Login
Indonesia Hari Ini di Mata Dunia: Antara Luka, Perlawanan, dan Ujian Demokrasi

*Sri Yusriani (Kak Sarah)

Prolog
Beberapa pesan singkat datang dari dua sahabat WNA, “How is your day? How are you and your family in Indonesia? We heard chaos in Jakarta…”
Meski mereka tinggal di Eropa Utara, kabar dari Jakarta sampai juga ke Denmark, menembus percakapan language exchange group mahasiswa, hingga ruang-ruang diskusi kecil di kota seperti Vejle, Kolding, bahkan Billund.

Uniknya, mayoritas masyarakat Denmark bukan pengguna aktif media sosial. Mereka lebih akrab dengan majalah, katalog belanja, dan berita cetak. Maka, bila hari ini headline “Chaos in Indonesia” ikut masuk ke ruang percakapan masyarakat Skandinavia, itu berarti dampaknya besar. Namun, ironisnya, yang beredar di media global lebih banyak memperlihatkan potret “anarki” #gallery fotonya, tanpa memberi ruang pada narasi rakyat yang sebenarnya damai, atau kemungkinan adanya “oknum penyusup” dalam demonstrasi.

Indonesia di Mata Media Dunia

Suara klakson, teriakan massa, dan asap gas air mata kini menjadi wajah Indonesia di mata dunia.
Nama seorang pemuda, Affan Kurniawan (21 tahun), melintasi batas negara, bukan karena prestasi akademik, pentas seni, atau olahraga, melainkan karena kematiannya yang tragis di jalanan Jakarta, tertabrak kendaraan polisi saat aksi demonstrasi.
Innalillahi wa inna ilaihi raji’un. Kita semua berduka atas berpulangnya Saudara Affan.

Berita ini dengan cepat melampaui sekadar isu domestik. Media internasional menyorot intens:

~ Al Jazeera: protes tak kunjung reda, luka sosial terlalu dalam untuk segera padam.

~ Tulisan BBC: menggambarkan gelombang amarah yang menjalar ke berbagai kota, menyatukan suara pengemudi, buruh, dan rakyat kecil.

~ The Guardian bilang lebih kritis: Indonesia menuntut reformasi kepolisian karena “violent clashes” telah jadi potret harian.

~ Arab News: menyoroti ribuan orang yang hadir bukan sekadar angka, melainkan tubuh-tubuh yang menolak lupa, menuntut keadilan.

~ ABC Australia: menulis getir, “RIP Indonesia’s democracy.”

#innalillahi #peduliaffan

Di Balik Sorotan

Narasi media asing memotret Indonesia dengan lensa berbeda.
Bukan lagi Bali yang eksotis, atau ekonomi digital yang tumbuh, melainkan luka sosial yang nyata:

Bahwa Seorang anak muda gugur, menjadi simbol keresahan kolektif.

Bahwa Ribuan orang turun ke jalan meski sadar risiko kekerasan dan penangkapan.

Bahwa Pertanyaan menggantung hari ini, apakah demokrasi Indonesia masih hidup, atau perlahan tercekik dalam asap bentrokan?

Kasus Affan bukan sekadar satu tragedi. Ia adalah pemantik dari akumulasi frustrasi sosial.

“Dunia bertanya… apakah demokrasi Indonesia masih bernapas?
Atau perlahan terkubur dalam asap bentrokan?"

Ini bukan sekadar protes.
Ini tentang keberanian rakyat… menolak lupa… menuntut didengar.

Mari kita berdoa, "..... semoga Tuhan Yang Maha Kuasa berkenan menurunkan solusi terbaik, menuntun langkah pemimpin, dan mengirimkan keberkahan bagi negeri gemah ripah loh jinawi ini. Aamiin yaa Rabbal ‘Alamin.”

Seruan Damai & Refleksi #pesan Buat Kita Semua

Jaga Situasi Kondusif, Pengamat: Semua Pihak Diharapkan Dapat Menahan Diri, Massa aksi membakar Mess MPR RI di Bandung, Jawa Barat, Jumat (29/8/2025)

(Mengutip laporan berita pada web Antara/Raisan Al Farisi)
Pengamat pertahanan dan keamanan Ngasiman Djoyonegoro (Simon) menegaskan pentingnya semua pihak menahan diri.
“Transisi demokrasi butuh pengawalan sehat dan produktif. Saya berharap tidak ada pihak yang terprovokasi,” ujarnya.

Simon juga mengapresiasi langkah cepat Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo yang menyampaikan permintaan maaf langsung kepada keluarga korban. Namun, ia menekankan perlunya perbaikan sistemik di tubuh Polri agar kepercayaan masyarakat tetap terjaga. “Mari kita jaga perdamaian yang sudah ada ini demi keberlangsungan bangsa Indonesia yang adil, makmur, dan sejahtera,” tegasnya.

Sementara itu, kita menyaksikan berita hari ini di ragam media dan ratusan akun sosmed para influencers Gen Z bahwa ada tuntutan nyata yang mesti dilakukan oleh pemerintah dalam tujuh hari ke depan, sehingga diharapkan adanya trust dari rakyat kepada pemerintah, supaya situasi membaik.

Keprihatinan dan Turut Berduka Cita Mendalam dari Forkompromi

Hari ini, dunia sedang membaca Indonesia lewat judul-judul getir: chaos, clash, RIP democracy.
Tetapi, bagi kita yang hidup di negeri ini, peristiwa itu adalah cermin yang mesti sama-sama kita renungkan,
➡️ Apakah kita akan memilih jalan dialog atau jalan kekerasan?
➡️ Apakah demokrasi kita cukup dewasa untuk mengubah luka menjadi pelajaran?

Pada saat yang sama, di ruang kuliah virtual UT Radio, Dr. Endi Rekarti tengah membahas Manajemen Stratejik dengan topik Uncertainty.
Pertanyaan kita yang selaras dengan situasi terkini, amat menohok: “Apakah uncertainty itu sama dengan Gelap?”
Sebuah refleksi yang nyambung: dalam kabut demokrasi yang diuji, mampukah kita menyalakan cahaya kecil bernama keadilan? Next kita sambung lagi yah, dear Forkompromi readers! See you....

🌱 Happy learning, happy working, happy researching.
forkompromi.com

#sriysarah Grindsted Denmark, August 29, 2025

* Graduate School of Business, Riset Kak Sarah tentang Global Strategic Organizational Behaviour dalam Creativity and Entrepreneurship serta Pendalaman Self-efficacy, Community Empowerment, PhD research Universiti Sains Malaysia– HRM practitioner, Denmark.

Peraih Training Edu Erasmus Plus Uni Eropa, Sept 2024- March 2025, GSB global FoC 2025 Awardee Shizenkan-IESE Tokyo-Barcelona Jan-April 2025

Penulis juga merupakan Tutor/ Dosen Pengampu pada Mata Kuliah Manajemen Operasi Jasa, Operations Research - FEB Universitas Terbuka.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *