Login
Embun dan Pagi: Sebuah Tafsir Akademik tentang Kesetiaan dalam Siklus Waktu

Jejak Makna dan Sunyi dalam Sajak-Sajak Dr. Kabul
Perspektif Penikmat Sastra, oleh Sri Yusriani (Kak Sarah)*

Puisi yang ditulis oleh Dr. Kabul Wahyu Utomo S.E., M.Si. ini merekam dialog sunyi antara embun dan pagi, dua entitas alam yang secara simbolis mewakili kesetiaan, kerinduan, dan siklus kehidupan.

Embun digambarkan sebagai makhluk kecil yang bersujud, bersimpuh, dan berdoa dalam linangan air mata. Ia hadir setiap pagi, meski waktunya singkat sebelum mentari menguapnya. Namun ada tekad yang tak pernah padam: keyakinan bahwa mereka akan selalu bersua kembali.

Pagi hadir sebagai penanda kebaruan, membawa harapan, dan memanggil embun dalam doa dan selawatnya. Interaksi ini menggambarkan bahwa meski ada keterpisahan dan perubahan (siang, senja, malam), ada doa dan kesetiaan yang mengikat mereka untuk kembali bersatu.

Secara akademis, puisi ini bisa dibaca sebagai alegori hubungan manusia dengan waktu dan cinta. Ia menekankan bahwa perpisahan bukanlah akhir, melainkan fase sementara dalam siklus yang lebih besar. Kesetiaan diuji bukan pada saat bersama, tetapi pada saat harus terpisah sementara, menunggu waktu yang tepat untuk kembali bersua.

Makna ini relevan dalam konteks psikologi hubungan jarak jauh atau long-distance relationship (LDR), di mana cinta sejati tidak ditentukan oleh kedekatan fisik, melainkan oleh kemampuan hati untuk tetap berdoa, setia, dan percaya bahwa pertemuan akan tiba kembali pada siklusnya. Dalam urusan persahabatan lintas batas dan waktu dalam ketulusan rasa, sajak ini selaras pula dengan makna kesetiaan dan kerendahan hati yang menuntun manusia pada titik temu: ridho-Nya.

Kalimat sajak selanjutnya,

Wah… tulisannya dalam banget, kaya rasa dan makna.

Hal pertama, “Ada dan berada karena makna…” itu seperti mengingatkan bahwa keberadaan kita di dunia ini sebenarnya bukan soal fisik atau apa yang terlihat, tapi tentang makna yang kita bawa. Bahkan sesuatu yang tampak nyata bisa jadi tiada bila tak punya arti. Jadi, makna adalah garis pemisah antara “ada” dan “ketiadaan.” Ini seperti pesan untuk hidup dengan tujuan, bukan hanya sekadar ada. 🌿 I agree 100%, besties!!!

 "Ada waktu yang menguji jarak,
 Ada malam yang memeluk sunyi,
 Namun kesetiaan selalu tahu jalan pulang,
 Karena makna sejati tak pernah hilang dalam ketiadaan."
 

Lanjuuut, 🌿 tentang “Malam memeluk kesunyian dengan harap…” ini terasa seperti perjalanan batin seseorang yang sedang merenung di tengah kekacauan pikiran dan pergulatan hati. Malam di sini menjadi simbol kesetiaan, bahkan ketika pandangan hidup terasa samar (fatamorgana). Sosok Sunyi pun diajak berdiskusi, mencari jawaban, dan akhirnya menemukan bahwa semua harus dijalani dengan ridho Tuhan nan Maha Sempurna.

Ada kesadaran bahwa tidak semua jalan harus dipaksakan untuk terus berjalan; kadang kita butuh berhenti, merenung, lalu melangkah lagi dengan hati yang lebih tenang. 🌌🤍

Kalau sajak-sajak ini disambungkan, rasanya seperti pesan tentang menemukan makna sejati dalam hidup, berdamai dengan kebingungan dan kesunyian. Pemilik karya ini menyiratkan perjuangan yang memang melelahkan, namun harus tetap dijalani dengan semangat juang nan kian terlatih, berlapis harap yang hanya bergantung pada keridhoan-Nya.

Sarah cuma mau bilang, “Awesome always! Every word is meaningful, Sir!” Tabik takzim, sebab setiap bait yang lahir bukan hanya tulisan jemari dengan sepenuh renungan hati… tapi jejak makna yang akan terus pulang pada hati para pembacanya. ✍️

Happy learning, happy working, and Happy researching, dear all Forkomromi readers!

* Graduate School of Business, Riset Kak Sarah tentang Global Strategic Organizational Behaviour dalam Creativity and Entrepreneurship serta Community Empowerment, USM – HRM practitioner, Denmark. Peraih Training Edu Erasmus Plus Uni Eropa, Sept 2024- March 2025, GSB global FoC 2025 Awardee Shizenkan-IESE Tokyo-Barcelona Jan-April 2025.

Penulis juga merupakan Tutor/ Dosen Pengampu pada Mata Kuliah Manajemen Operasi Jasa, Operations Research - FEB Universitas Terbuka.

🌌✨

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *