

Figures: Tangkapan Layar Media sosial warga Kalimantan di Instagram (September 2026)
Asap tidak hanya menutupi matahari. Ia memasuki rumah, sekolah, paru-paru, perjalanan, pekerjaan, dan kecemasan keluarga. Kita yang melihat saja merasa lelah—apalagi mereka yang harus hidup di dalamnya.
Oleh Admin FORKOMPROMI | 19 September 2026
Dear FORKOMPROMI readers,
Pada pukul 14.38 WIB, langit Kalimantan Tengah tampak seolah kehilangan warna aslinya.
Matahari tidak benar-benar hilang. Pepohonan masih berada di tempatnya. Jalan masih membentang. Rumah-rumah masih berdiri.
Namun, asap membuat semuanya terlihat jauh, kusam, dan samar—seperti pemandangan yang sedang perlahan-lahan dihapus.
Sebuah unggahan warga menuliskan kalimat pendek:
“Sudah tidak bisa berkata-kata lagi.”
Barangkali memang ada masa ketika bahasa terasa terlalu kecil. Kata “sedih” tidak cukup. Kata “lelah” terlalu sederhana. Kata “prihatin” telah terlalu sering digunakan, sedangkan di lapangan api masih menyala dan orang-orang masih harus bernapas.
Kita yang melihat saja lelah
“…..Kita yang melihat gambar-gambar itu dari kejauhan saja merasa sesak….” Ratusan komentar senada dari dunia medsos.
Kita dapat menutup layar, berpindah berita, membuka jendela, atau mengambil segelas air.
Namun, bagaimana dengan mereka yang tinggal di sana?
Bagaimana dengan anak-anak yang bertanya mengapa siang berubah seperti senja?
Bagaimana dengan ibu hamil, lansia, bayi, penderita asma, pekerja jalanan, pengemudi, dan keluarga yang tidak mempunyai alat penyaring udara
Bagaimana dengan petugas yang telah berjam-jam berdiri dekat panas api—membawa selang, memukul bara, menyusuri lahan gambut, lalu menemukan bahwa api yang tampak padam ternyata masih hidup di bawah permukaan?
Kementerian Kehutanan melaporkan bahwa hingga 18 September pukul 21.05 WIB terdapat 546 hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi secara nasional. Kalimantan Tengah mencatat 166 titik, meningkat dari 61 titik sehari sebelumnya dan menjadi jumlah tertinggi di antara enam provinsi prioritas. Pemerintah memperkuat patroli, pemeriksaan lapangan, pemadaman, pembasahan, dan pendinginan; sebanyak 55 armada udara juga dikerahkan di wilayah Sumatra dan Kalimantan. (Kementerian Kehutanan RI)
Namun, perlu dipahami bahwa satu hotspot tidak otomatis sama dengan satu kebakaran. Titik panas merupakan indikasi anomali suhu permukaan dari pemantauan satelit dan tetap perlu diverifikasi di lapangan. Satu kebakaran juga dapat terdeteksi sebagai beberapa titik panas. (Kementerian Kehutanan RI)
Angka perlu dijelaskan dengan jernih. Tetapi di balik setiap angka, ada manusia yang sedang berjaga.
Untuk mereka yang berjalan menuju api
Ada petugas yang berangkat ketika orang lain menjauh.
Ada relawan yang mengenakan pakaian lapangan meskipun udara sendiri terasa menyakitkan.
Ada anggota Manggala Agni, BPBD, TNI, Polri, BNPB, petugas kesehatan, aparat daerah, masyarakat, dan relawan yang bekerja dalam panas, asap, serta jarak pandang yang berubah-ubah.
Bahkan telah muncul kabar duka tentang relawan pemadam yang meninggal setelah terlibat dalam perjuangan menghadapi karhutla di Kalimantan Tengah. Laporan tersebut mengingatkan kita bahwa di balik istilah “penanganan karhutla” terdapat tubuh manusia yang dapat kelelahan, sakit, terluka, bahkan tidak kembali pulang. (#info from ANTARA News dan Teras Kalteng)
Untuk mereka, izinkan kami menundukkan kepala.
Bukan karena kami kehabisan kepedulian, tetapi karena terkadang penghormatan paling jujur dimulai dari diam.
Sajak untuk langit yang terbakar
Kalimantan, apakah hari ini burung-burung masih mengetahui arah pulang?
Sebab langitmu telah berubah warna,
dan matahari yang biasanya menunjukkan jalan
kini menggantung seperti lampu redup
di balik tirai asap yang panjang.
Di tanahmu,
api tidak selalu berteriak.
Ia dapat berjalan diam-diam
di bawah gambut,
menyimpan panas pada akar,
menunggu angin,
lalu kembali muncul
ketika manusia mengira semuanya telah selesai.
Di rumah-rumah,
ibu menutup celah jendela
tetapi kecemasan masih dapat masuk.
Ayah pulang membawa aroma asap
yang menempel pada pakaian.
Anak-anak memandang halaman
yang dahulu menjadi tempat berlari,
lalu bertanya:
“Mengapa kita tidak boleh bermain hari ini?”
Apa jawaban yang cukup sederhana
untuk menjelaskan bahwa udara,
sesuatu yang seharusnya diberikan Tuhan
tanpa perlu dibeli,
sedang tidak aman untuk dihirup?
Kita yang melihat saja lelah.
Lelah melihat warna jingga
yang seharusnya indah ketika menjadi senja,
tetapi menakutkan ketika berasal dari kebakaran.
Lelah melihat pohon berdiri seperti bayangan.
Lelah melihat petugas mengangkat selang
dengan mata merah dan tubuh yang belum sempat beristirahat.
Apalagi mereka yang menjalaninya.
Apalagi mereka yang berhari-hari
tidak dapat membuka jendela.
Apalagi mereka yang tidur
dengan pakaian lapangan masih melekat.
Apalagi keluarga yang menunggu seseorang pulang,
kemudian menerima kabar
bahwa perjuangannya telah selesai
dengan cara yang paling menyakitkan.
Untuk petugas yang gugur,
semoga setiap langkah menuju api
dicatat sebagai bukti keberanian.
Semoga setiap tetes keringat
menjadi kesaksian bahwa pernah ada manusia
yang memilih melindungi kehidupan orang lain
meskipun keselamatannya sendiri berada dalam bahaya.
Untuk keluarga yang ditinggalkan,
tidak ada kalimat yang dapat menggantikan kehadiran.
Namun, semoga kalian mengetahui
bahwa pengabdian mereka tidak seharusnya
hilang bersama berita yang tenggelam
oleh kabar baru esok pagi.
Nama mereka mungkin tidak selalu menjadi tajuk utama,
tetapi napas yang masih dimiliki masyarakat hari ini
sebagian dijaga oleh keberanian mereka kemarin.
Udara tidak mengenal pagar rumah
Karhutla bukan hanya persoalan lahan yang terbakar. Asap dapat bergerak mengikuti angin, melintasi kabupaten dan provinsi, memengaruhi kesehatan, pendidikan, transportasi, aktivitas ekonomi, serta kehidupan satwa.
Kementerian Kehutanan menyatakan kualitas udara di sejumlah kawasan Sumatra dan Kalimantan berada pada tingkat tidak sehat hingga sangat tidak sehat, bahkan berbahaya pada bagian tertentu. Masyarakat diminta mengikuti informasi kualitas udara, mengurangi aktivitas luar ruangan ketika kondisi memburuk, serta menggunakan masker jika harus keluar. Perhatian khusus perlu diberikan kepada anak-anak, ibu hamil, lansia, dan penderita penyakit pernapasan atau penyakit kronis. (Kementerian Kehutanan RI)
Jika asap sedang pekat:
- Kurangi aktivitas di luar rumah dan tutup pintu serta jendela.
- Gunakan masker yang mampu menyaring partikel halus ketika harus keluar.
- Hindari olahraga berat di luar ruangan.
- Pastikan anak-anak, ibu hamil, lansia, dan penderita gangguan pernapasan mendapatkan perlindungan tambahan.
- Minum cukup air dan segera mencari pertolongan medis apabila muncul sesak, nyeri dada, kebingungan, atau kondisi memburuk.
- Ikuti informasi resmi pemerintah daerah, BMKG, BNPB, BPBD, Kementerian Kehutanan, dan dinas kesehatan.
- Laporkan titik api atau aktivitas pembakaran kepada petugas; jangan mendekati lokasi kebakaran sendirian.
Laporan mengenai asap, titik api, aktivitas pembakaran, atau satwa terdampak dapat disampaikan kepada Posko Karhutla Kementerian Kehutanan melalui 021-5704618, WhatsApp +62 813-1003-5000, atau posko.karhutla@kehutanan.go.id. (Kementerian Kehutanan RI)
Empati harus bergerak menjadi tindakan
Kita boleh merasa sedih. Kita boleh menangis melihat langit yang berubah merah dan kuning kelabu. Namun, empati seharusnya tidak berhenti sebagai unggahan.
Empati berarti tidak membakar lahan. Tidak membuang puntung sembarangan. Tidak menghalangi petugas. Tidak menyebarkan angka korban sebelum terverifikasi. Tidak menjadikan bencana sebagai konten sensasional. Membantu kelompok rentan. Menyampaikan informasi keselamatan. Dan menuntut pencegahan serta penegakan hukum secara konsisten tanpa mengabaikan kerja keras mereka yang sudah berada di lapangan.
Sedikit satire yang pahit: manusia dapat mengirim satelit untuk menemukan titik panas dari angkasa, tetapi masih harus belajar bahwa api kecil yang sengaja dinyalakan di tanah kering tidak pernah menandatangani perjanjian untuk tetap kecil. Pencegahan bukan pekerjaan yang menarik kamera. Namun, pencegahan selalu lebih murah daripada kehilangan hutan, kesehatan, mata pencaharian, dan nyawa.
Doa kita semua untuk Kalimantan dan Indonesia
Ya Allah, turunkanlah hujan yang membawa pertolongan, bukan bencana. Padamkan api yang terlihat maupun yang tersembunyi di bawah tanah. Bersihkan udara, lindungi paru-paru anak-anak, kuatkan masyarakat, dan selamatkan seluruh makhluk yang tidak mempunyai jalan untuk melarikan diri.
Jagalah para petugas dan relawan yang sedang bekerja. Pulangkan mereka kepada keluarganya dalam keadaan sehat. Ampunilah mereka yang telah berpulang dalam pengabdian, lapangkan tempat peristirahatan mereka, dan kuatkan keluarga yang ditinggalkan.
Semoga Kalimantan segera kembali melihat langit biru.
Semoga pepohonan kembali terlihat jelas tanpa tirai asap.
Semoga anak-anak dapat bermain tanpa masker.
Semoga petugas dapat meletakkan selang, memadamkan mesin, pulang ke rumah, membersihkan wajah, lalu tidur dengan tenang.
… dan semoga kita tidak hanya mengingat hutan ketika ia terbakar. Aaamiin….
“Jika kita yang melihat saja merasa lelah, bayangkan mereka yang harus hidup, bernapas, bekerja, dan kehilangan orang tercinta di dalam asap. Jangan biarkan empati kita ikut menguap setelah langit kembali biru.”
Semoga segera pulih, Kalimantan. Semoga segera sembuh, Indonesiaku.
Sumber dan bacaan lanjut:
• Kementerian Kehutanan RI—Hotspot Sumsel Turun, Pengendalian Kalteng Diperkuat, 19 September 2026
• Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah—Informasi penanganan karhutla
• ANTARA—Penghormatan kepada petugas pemadam yang gugur dalam penanganan karhutla
• dokumentasi visual dan kesaksian warga Kalimantan Tengah, 19 September 2026.
