5 Prinsip Kebahagiaan yang Teruji Ilmu dan Waktu


Oleh Kak Sarah Denmark (*Sri Yusriani) & Prof. *Bendoud Nadif Morocco
(Inspired by Our Contemporary Psychological #socialscience Research)
Dear Forkompromi Readers, Dalam lanskap digital yang bising dan terus bergerak, manusia modern dibanjiri berlapis-lapis nasihat:
"Perbaiki mindsetmu."
"Ulangi kebiasaanmu."
"Jadilah versi terbaik dirimu."
Beberapa nasihat mungkin menenangkan; sebagian membingungkan; banyak yang justru melelahkan.
Di tengah keramaian dan simpang siur notifikasi akun sosial mediamu, para peneliti psikologi positif dan pakar kesehatan mental sesungguhnya sepakat pada lima prinsip dasar, prinsip yang telah diuji oleh ilmu, praktik, dan pengalaman hidup manusia dari masa ke masa.
Hal paling menarik, prinsip-prinsip ini bukan teori rumit, bukan “tantangan 7 hari”, bukan pula formula instan.
Ini adalah kearifan psikologis yang sederhana, namun mendalam; cocok bagi siapa pun yang ingin membangun hidup yang lebih lapang, stabil, dan terasa “pulang” bagi dirinya sendiri.
Yok, kita praketk, dan BAHAGIA!
🌱 1. Mengenali Nilai Diri & Menggunakan Suara dengan Jujur
Kita selalu merasakan “tarikan dalam batin” ketika hidup menjauh dari nilai yang kita yakini.
Nilai diri~ apakah itu kebebasan, stabilitas, keindahan, ilmu, kebermanfaatan, menjadi kompas emosional yang menentukan rasa tenteram kita.
Julie Radlauer-Doerfler berkata:
“Kata-kata kita membentuk dunia di sekitar kita dan dunia di dalam diri kita.”
Sementara dalam riset-risetnya, Kak Sarah menambahkan:
“Hidup yang selaras adalah hidup yang jujur kepada nurani. Kita lebih kuat ketika kita tidak mengkhianati nilai diri sendiri.”
Kejujuran, keberanian untuk berkata “ya” atau “tidak”, dan komunikasi yang lembut namun tegas adalah fondasi ketenangan batin.
Hidup Bahagia BUKAN tanpa problema, melainkan mengenali dengan problema itu “bakalan tambah bagus”, atau ‘memburukkah’, nilai diri?! dan ini perlu jujur di hati. Suara hati yang tidak diimplementasikan oleh raga akan menggerogoti jiwa, menjadi penyakit-penyakit dan bencana, naudzubillahiminzaliik…
Prof. Nadif menguatkan:
"Kata, pikiran, dan tindakan mesti sejalan. Ketika ketiganya lurus, batin menemukan rumahnya.”
Kalau ada di antara para akademisi yang di depan mahasiswa dan rekan sejawat ‘berperilaku manis santun’, namun di belakang hal kinerja ternyata bersikap keji atau zalim dengan Masyarakat atau dengan Kumpulan rekan lainnya, maka ‘dimana letak nilai’? Kalau di antara rekan-rekan peneliti yang notabene sudah level Pascasarjana, ternyata di depan Masyarakat dan bawahannya begitu memiliki etika tinggi dan tampil citra diri positif, lalu di belakang layar memiliki akun sosial media ‘fake account’ dengan gemar mengunjungi situs-situs illegal, join klub p0rn dan penyaluran hasrat mengomentari dengan bahasa-bahasa kotor, maka berikanlah refleksi diri. Apakah hal itu sejalan dengan nilai diri, sebab ketiadaan manusia lain di depan kita, bukan berarti tiada pengawasan. Hakikatnya kita diawasi 24 jam oleh Superpower bernama Tuhan Nan Maha Kuasa. Agree?
✨ Catatan Integritas
Dalam dunia keilmuan dan profesional, integritas bukan saja dihitung dari apa yang tampak di depan publik, tetapi juga apa yang kita lakukan saat tidak ada yang melihat.
Jika seorang akademisi tampil sopan di ruang kuliah namun menyimpan perilaku yang bertentangan dengan etika dasar, baik dalam pekerjaan, media sosial, maupun kehidupan pribadi, maka refleksi diri adalah keniscayaan.
Nilai tidak berhenti pada citra. Nilai hidup pada konsistensi.
Pengawasan manusia mungkin terbatas, tetapi kejujuran diri kepada Tuhan, kepada hati, dan kepada amanah ilmu adalah pengawasan yang berlangsung 24 jam.
Setiap dari kita dipanggil untuk berbenah, bukan untuk merasa sempurna.
🌿 2. Menjaga Kedamaian Batin Seperti Menjaga Sumber Daya Berharga
Dalam dunia di mana notifikasi tak pernah tidur, menjaga ketenangan batin adalah bentuk self-preservation.
Batasan (boundaries) adalah pagar lembut yang melindungi energi jiwa.
Prof. Bendoud Nadif pernah mengatakan dalam salah satu sesi perkuliahannya, filsafat kebahagiaan,
“Happiness is not the absence of noise, but the mastery of choosing what deserves to stay in your inner space.”
(Kebahagiaan bukan ketiadaan kebisingan, tetapi kemampuan memilih apa yang layak tinggal di ruang batinmu.)
Menjaga kedamaian berarti:
- Mengambil jeda digital,
- Menolak komitmen yang tidak sehat,
- Mengurangi paparan lingkungan yang menguras energi.
Kedamaian adalah investasi jangka panjang~ lebih berharga dibanding pencapaian apa pun yang bisa diukur angka.
Ia harus dirawat, bukan hanya ketika kita sedang tenang, tetapi justru terutama ketika jiwa sedang goyah.
Kedamaian itu seperti cahaya kecil di dada, yang walaupun redup, selalu siap menyala kembali. Dan kabar baiknya:
setiap hari selalu memberi kita kesempatan baru untuk merawatnya.
Kita ulangi, sematkan dalam hati: ❤️ Kedamaian adalah Investasi Jangka Panjang
🌸 3. Integritas & Kerendahan Hati: Cara Terbaik Kita Hadir di Dunia
Kebahagiaan bukan hanya soal apa yang kita rasakan; ia juga tentang siapa diri kita saat tidak ada yang melihat.
Ada keindahan batin yang hanya dimiliki oleh mereka yang berusaha memadukan kejujuran, adab, dan keterbukaan belajar dalam setiap langkahnya.
> Integritas berarti:
- Menepati janji meski tidak ada yang mengingatkan,
- Hadir saat kita berkata akan hadir,
- Tidak mengkhianati nilai diri meski dunia menawarkan jalan pintas.
Kerendahan hati membuat kita lentur, tidak keras saat diuji, dan tidak sombong saat diberi.
Ia membuka pintu belajar, pintu maaf, dan pintu kebijaksanaan.
Kak Sarah menyebutnya:
“Adab batin: perpaduan antara satunya kata dan perendahan hati.
Di sanalah kokohnya manusia bertemu dengan halusnya manusia.”
Sedangkan Prof. Bendoud Nadif mengajarkan dalam sesi perkuliahan, ada filsafat kebahagiaannya:
“Integrity is the whisper of the soul that guides us,
humility is the softness that keeps us human.”
Integritas menguatkan, kerendahan hati melembutkan.
Keduanya menjadi dasar kepercayaan, baik pada diri sendiri, pada orang lain, maupun pada kehidupan itu sendiri.
Hal yang paling indah?
Keduanya bisa dilatih, dari detik ini juga.
Tidak ada kata terlambat untuk menjadi versi diri yang lebih jujur, lebih lembut, lebih manusia, Ayo selalu semangat menuju perbaikan diri!
🤝 4. Memilih Koneksi, Bahkan Saat Rasanya Rentan
Riset menunjukkan meningkatnya rasa kesepian, terutama pada generasi muda. Ironisnya, kita hidup di masa ketika kita paling terhubung secara digital, namun sering paling jauh secara emosional.
Namun pada hakikatnya, manusia memang diciptakan untuk berkomunitas.
Ada bagian dari jiwa kita yang baru hidup ketika kita berjumpa, berbagi makanan, belajar bersama, melayani, atau sekadar duduk mendengarkan cerita seseorang.
Koneksi yang autentik memberi jenis kekuatan yang tidak bisa diberikan oleh algoritma manapun.
Seketika kita merasa:
“Aku tidak sendirian. Ada orang lain yang juga berjalan bersamaku.”
Bagi kamu yang masih mencari komunitas, passion, atau lingkungan yang pas, anggaplah itu sebagai halaman kosong yang boleh kamu isi kembali.
Tidak perlu tergesa. Tidak perlu sempurna. Mulailah dengan langkah yang paling kecil, menyapa, hadir, mendengar.
Kak Sarah sering mengingatkan mahasiswa dan rekan-rekan pembelajarnya:
“Koneksi itu bukan tentang banyaknya orang di sekitar kita,
tapi tentang satu orang yang membuat kita merasa aman untuk menjadi diri sendiri.”
Koneksi bukan soal kuantitas relasi, tetapi kedalaman keterhubungan.
Lalu, kabar terbaiknya? Kedalaman itu tumbuh dari langkah pertama yang sederhana.
Senyum. Sapaan kecil. Hadir. Cara menjaga “mood kita” dalam konsisten melakukannya?
Berpikirlah positif, senantiasa. Itulah awal dari semua hubungan yang menghangatkan hidup kita. Dengan kondisi perkembangan era digital, bahkan para scholars dan pekerja dapat terhubung setiap hari meski berada di negara atau benua berbeda. Lingkungan rekan-rekan supportive dan sama-sama berpikir positive meskipun saling mengkritisi adalah lingkungan yang amat baik untuk kita berkembang.
Ada pula tipe manusia yang dalam kesehariannya sibuk memuji materi, mengejar gengsi, dan mengajarkan pada anaknya, “Tonjoklah kecongkakan dunia, buah hatiku!”
Namun tidak ia sadari bahwa yang seharusnya ia tantang bukanlah dunia, melainkan keangkuhan dirinya sendiri.
Sebab sering kali, dunia bukan musuh yang harus dipukul~ yang perlu “ditampar” adalah kepekaan diri yang memudar, kejujuran yang ditinggalkan, dan Hati yang enggan berkaca.
Maka lebih layak jika ia berkata kepada dirinya sendiri:
“Tonjoklah keangkuhan diriku! Bukan dunia yang salah, mataku yang rabun,
dan hatiku yang pura-pura buta dari melihat sisi-sisi jiwaku yang perlu diperbaiki.”
Betapa sering seseorang lebih peduli pada impresi publik daripada kebeningan hatinya sendiri.
Padahal yang membuat hidup kokoh bukanlah tepuk tangan orang banyak, melainkan kejujuran batin yang berani mengakui kekurangan dan keberanian untuk memperbaiki diri, pelan, namun nyata.
Duuuuh…
Begitu banyak beban yang hilang ketika seseorang berhenti menghakimi dunia,
dan mulai jujur terhadap dirinya sendiri.
💪 5. Melatih Resiliensi: Keterampilan Hidup, Bukan Bawaan Lahir
Resiliensi bukan kemampuan untuk tidak jatuh, melainkan kemampuan untuk bangkit dengan pemahaman baru.
Setiap manusia diuji, tetapi tidak semua manusia memilih untuk belajar dari ujian itu. Di situlah resiliensi tumbuh, pelan, lembut, dan diam-diam menguatkan. Kita mesti senantiasa siap beradaptasi dimanapun berada.
Para ahli sepakat bahwa resiliensi berkembang ketika kita:
- Mencari makna di balik kesulitan,
- Meminta bantuan ketika diperlukan,
- Kembali mencoba dengan perspektif baru,
- Terhubung dengan sesuatu yang lebih besar dari diri sendiri, nilai, iman, keluarga, komunitas, dan cinta.
Prof. Bendoud Nadif menyebut:
“Resilience is tenderness holding hands with strength.”
(Resiliensi adalah kelembutan yang bersanding dengan kekuatan.)
Dan Kak Sarah menambahkan dari perjalanan riset dan pengalaman spiritualnya:
“Resilience adalah buah cahaya dari self-efficacy.
Ketika bersama tim kita memiliki prestasi, namun ketika sendirian, kita justru bertumbuh makin berprestasi.
Karena kita tidak menggantungkan harapan tertinggi pada siapa pun, selain kemampuan menyeimbangkan rasa takut dan berharap hanya kepada Allah SWT.”
“Jika seseorang memiliki satu prinsip ini saja~jaga self-efficacy, jaga iman, jaga daya bangkit diri ini,
maka We have everything!
That’s my tips!”
Berbahagialah Semuanya:
Hidup yang Terasa Baik Datang dari Dalam ke Luar
Kelima prinsip ini bukan aturan kaku, melainkan penunjuk arah yang lembut bagi siapa pun yang sedang merangkai hidupnya kembali.
Kita semua berhak mulai lagi; berhak memperlambat langkah; berhak membangun dari hal-hal kecil; dan berhak bersandar pada proses yang kadang lambat, namun selalu berarti.
Kebahagiaan bukanlah destinasi yang menunggu di ujung jalan.
Ia adalah ritme yang kita bangun setiap hari,
pilihan sadar untuk kembali pada diri,
dan kesetiaan kecil kepada hati yang ingin terus berkembang.
Kak Sarah menutup dengan indah:
“Bahagia adalah ketika hati kita pulang.
Ketika kita merasa utuh di tengah perjalanan yang belum selesai.”
Dan itu cukup.
Sangat cukup.
Karena hidup yang terasa baik tidak perlu sempurna, ia hanya perlu tulus.
SEMOGA yang berlum merasa bahagia, segera dilimpahkan samudera rasa Bahagia oleh Sang Maha Kuasa, semoga bermanfaat, Remember everyone is awesome! Happy learning, happy working, and Happy researching!
“Pada akhirnya, hidup adalah perjalanan pulang
Kita tersesat, lalu belajar….
Kita jatuh, lalu bangkit, bukan malah melompat ke jurang,
Kita menangis, lalu menemukan makna ‘ntuk berdiri tegar.
Di setiap persinggahan, Tuhan Nan Maha Kuasa selalu menitipkan cahya pertolongan,
meski kadang kita tak sadar, tetapi cukup untuk menuntun langkah yang letih.”
Jangan takut pada lambatnya proses.
Takutlah pada hati yang berhenti merasa.
Takutlah pada jiwa yang tidak peka.
Takutlah jika lupa memperbaiki diri saat melukai jiwa lainnya….
“Bahagia tidak selalu riuh.
Seringkali ia datang dalam bentuk tanpa disadari:
napas yang lega, hati yang jujur, dan niat yang kembali bulat. Jiwa raga utuh.”
🌸 PANTUN PENUTUP #keepoptimist
Ke pasar lama membeli mangga,
Pulang sore membawa buah tangan.
Hidup bahagia bukan soal siapa kita di mata dunia,
Melainkan siapa kita di hadapan Tuhan.
Ke taman kota memetik melati,
Harumnya tinggal sepanjang hari.
Jika kita pulang pada hati sendiri,
Di situlah kebahagiaan sejati berdiri.
Biographies:
*Sri Yusriani & Prof. *Bendoud Nadif Morocco
🧑🏫 About Professor Bendaoud Nadif (Morocco)
Prof. Bendaoud Nadif is a Professor of English and Applied Linguistics at Sultan Moulay Slimane University, Morocco. He holds a Ph.D. in Applied Linguistics from the Faculty of Arts and Humanities, Moulay Ismail University, Meknes, Morocco. He earned his BA in Linguistics (2001) and his Master’s Degree in Staff Development and Research in Higher Education (2006) from Sidi Mohamed Ben Abdellah University.
He also completed the ENS diploma in ELT, along with several certifications from the American Language Center (Fes) and the British Council (Rabat).
His extensive research interests span:
Applied linguistics, language development, cognitive psychology, sociolinguistics, cultural studies, ICT in education, professional development, AI in education, supervised learning, machine translation, computer-assisted language learning (CALL), learner autonomy, translation studies, critical thinking, critical discourse analysis, inclusive education, wellbeing in learning, and digital literacy.
He has published numerous scientific articles on effective language learning, self-efficacy, writing development, gender issues, learner-centeredness, and learning sciences.
🔍 Recent Research Direction
In his latest international research projects, Prof. Nadif explores cross-country perceptions of happiness (perceived happiness) in relation to education systems, culture, multilingual identity, and digital transformation. His comparative studies aim to understand how students’ emotional wellbeing and educational expectations differ across social and geographical contexts, particularly in the era of AI and global mobility.
ORCID: https://orcid.org/0000-0001-6278-1808
Google Scholar: https://scholar.google.com/citations?hl=en&user=ZSgYm2kAAAAJ
ResearchGate: https://www.researchgate.net/profile/Bendaoud-Nadif-3
👩🏫 About Dr. (Cand.) Sri Yusriani Syamsuri (Miss Sarah, Denmark–Indonesia)
Sri Yusriani Syamsuri (Miss Sarah) is a global HRM practitioner turned researcher and lecturer. She is currently pursuing her Ph.D. in Business Management at the Graduate School of Business, Universiti Sains Malaysia (USM), specializing in Global Strategic Organizational Behavior with a focus on HRM, learning sciences, and cross-cultural psychology.
With 10+ years of professional experience, live in Denmark #happyworking across international HRM and supply chain operations, notably with FK Distribution and the International Committee of the Red Cross (ICRC), she integrates global workplace perspectives into her academic work.
A lifelong learner passionate about reading, writing, and mentoring, she lives by the motto:
“Everyone is awesome, Happy working, happy learning, happy researching.”
As a lecturer at the Faculty of Economics and Business (FEB), Universitas Terbuka (UT), she teaches Communication Science, Operations Research, and Human Resource Management, embedding practical insights into digital learning environments.
She is also the founding leader of FORKOMPROMI MM-UT #unggul, an academic alumni forum promoting interdisciplinary collaboration and student empowerment.
🏆 Academic Achievements & Global Engagements
- Best Paper Award – ISEAES Journal Writing Competition, UIN Banten (June 2025)
- Best Presenter & Best Research Papers at IEOM Tokyo & Dubai, ICE-BEST Seoul, ISBEST, ISC-BEAM UNJ 2024, ICHESMET Malaysia, SCBTII, and others
- Representative in the WESEP Erasmus+ Program (Luxembourg, 2024–2025), focusing on women’s leadership & resilience
- EU Erasmus+ Training Awardee (Sept 2024–Mar 2025)
- Global FoC 2025 Awardee – Shizenkan–IESE Tokyo–Barcelona (Jan–Apr 2025)
🔍 Current Research Focus
Kak Sarah’s ongoing doctoral and international research projects examine:
- Creativity among postgraduate students in the digital era
- Artificial Intelligence adoption for entrepreneurial development
- Perceived Stress and its psychological antecedents
- Perceived Happiness as a driver of wellbeing and innovation
- Cross-cultural dynamics of self-efficacy, resilience, and digital learning engagement
Her work sits at the intersection of HRM, psychology, AI, and sustainable entrepreneurship, blending quantitative and qualitative approaches.
ORCID: https://orcid.org/0009-0000-8576-1949
Google Scholar: https://scholar.google.com/citations?user=G3bp0L8AAAAJ&hl=en
ResearchGate: https://www.researchgate.net/profile/Sri-Yusriani
