Login
Ekonomi Digital Inklusif: Simfoni Baru Asia Tenggara di Panggung Global

Oleh: *Sri Yusriani

Good Day, Dear Forkompromi Readers!

Dalam lanskap ekonomi Asia yang terus bergerak, kata inklusif dan digital bukan lagi jargon, melainkan denyut nadi yang menghidupi banyak kebijakan publik, riset akademik, dan praktik bisnis lintas sektor. Sejumlah kajian terbaru menegaskan bahwa ekonomi digital, bila dibangun dengan landasan inklusi dan keberlanjutan, mampu menjadi katalis bagi pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan sosial di kawasan Asia Tenggara.

Bayangkan sebuah pasar besar tanpa batas fisik, di mana pedagang kecil di desa pesisir mampu menjual produknya kepada pembeli di pusat kota Tokyo atau Berlin hanya dengan satu klik. Inilah wajah ekonomi digital yang kini mengalir deras di nadi Asia Tenggara, sebuah ekosistem yang tidak hanya dibangun dari algoritma dan jaringan kabel optik, tetapi juga dari mimpi kolektif untuk meniadakan jarak, menghapus kesenjangan, dan menciptakan kesejahteraan bersama.

Vietnam, Indonesia, dan Thailand bukan sekadar titik koordinat di peta. Mereka adalah laboratorium hidup di mana ekonomi digital diuji, disempurnakan, dan dihidupkan melalui kreativitas manusia. Dari 2015 hingga 2019, Vietnam melesat sebagai salah satu pusat pertumbuhan tercepat di kawasan ini, membuktikan bahwa inovasi tidak selalu lahir dari Silicon Valley, ia bisa tumbuh dari ruang kerja bersama di Hanoi atau warung kopi di Ho Chi Minh City.

Indonesia menulis kisahnya sendiri. Resiliensi digital di tanah air bukan sekadar kemampuan bertahan dari guncangan pandemi atau krisis keuangan. Ia adalah proses strategis yang memadukan FinTech, kecerdasan buatan, dan mata uang digital bank sentral (CBDC) menjadi satu harmoni kebijakan. QRIS, yang awalnya hanyalah sistem pembayaran terpadu, kini menjadi simbol persatuan ekosistem keuangan digital, membuka peluang bagi jutaan UMKM untuk bertransaksi tanpa hambatan.

Di level kebijakan global, Asia pascapandemi mengadopsi visi besar: pertumbuhan ekonomi yang seimbang dan berkelanjutan. Ini bukan sekadar jargon, melainkan sebuah keharusan. Proyek-proyek infrastructure investment yang dibawa oleh AIIB memberi napas baru pada wilayah yang dulunya terisolasi dari arus ekonomi modern, membentangkan jembatan bukan hanya di atas sungai, tetapi juga di antara kesenjangan sosial dan ekonomi.

Menariknya, transformasi digital di kawasan ini tidak hanya digerakkan oleh teknologi, tetapi juga oleh kekuatan budaya dan nilai. Di Indonesia, pendidikan, agama, dan teknologi kini menjadi triple helix yang saling menguatkan. Masyarakat belajar bahwa digitalisasi bukan berarti meninggalkan akar tradisi, tetapi justru menggunakannya sebagai fondasi etika dan kepemimpinan yang membentuk wajah baru ekonomi. Maka “Keep Ukhuwwah, Stay humble dengan menggandeng pelosok dan alam sekitar, serta kegiatan-kegiatan memberdayakan komunitas tetap merupakan kekuatan ekonomi kita, dear….” Dalam lensa sebagai pembelajar, Saya selalu optimis dengan kekuatan akar rumput.

Thailand, melalui pendekatan inklusif, menunjukkan bahwa data-driven economy dapat menyentuh seluruh lapisan masyarakat, dari petani di pedalaman hingga pelaku start-up di Bangkok. Sementara itu, di Sumatra dan Jawa, konsep pertumbuhan ekonomi inklusif sedang diuji melalui upaya nyata pengurangan kemiskinan dan pemerataan pendapatan, membuktikan bahwa ekonomi digital bukan hanya milik kota besar, melainkan hak setiap warga negara.

Membaca lanskap ini, kita disadarkan pada satu hal: ekonomi digital inklusif bukan hanya tentang menghubungkan perangkat, tetapi juga tentang menghubungkan manusia. Di tengah derasnya inovasi, tujuan akhirnya adalah menciptakan masyarakat yang bukan hanya lebih cerdas secara teknologi, tetapi juga lebih adil, berdaya, dan penuh empati.

Tips Praktis bagi Pembelajar dan Peneliti

Agar mampu menavigasi era ekonomi digital inklusif ini dengan percaya diri, ada beberapa langkah strategis yang bisa diambil oleh mahasiswa, peneliti, dan profesional muda:

  1. Kuasi Literasi Digital dan Data. Jangan hanya menjadi pengguna teknologi, jadilah analis kritis. Pelajari cara membaca tren, memahami analytics, dan memanfaatkan open data untuk riset yang berdampak.
  2. Bangun Jejaring Lintas Disiplin dan Lintas Negara. Ekonomi digital bersifat global. Kolaborasi dengan peneliti atau praktisi dari negara lain akan memperkaya perspektif dan membuka peluang riset yang lebih relevan secara internasional.
  3. Fokus pada Isu Inklusivitas. Saat melakukan penelitian atau pengembangan proyek, pastikan hasilnya menjangkau kelompok rentan atau terpinggirkan. Ini bukan hanya nilai etis, tapi juga memperluas dampak karya.
  4. Kembangkan Soft Skills Berbasis Empati. Teknologi mungkin netral, tapi penggunanya tidak. Latih kemampuan active listening, komunikasi lintas budaya, dan kepemimpinan kolaboratif untuk menjadi agen perubahan yang humanis.
  5. Eksperimen dan Publikasikan. Jangan menunggu sempurna untuk membagikan karya. Publikasikan temuan, opini, atau case study di platform akademik maupun blog riset. Reputasi dibangun dari konsistensi berbagi, bukan hanya dari satu karya besar.

Maka, tetap maju, tetap bergerak, tetap optimal berikhtiar, jangan menanti ‘nanti’, ‘ntar esok’, atau hanya menunggu kesempurnaan sumber daya untuk dijadikan alaterhalangnya tumbuh kembang kemajuan diri. Saya teringat kata-kata Dr. Endi Rekarti, “Kalau merasa pernah menjadi batu bata yang salah tempat, maka berpikirlah positif~ bata bata yang salah tempat pun, Ketika berada dalam susunan rapi, tetap cantik dan indah; dan kudu hati-hati memilih tempat yang tepat, Jalani saja dengan optimis, serahkan hasil kepada Sang Maha Pencipta kita….”, Yook Gasss terus thesis! Semangat berjejak prestasi selalu, Berkah ilmu, berkah usia kita! Aaaamiin….

Pesan mendalam dari Kak Sarah. Happy working, happy learning, and Happy Researching!

#jawaban Kak Sarah,  *Part of Analysis Literature Review, Ditulis dalam semangat berbagi oleh Kak Sarah, Presiden Forkompromi. 2 Agustus 2025,

#sriysarah Grindsted Denmark, 02082025

* Graduate School of Business, Riset Kak Sarah tentang Global Strategic Organizational Behaviour dalam Creativity and Entrepreneurship serta Community Empowerment, USM – HRM practitioner, Denmark. Peraih Training Edu Erasmus Plus Uni Eropa, Sept 2024- March 2025, GSB global FoC 2025 Awardee Shizenkan-IESE Tokyo-Barcelona Jan-April 2025

Penulis juga merupakan Tutor/ Dosen Pengampu pada Mata Kuliah Manajemen Operasi Jasa, Operations Research - FEB Universitas Terbuka.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *