Sumatra:
- Megathrust Andaman-Sumatra: potensi magnitudo 9,2; laju pergeseran 4 cm/tahun.
- Megathrust Nias-Simeulue: potensi magnitudo 8,9; laju pergeseran 4 cm/tahun.
- Megathrust Batu: potensi magnitudo 8,2; laju pergeseran 4 cm/tahun.
- Megathrust Mentawai-Siberut: potensi magnitudo 8,7; laju pergeseran 4 cm/tahun.
- Megathrust Mentawai-Pagai: potensi magnitudo 8,9; laju pergeseran 4 cm/tahun.
- Megathrust Enggano: potensi magnitudo 8,9; laju pergeseran 4 cm/tahun.
Laporan yang sama juga menekankan bahwa tatanan seismotektonik tersebut menjadikan Sumatra sebagai salah satu zona seismik paling aktif secara global. Catatan sejarah selama 140 tahun terakhir menunjukkan frekuensi kejadian gempa bumi besar, dengan magnitudo antara 6,5 hingga 9,0, baik dari Zona Sesar Sumatra maupun zona megathrust. Peristiwa-peristiwa ini terbukti telah menyebabkan kerusakan infrastruktur yang masif serta mengakibatkan jatuhnya banyak korban jiwa.
Daryono, selaku Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, menekankan adanya potensi ancaman dari dua segmen megathrust yang telah lama tidak melepaskan energi atau bisa disebut “pecah”, yaitu Megathrust Selat Sunda (M8,7) dan Megathrust Mentawai-Siberut (M8,9).
Selanjutnya Daryono menerangkan bahwa zona ini diidentifikasi berada dalam fase seismic gap, suatu kondisi di mana akumulasi energi regangan telah berlangsung selama puluhan hingga ratusan tahun tanpa terjadi gempa besar, sehingga rilis energi seismik di masa depan dianggap tak terhindarkan dan tinggal menunggu waktu.
Data historis dari Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia tahun 2017 menguatkan analisis ini. Segmen Megathrust Selat Sunda, dengan dimensi panjang 280 km, lebar 200 km, dan laju pergeseran 4 cm per tahun, tercatat mengalami gempa signifikan terakhir berkekuatan M 8,5 pada tahun 1699 dan 1780. Sementara itu, segmen Megathrust Mentawai-Siberut, yang memiliki panjang 200 km, lebar 200 km, dan laju pergeseran 4 cm per tahun, diketahui menghasilkan gempa besar pada tahun 1797 (M 8,7) dan 1833 (M 8,9).
Referensi:
Julzarika, A., Suhadha, A. G., & Prasasti, I. (2020). Plate and faults boundary detection using gravity disturbance and Bouguer gravity anomaly from space geodesy. Sustinere: Journal of Environment and Sustainability, 4(2), 117-131.
