Login
Golden Age Kehidupan: Refleksi Psikologi Perilaku atas 12 Realitas Manusia

#reflection by: *Sri Yusriani

Dalam perjalanan hidup manusia, terdapat momen-momen kontemplatif yang mengajak kita meninjau ulang prioritas, nilai, dan relasi yang kita bentuk. Dari perspektif psikologi perilaku dan organisasi, kehidupan sehari-hari tidak hanya dipenuhi oleh interaksi sosial dan keputusan profesional, tetapi juga oleh dinamika batin dan krisis eksistensial.

Dalam salah satu sesi diskusi kelompok terfokus (FGD) lintas tim SDM dari berbagai cabang perusahaan sektor layanan di Denmark, muncul sebuah refleksi: ada dua belas realitas kehidupan manusia yang meski tampak sederhana, namun memiliki makna mendalam dalam membentuk kebijaksanaan, ketahanan psikologis, dan cara kita menjalani hidup dan kerja.

Dua belas realitas ini bukan sekadar saran hidup, melainkan "mutiara hikmah" yang kita petik secara bertahap dalam perjalanan usia. Dengan mengaitkan tiap poin pada teori psikologi, hubungan manusia, dan perilaku organisasi, artikel ini mengundang kita untuk menyelami kembali akar-akar kebijaksanaan dalam kehidupan modern.

1. Teman Akan Menghilang Seiring Waktu

Relasi interpersonal bersifat dinamis. Dalam psikologi hubungan sosial, teori social exchange menjelaskan bahwa hubungan dipertahankan selama kedua belah pihak merasa ada timbal balik yang sepadan (Homans, 1958). Dalam organisasi, relasi kerja pun mengalami siklus pembentukan, penyesuaian, dan perpisahan. Ini menekankan pentingnya fleksibilitas emosional dan kemampuan untuk membangun resilience dalam menghadapi kehilangan sosial.

Temanmu zaman SD, SMP, dahulu mungkin sudah lupa padamu; ada yang telah berpulang; ada yang kini berjauhan, tersebar di berbagai penjuru dunia. Teman masa kuliah mungkin hanya satu dua yang masih mencari cara untuk tetap terhubung.
Seiring waktu, kehidupan menarik kita dalam pusaran tanggung jawab yang berbeda-beda. Hubungan memudar bukan karena tidak berharga, melainkan karena kita semua sedang tumbuh ke arah yang berbeda.

“Perubahan bukan hanya bagian dari kehidupan pribadi, tapi juga dari struktur sosial dan organisasi tempat kita berada.”

2. Hubungan Terpenting Adalah dengan Diri Sendiri

Dalam psikologi humanistik, hubungan dengan diri sendiri merupakan dasar dari self-actualization (Maslow, 1943). Individu yang sehat secara mental memiliki self-awareness tinggi dan mampu merawat dirinya secara emosional. Ini relevan dalam konteks kepemimpinan dan manajemen diri di tempat kerja, di mana emotional intelligence menjadi indikator penting efektivitas personal (Goleman, 1995).

Maka, penting bagi kita untuk mengenal dan menerima diri sendiri sebagaimana adanya—dengan segala luka, potensi, keraguan, dan keberanian yang kita miliki.
Diri sendiri adalah satu-satunya individu yang akan selalu menyertai, dalam senyap malam dan riuh siang hari. Dialah yang menjadi sandaran paling jujur, di saat tak ada satu pun suara di luar yang memahami.

Jangan menunggu dunia menyayangi dirimu, sebelum kamu sendiri berdamai dengan batinmu. Ingatkan diri kita, ”Lahir ke dunia ini dengan sendirian, kelak meninggalkan dunia pun bersendirian....” (Syukur banget bagi kita yang punya orang tua dengan kasih sayang ’level malaikat’, ^^.... Cuma ya kan faktanya orang tua kita punya limit usia dan kemudian masa itu tiba, mereka mesti kembali kepada Sang Pemilik Semesta).

3. Orang-Orang Sekitar Kita Hanya Melihat Hasil, Bukan Proses

Budaya performatif di organisasi modern sering kali menekankan output ketimbang proses. Ini selaras dengan teori goal-setting dalam manajemen, di mana penilaian keberhasilan sering diukur dari pencapaian target (Locke & Latham, 2002). Namun, tekanan ini dapat menyebabkan burnout jika tidak dibarengi dengan validasi atas proses kerja individu.

Tidak ada yang peduli bahwa kamu begadang, berjuang melawan badai batin, menyeimbangkan konflik keluarga dan beban kerja yang tak kunjung reda. Yang mereka lihat adalah ketika kamu naik panggung juara—dengan senyum yang telah melalui seribu luka.

Maka, lantunkanlah syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, karena atas izin-Nya kamu masih bertahan, masih melangkah.

Berilah hadiah kepada dirimu sendiri, karena tak semua luka membutuhkan plester dari orang lain. Camkan itu, dear!

4. Patah Hati dan Kegagalan Adalah Bagian dari Hidup

Kegagalan adalah elemen krusial dalam proses belajar. Gagal dalam hal ini adalah target yang kamu tetapkan ternyata tidak tercapai sesuai standar waktu dan capaian yang telah direncanakan dalam strategi awal. Teori growth mindset menyatakan bahwa kegagalan bukan akhir, melainkan sarana pertumbuhan (Dweck, 2006).

Dalam organisasi, budaya yang menghargai kegagalan sebagai pembelajaran menciptakan ruang psikologis yang aman untuk inovasi.

Patah hati atau luka ini mesti didekap. Berdamailah dengan luka. Siapapun, dimanapun, pernah patah hati dalam jenis problem apapun.

Maka peluklah dirimu, dan ucapkan dalam hati: "Aku belum selesai. Aku hanya sedang berproses."

Percayalah, kamu tidak sendirian mengalami ini.
Embrace this as great challenges untuk bertumbuh.

5. Tak Ada Tempat Seindah Rumah

"Rumah" dalam pengertian psikologis bukan sekadar tempat fisik, tetapi simbol keamanan psikologis (psychological safety) dan penerimaan. Konsep ini menjadi penting dalam tim kerja yang sehat, di mana anggota merasa aman untuk berbicara tanpa takut disalahkan (Edmondson, 1999).

Rumah tempat tumbuh dan berkembangnya cinta yang paling jujur, adalah perisai yang akan selalu kamu cari ketika dunia menjadi terlalu keras.

Perbaiki rumah ketika badai datang. Jangan langsung membangun rumah baru hanya karena genteng yang bocor.

Kedewasaan tidak terletak pada kemampuan untuk berpindah, tetapi pada kesanggupan untuk memperbaiki.

6. Keluarga dan Uang Adalah Fondasi Stabilitas

Menurut pendekatan life domains, keseimbangan antara keluarga dan pekerjaan sangat menentukan kesejahteraan psikologis (Greenhaus & Powell, 2006). Di sisi lain, stabilitas finansial menjadi sumber kontrol dan otonomi dalam membuat keputusan karier, sekaligus penyangga terhadap tekanan eksternal.

Ketika keluarga dalam kondisi sehat dan finansialmu stabil, maka 70% dari masalah hidup sudah menemukan jawaban.

Sisanya adalah soal disiplin waktu, manajemen stres, dan seni untuk tetap tertawa dalam padatnya beban kerja~ bukan sumber krisis eksistensial.

Ingat: kebahagiaan tidak selalu mewah—kadang ia hadir dalam makan malam sederhana yang ditemani tawa anak-anak.

Ibarat kapal di laut luas, dear..... Ketika mesin utama (keluarga dan uang) dalam kondisi sehat, maka badai pun hanya terasa seperti ombak kecil.
Maka lindungi keduanya, sebagaimana nahkoda menjaga dua tiang layar utama dalam pelayaran hidup.

7. Buku adalah Sahabat Terbaik

Dalam ilmu komunikasi dan psikologi kognitif, membaca tidak hanya memperluas pengetahuan, tetapi juga meningkatkan empati dan cognitive complexity (Mar et al., 2009). Literasi menjadi alat kontrol emosi dan media refleksi diri yang kuat di tengah dunia yang bising dan penuh distraksi.

Orang-orang sibuk, di mana pun berada, hanya buku yang bisa membuatmu didengarkan tanpa jeda.

Jika kamu seorang muslim, kamu pasti tahu bahwa halaman berapa pun dalam kitab suci ketika dibuka, selalu terasa relevan dengan perasaan dan peristiwa hidupmu saat itu.

Sedangkan ragam buku lainnya adalah jendela lintas generasi, lintas dunia, lintas waktu.

Kalau kamu ingin menjadi manusia yang paling tenang, bersahabatlah dengan buku—karena ia tidak menuntut, tidak menghakimi, hanya menemani.

Sepanjang usia kita, yakinlah bahwa Buku adalah dermaga, tempat kita bisa bersandar sejenak dari gelombang dunia yang menyesakkan. Di sanalah jiwa mendapat angin segar dan cahaya pemahaman baru.

8. Aktivitas Fisik Mengurangi Stres

Studi-studi psikologi kesehatan konsisten menunjukkan bahwa aktivitas fisik meningkatkan produksi endorfin dan menurunkan kortisol, hormon stres (Ratey, 2008). Dalam dunia kerja yang penuh tekanan, intervensi sederhana seperti olahraga terbukti signifikan dalam menjaga mental stamina.

Maka, jangan abaikan jalan kaki, bersepeda, jogging, atau aktivitas fisik lainnya.
Ini bukan sekadar gaya hidup, melainkan perwujudan rasa syukur kepada-Nya yang telah menganugerahkan tubuh yang masih berfungsi penuh.

Gerakkan tubuhmu, agar jiwamu tidak membeku.

Karena pada setiap gerak, ada ritme kehidupan yang membuat pikiran lebih jernih, dan hati lebih lapang.

Tubuh kita seperti alat musik—tanpa getaran dan gerak, ia kehilangan harmoni. Maka berolahragalah, agar hidupmu tetap bernada, dear....

9. Penyesalan Tak Menghasilkan Apa-Apa

Regret adalah emosi yang muncul dari ketidaksesuaian antara harapan dan hasil. Namun, fokus berlebihan pada penyesalan justru menghambat produktivitas dan kebahagiaan (Roese, 2005). Dalam organisasi, future-focused thinking menjadi strategi penting dalam mengatasi stagnasi akibat kegagalan masa lalu.

"Kenapa dulu aku nggak rajin belajar? Kenapa nggak mulai lebih awal nulis karya ilmiah? Sekarang udah semester 7, tapi belum juga BTR1 thesis. Ohw kenapaaaa?"

Sudahlah. Semua sudah berlalu.

Yang ada hanyalah manusia-manusia pembelajar yang beruntung—karena ketika mereka salah, mereka menyesal; dan ketika menyesal, mereka memperbaiki.

Maka bangkitlah! Genggam waktu hari ini. Karena penyesalan yang berulang hanya akan mengunci langkahmu ke depan.

Penyesalan adalah seperti angin dari belakang kapal. Bisa mendorongmu maju jika Engkau arahkan layar dengan bijak—tapi bisa membuatmu karam jika kau hanya menoleh ke belakang terus.

Tak peduli berapa kali terpeleset, lebam dan jatuh, kamu mesti rangkul diri sendiri dengan tetap semangat bangkit, berdiri, dan bergerak! #terpenting

10. Apa yang Kamu Inginkan Hari Ini Mungkin Tidak Penting Besok

Psikologi perilaku menunjukkan bahwa keinginan manusia bersifat situasional dan berubah seiring konteks (Watson, 2011; Kahneman, 2011). Oleh karena itu, kemampuan untuk menunda kepuasan (delayed gratification) menjadi kunci sukses jangka panjang dalam organisasi dan kehidupan pribadi.

“Pengen banget posisi jabatan X di perusahaan, pengen banget tugas di daerah C, pengen beli tas merek L buat gaya di arisan minggu depan?”

Semua itu bisa jadi hanyalah gema dari ego yang belum tuntas.

Percayalah, jika keinginan muncul dari rasa kurang dalam diri, bukan dari tujuan yang bermakna, maka ia hanya akan menjadi bayangan yang terus berpindah arah.

Yang kita butuhkan bukan semua hal, melainkan hal yang paling kita perlukan—dan itu tidak selalu sama dengan yang paling kita inginkan hari ini.

Keinginan adalah seperti api kecil. Ia bisa memberi terang jika kamu kendalikan; tapi bisa membakar rumah jika dibiarkan liar.

Diskusi dan Kolaborasi telah memiliki impact besar bagi kemajuan diri dan lingkungan (Yusriani et al., 2024).

11. Keputusan Menentukan Hidup, Bukan Takdir

Teori self-determination menjelaskan bahwa otonomi dalam membuat keputusan meningkatkan motivasi intrinsik dan rasa kepemilikan terhadap kehidupan (Deci & Ryan, 2000). Dalam manajemen organisasi, kemampuan mengambil keputusan secara bijak merupakan critical power skill yang sangat dicari.

"Salah satu keterampilan terpenting yang paling dicari perusahaan saat ini adalah keterampilan mengambil keputusan (decision making)."

Bahkan di Eropa dan Amerika, kepekaan dan keluwesan dalam mengambil keputusan adalah kompetensi kelas atas yang membedakan seseorang dari rata-rata karyawan lainnya.

Keputusan bukan hanya tentang memilih jalan, tapi tentang memilih bagaimana kita akan menjalani Langkah proses itu. Ikhtiar optimal ada pada Keputusan tegas di waktu nan tepat.

Takdir adalah jalan setapak; keputusan adalah langkah kaki yang menapakinya. Tanpa keputusan, bahkan jalan terbaik pun akan tetap sunyi.

12. Masa Kanak-Kanak Adalah Emas Murni

Masa kanak-kanak adalah fondasi otentik dari seluruh spektrum kehidupan manusia. Di sanalah individu belajar tanpa topeng, merasakan emosi tanpa sensor, dan menjalani dunia tanpa kepentingan. Ia adalah fase di mana keaslian (authenticity) tidak hanya diperbolehkan, tapi merupakan norma. Dalam psikologi perkembangan, masa ini disebut sebagai golden period pembentukan identitas dasar dan struktur afeksi (Erikson, 1959, 1994).

“Masa kanak-kanak adalah emas murni, karena di sanalah manusia paling jujur kepada dirinya sendiri, sebelum dunia mengajarkan untuk menjadi ’ketularan’ orang lain.”

Apakah kamu sedih mengenang bahwa masa kanak-kanakmu telah berlalu? Jika iya, INGATLAH: maka kamu tidak sendiri. Di era kolaborasi ini, Kita bisa se-super aktif masa-masa golden itu!

Di Denmark, kita bisa ‘kembali’ ke masa kanak-kanak.

“Playing is not just for kids... but for all ages.”

Di area Billund, Copenhagen, Vejle, dan sekitarnya ini, semua pegawai LEGO dan perusahaan mitra memiliki ruang khusus bermain LEGO di kantor, bisa baca “About Family-Friendly Workplaces…” (Mahendra & Yusriani, 2025). Ada momen tahunan “Family Running”, “Summer Camping”, hingga “Bring Kids to Office Day.” Ada wisata keluarga ke taman alam, melihat peternakan, nelayan, dan hutan yang menjadi bagian dari kurikulum masa kecil.

Jika kamu pernah merasa ada “lubang hampa” di masa kecilmu, yakinlah: kamu masih bisa menyembuhkannya hari ini—melalui cinta dan kebahagiaan yang kamu ciptakan untuk anak-anakmu.

Masa kecil adalah harta warisan jiwa, dan kamu bisa mewariskannya ulang—bukan hanya melalui ingatan, tapi juga melalui pengalaman yang kamu berikan hari ini kepada anak-anakmu. Setidaknya point 1-11 di atas telah diserap oleh anak-anak gen Z dan alpha saat ini, mereka pun menyadari akan gap-pada lintas generasi, mereka pun belajar menghargai orang tua, selaras dengan lifestyle hidup zaman kekinian.

Dear besties,

Dua belas refleksi ini bukan sekadar kumpulan renungan puitis. Ia merupakan kompas batin yang memiliki fondasi kuat dalam teori-teori psikologi dan perilaku organisasi. Dalam dunia yang kian bergerak cepat dan sering kali kehilangan arah spiritualitas, nilai-nilai seperti kesadaran diri, keseimbangan emosional, resiliensi terhadap kegagalan, dan kembali ke otentisitas menjadi kebutuhan mendesak.

Mari kita hidup bukan hanya untuk berprestasi, tapi juga untuk menjadi manusia yang pulang pada dirinya sendiri—dengan utuh, lembut, dan sadar.

docs images by Author (2025)

Teruntuk Sahabat Forkompromi, alumni Prodi MM dimanapun berada,

“Jika hari ini kita berdiri tegak di atas capaian dan gelar panjang akademik dan karir gemilang, jangan biarkan kita lupa: ada mata generasi setelah kita yang sedang memperhatikan, belajar diam-diam, menanti uluran tangan dan teladan. Jangan tutup pintu yang dulu kita buka dengan susah payah.”

Semoga bermanfaat, sending love and hugs with best prayers, everyone is awesome! happy learnig, happy working, and happy researching!

#sriysarah Grindsted Denmark, 01072025

Disampaikan dalam knowledge sharing, Luxembourg Sept 2024, serta diskusi pemuda lintas kota di Denmark, ICRC 2022-2023

* Graduate School of Business, Riset Kak Sarah tentang Global Strategic Organizational Behaviour dalam Creativity and Entrepreneurship serta Community Empowerment, USM Pulau Penang – HRM practitioner, Denmark.

Penulis juga merupakan Research mentor, Tutor/ Dosen Pengampu pada Mata Kuliah Manajemen Operasi Jasa, Operations Research - FEB Universitas Terbuka.

References

Deci, E. L., & Ryan, R. M. (2000). The" what" and" why" of goal pursuits: Human needs and the self-determination of behavior. Psychological inquiry11(4), 227-268.

Dweck, C. S. (2006). Mindset: The new psychology of success. Random house.

Edmondson, A. (1999). Psychological safety and learning behavior in work teams. Administrative science quarterly44(2), 350-383.

Erikson, E. H. (1994). Identity and the life cycle. WW Norton & company.

Goleman, D. (2005). Emotional intelligence: Why it can matter more than IQ. Bantam.

Greenhaus, J. H., & Powell, G. N. (2006). When work and family are allies: A theory of work-family enrichment. Academy of management review31(1), 72-92.

Homans, G. C. (1958). Social behavior as exchange. American journal of sociology63(6), 597-606. https://doi.org/10.1086/222355

Locke, E. A., & Latham, G. P. (2002). Building a practically useful theory of goal setting and task motivation: A 35-year odyssey. American psychologist57(9), 705. https://doi.org/10.1037/0003-066X.57.9.705

Mahendra, A., & Yusriani, S. (2025). Optimizing Family-Friendly Workplaces for a Sustainable Green Lifestyle: Insights from LEGO's Leadership in Denmark. Siber Journal of Advanced Multidisciplinary2(4), 392-402.

Mar, R. A., Oatley, K., & Peterson, J. B. (2009). Exploring the link between reading fiction and empathy: Ruling out individual differences and examining outcomes. https://doi.org/10.1515/COMMUN.2006.025.

Ratey, J. J. (2008). Spark: The revolutionary new science of exercise and the brain. Little, Brown Spark.

Roese, N. (2005). If only: How to turn regret into opportunity. Harmony.

Watson, K. (2011). D. Kahneman.(2011). Thinking, Fast and Slow. New York, NY: Farrar, Straus and Giroux. 499 pages. Canadian Journal of Program Evaluation26(2), 111-113.

Yusriani, S., Patiro, S. P. S., Rekarti, E., Pamungkas, C. R., & Nurbaeti, N. Ilomata International Journal of Management. International Journal of Management5(2), 401-424.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *